Zakat Mal merupakan salah satu dari empat rukun Islam yang wajib dikeluarkan oleh orang-orang yang memenuhi syarat. Zakat ini berupa pembayaran wajib berdasarkan jumlah harta yang dimiliki seseorang. Dalam dunia keuangan, Zakat Mal seringkali menjadi topik yang menarik karena berhubungan langsung dengan pengelolaan kekayaan dan kewajiban religius. Bagi banyak orang, menghitung zakat bisa terasa rumit, terutama jika belum memahami prinsip-prinsip dasar dan cara perhitungannya. Artikel ini bertujuan untuk memberikan contoh penghitungan zakat mal yang sederhana dan praktis, sehingga memudahkan para pembaca untuk memahami serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Apa Itu Zakat Mal? Zakat Mal, atau zakat atas harta benda, adalah kewajiban ibadah yang dikenakan kepada individu yang memiliki harta yang mencapai nisab dan telah berada dalam masa kepemilikan selama satu tahun. Zakat ini bertujuan untuk membantu orang yang membutuhkan dan mendorong keadilan sosial dalam masyarakat. Berbeda dengan zakat fitrah yang dikeluarkan saat hari raya, Zakat Mal dapat dikeluarkan setiap tahun jika kondisi harta memenuhi syarat. Pengertian Zakat Mal Zakat Mal dikenal sebagai sistem pembagian kekayaan yang berdasarkan prinsip kepastian syarat dan kemampuan memenuhi kewajiban. Menurut syariat Islam, harta yang bisa dikenai Zakat Mal mencakup uang tunai, emas, perak, harta bergerak seperti rumah, harta tidak bergerak seperti tanah, serta modal usaha. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum seseorang wajib membayar Zakat Mal. Nisab adalah batas minimal jumlah harta yang wajib dikeluarkan zakat. Untuk emas dan perak, nisab ditetapkan berdasarkan jumlah tertentu yang dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu, untuk harta yang berupa uang, nisab dihitung berdasarkan nilai emas atau perak yang setara pada saat tertentu. Selain itu, harta tersebut harus dipelihara selama satu tahun agar zakat menjadi wajib. Perbedaan Zakat Mal dengan Zakat Fitrah Meski keduanya termasuk dalam zakat, Zakat Mal dan Zakat Fitrah memiliki perbedaan mendasar. Zakat Fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok dan wajib dibayarkan saat Idul Fitri atau Idul Adha. Sebaliknya, Zakat Mal dikeluarkan dalam bentuk uang dan diberikan kapan saja selama masa kepemilikan harta memenuhi syarat. Perbedaan ini penting untuk dipahami agar tidak terjadi kebingungan dalam pembayaran zakat. Pentingnya Zakat Mal dalam Ekonomi Zakat Mal tidak hanya memiliki manfaat spiritual tetapi juga manfaat ekonomi. Dengan mengeluarkan sebagian kekayaan, individu berkontribusi pada pembangunan ekonomi masyarakat. Zakat juga menjadi alat redistribusi kekayaan yang membantu mengurangi ketimpangan sosial. Dalam konteks ini, contoh penghitungan zakat mal menjadi penting agar masyarakat bisa mengatur pengeluaran zakat secara transparan dan terukur. Prinsip Dasar Zakat Mal Untuk menghitung Zakat Mal secara benar, diperlukan pemahaman tentang prinsip dasar yang menjadi dasar perhitungannya. Prinsip ini mencakup nisab, hukum perhitungan, dan waktu pembayaran. Ketiga prinsip ini saling terkait dan menjadi pilar utama dalam menentukan kewajiban zakat. Nisab dan Jenis Harta yang Dikenai Zakat Mal Selain emas dan perak, harta berupa uang seperti tabungan, investasi, atau modal usaha juga bisa dikenai Zakat Mal. Untuk harta ini, nisab dihitung berdasarkan nilai emas yang setara pada saat tertentu. Misalnya, jika nilai emas adalah Rp 30 juta, maka harta uang yang mencapai atau melebihi jumlah tersebut wajib dikeluarkan zakat. Hukum Perhitungan Zakat Mal Zakat Mal diperhitungkan dengan kadar 2,5% dari harta yang mencapai nisab. Kadar ini merupakan satu dari lima bagian dari harta yang dikeluarkan. Jadi, rumus dasar untuk menghitung zakat adalah: Zakat Mal = 2,5% × Harta yang Dikenai Zakat Rumus ini berlaku jika harta tidak berubah dalam bentuk fisik (misalnya, uang atau barang yang bisa dijual). Jika harta dalam bentuk fisik, kadar zakat dihitung berdasarkan bobot emas. Misalnya, jika seseorang memiliki 20 gram emas, zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5% × 20 gram = 0,5 gram emas. Waktu Pembayaran Zakat Mal Zakat Mal dapat dikeluarkan kapan saja setelah harta mencapai nisab selama satu tahun. Jadi, jika seseorang memperoleh harta di awal tahun, maka zakat hanya dikeluarkan saat harta mencapai nisab dan telah berada dalam kepemilikan selama satu tahun. Jika harta terus bertambah setelah mencapai nisab, maka zakat dapat dikeluarkan setiap kali harta mencapai nisab. Cara Menghitung Zakat Mal Setelah memahami prinsip dasar, langkah berikutnya adalah cara menghitung zakat mal secara sederhana. Berikut adalah langkah-langkah perhitungan yang bisa diterapkan oleh siapa saja. Menentukan Harta yang Dikenai Zakat Mal Pertama, hitung total harta yang dimiliki seseorang. Harta ini mencakup uang tunai, tabungan, investasi, modal usaha, emas, perak, dan harta bergerak atau tidak bergerak. Selanjutnya, cari nilai nisab untuk harta tersebut. Jika harta berupa uang, cari nilai nisab dalam rupiah berdasarkan harga emas saat ini. Untuk harta berupa emas atau perak, cukup menghitung jumlah fisik. Jika harta dalam bentuk uang, cari nilai yang setara dengan nisab emas. Misalnya, jika harga emas 1 gram adalah Rp 1.000.000, maka nisab uang adalah Rp 30 juta. Jika harta yang dimiliki melebihi nilai ini, maka zakat mulai diperhitungkan. Menghitung Kadar Zakat Mal Setelah mengetahui harta yang dikenai zakat, kadar 2,5% diterapkan. Kadar ini bisa dihitung dengan rumus sederhana: Zakat Mal = 2,5% × Harta yang Dikenai Zakat Contoh: Jika seseorang memiliki tabungan sebesar Rp 50 juta, maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5% × 50.000.000 = Rp 1.250.000. Jumlah ini menjadi jumlah minimal yang harus disumbangkan. Menghitung Zakat Mal Berdasarkan Waktu Kepemilikan Waktu kepemilikan juga menjadi faktor penting dalam perhitungan Zakat Mal. Jika harta diperoleh dalam satu tahun, maka zakat diperhitungkan penuh. Namun, jika harta diperoleh dalam waktu kurang dari satu tahun, maka zakat dihitung sebagian. Misalnya, jika seseorang memiliki harta sebesar Rp 20 juta yang diperoleh 6 bulan lalu, maka zakat yang diperhitungkan adalah 0,5 tahun. Jadi, zakat Mal = 2,5% × 20.000.000 × 0,5 = Rp 250.000. Kadar ini tidak diperhitungkan seluruhnya karena waktu kepemilikan belum mencapai satu tahun penuh. Contoh Penghitungan Zakat Mal dalam Praktik Untuk memudahkan pemahaman, contoh penghitungan zakat mal bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang memiliki tabungan sebesar Rp 30 juta. Karena nilai nisab uang adalah Rp 30 juta, maka zakat wajib dikeluarkan penuh. Jumlah zakat adalah 2,5% × 30.000.000 = Rp 750.000. Jika seseorang memiliki emas 20 gram, dan nilai emas 1 gram adalah Rp 1.000.000, maka total harta emas adalah Rp 20 juta. Jumlah ini mencapai nisab, sehingga zakat Mal = 2,5% × 20.000.000 = Rp 500.000. Dalam kasus ini, zakat Mal diperhitungkan
Cara Mengatasi Kesalahan Zakat yang Sering Terjadi
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam distribusi kekayaan dan pemberdayaan masyarakat. Namun, banyak orang masih sering mengalami kesalahan dalam memenuhi kewajiban zakat, baik karena kurangnya pemahaman tentang aturan, kelalaian, maupun kebingungan dalam penghitungan. Kesalahan zakat bisa terjadi di berbagai aspek, mulai dari nisab, waktu pembayaran, hingga penerima zakat. Jika tidak diperbaiki, hal ini dapat mengurangi manfaat zakat sebagai sarana keadilan sosial. Oleh karena itu, cara mengatasi kesalahan zakat menjadi penting untuk memastikan setiap pembayaran zakat valid dan sesuai dengan prinsip Islam. Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai kesalahan zakat yang umum terjadi, serta langkah-langkah untuk mengatasinya secara efektif. Kesalahan dalam Perhitungan Nisab Zakat Apa itu Nisab Zakat? Nisab adalah batas minimal harta yang wajib dikeluarkan zakat. Menurut aturan zakat, nisab ditentukan berdasarkan nilai emas atau perak yang menjadi dasar penghitungan. Dalam syariat Islam, nisab untuk zakat emas adalah 85,000 gram, sementara untuk perak adalah 590,000 gram. Namun, nilai ini dapat berubah tergantung pada harga emas dan perak di pasar saat ini. Kesalahan Umum dalam Menentukan Nisab Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ketidakpahaman tentang nisab zakat. Banyak orang memperkirakan nisab berdasarkan harga emas atau perak pada tahun lalu, padahal nilai tersebut bisa berfluktuasi. Contohnya, jika harga emas naik tajam karena inflasi atau permintaan global, nisab akan meningkat. Jika seseorang tidak memperbarui pengetahuannya, mereka mungkin membayar zakat dengan jumlah yang kurang dari nisab, sehingga zakat tidak sah. Cara Mengatasi Kesalahan Zakat dalam Nisab Untuk mengatasi kesalahan ini, langkah pertama adalah memahami nisab zakat secara akurat. Pastikan untuk memantau harga emas dan perak secara berkala, terutama pada awal bulan Ramadan atau awal tahun, karena itu adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi kekayaan. Selain itu, gunakan kriteria kekayaan yang diterapkan oleh lembaga zakat terpercaya sebagai acuan. Jika harta berupa uang, tingkatkan penghitungan berdasarkan nilai emas, karena uang yang dimiliki wajib dikeluarkan zakat jika mencapai atau melebihi nisab. Peran Uang dalam Nisab Zakat Beberapa orang menganggap bahwa harta berupa uang tidak perlu dikeluarkan zakat, padahal uang yang dimiliki bisa menjadi dasar penghitungan. Cara mengatasi kesalahan zakat adalah dengan menghitung uang berdasarkan nilai emas. Misalnya, jika seseorang memiliki uang sebesar Rp 150 juta, dan nilai emas saat ini Rp 1 juta per gram, maka harta tersebut sudah mencapai nisab. Jika tidak memperhatikan hal ini, zakat bisa terlewat. Kesalahan dalam Waktu Pembayaran Zakat Kapan Waktu Zakat Dibayar? Zakat memiliki waktu pembayaran yang spesifik. Umumnya, zakat emas dan perak wajib dibayar setiap tahun, sedangkan zakat pertanian (fitrah) dibayar saat Idul Fitri, dan zakat perdagangan (mal) dibayar setelah memperoleh keuntungan. Jika seseorang tidak memperhatikan waktu yang tepat, mereka bisa mengalami kesalahan zakat. Kesalahan Umum dalam Menentukan Waktu Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pembayaran zakat di luar waktu yang ditentukan. Misalnya, membayar zakat pertanian di bulan puasa atau zakat emas di akhir tahun, padahal waktu yang benar adalah setelah memenuhi syarat nisab dan waktu tertentu. Kesalahan ini bisa menyebabkan zakat tidak sah karena dibayar di waktu yang tidak tepat. Cara Mengatasi Kesalahan Zakat dalam Waktu Untuk menghindari kesalahan ini, penting untuk mengenal waktu pembayaran zakat secara jelas. Gunakan kalender agama atau alat bantuan digital untuk mengetahui kapan wajib membayar zakat. Jika tidak yakin, konsultasikan dengan ulama atau lembaga zakat. Selain itu, jangan menunda pembayaran zakat hingga mendekati bulan Ramadan atau Hari Raya, karena waktu yang tepat adalah saat harta mencapai nisab dan memasuki waktu tertentu. Contoh Praktis dalam Waktu Pembayaran Misalnya, seseorang memiliki modal usaha yang mencapai nisab. Jika keuntungan diperoleh setiap bulan, maka zakat wajib dibayar setiap bulan atau setiap tahun, tergantung pada jenis zakat. Cara mengatasi kesalahan zakat adalah dengan menentukan jadwal pembayaran secara rutin dan konsisten, serta mencatat setiap transaksi harta yang dikelola. Kesalahan dalam Penentuan Fakir Miskin Zakat Siapa yang Berhak Menerima Zakat? Zakat dikeluarkan kepada fakir miskin, yang merupakan salah satu dari delapan kategori penerima zakat. Fakir adalah orang yang tidak memiliki harta untuk kebutuhan hidup, sementara miskin adalah orang yang hanya memiliki harta di bawah nisab. Jika seseorang tidak memahami perbedaan antara keduanya, mereka bisa mengalami kesalahan zakat. Kesalahan Umum dalam Menentukan Fakir Miskin Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memperkirakan siapa saja yang berhak menerima zakat. Misalnya, memberikan zakat kepada orang yang memiliki harta tetapi belum mencapai nisab, atau memberikan zakat kepada keluarga yang mampu. Hal ini bisa mengurangi efektivitas zakat sebagai bentuk keadilan sosial. Cara Mengatasi Kesalahan Zakat dalam Fakir Miskin Untuk mengatasi kesalahan ini, cara mengatasi kesalahan zakat adalah dengan mengenal kriteria fakir miskin secara tepat. Pastikan penerima zakat benar-benar membutuhkan bantuan, seperti mereka yang tidak memiliki tempat tinggal, makanan, atau kebutuhan dasar. Selain itu, perhatikan prinsip syariat dalam memilih penerima zakat, agar zakat dapat dikategorikan sebagai fakir miskin yang sah. Pentingnya Kejujuran dalam Penyaluran Zakat Kejujuran dalam penyaluran zakat adalah kunci. Jika penerima zakat tidak memenuhi syarat, maka zakat bisa dikategorikan sebagai kesalahan zakat. Untuk menghindari ini, lakukan audit terhadap penerima zakat secara berkala, serta pastikan bahwa zakat diberikan kepada yang benar-benar membutuhkan. Kesalahan dalam Penggunaan Nama Zakat Mengapa Nama Zakat Penting? Zakat memiliki nama zakat yang spesifik sesuai dengan jenis harta yang dikeluarkan. Misalnya, zakat emas, zakat perak, zakat pertanian, dan zakat perdagangan. Jika seseorang tidak menggunakan nama zakat yang tepat, maka zakat tersebut bisa dianggap tidak sah. Kesalahan Umum dalam Menggunakan Nama Zakat Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap semua zakat memiliki nama yang sama. Contohnya, mengeluarkan zakat untuk harta berupa uang sebagai zakat emas, padahal uang bisa menjadi zakat mal atau fitrah. Kesalahan ini bisa mengakibatkan zakat tidak diterima oleh penerima yang seharusnya. Cara Mengatasi Kesalahan Zakat dalam Nama Untuk mengatasi kesalahan ini, cara mengatasi kesalahan zakat adalah dengan memahami jenis zakat berdasarkan harta yang dikeluarkan. Setiap jenis harta memiliki nama zakat yang berbeda. Misalnya, zakat emas dan perak dibayar setiap tahun, sedangkan zakat pertanian dibayar setelah panen. Pastikan untuk memilih nama zakat yang sesuai dengan jenis harta yang dimiliki. Contoh Kategori Zakat yang Sering Disalahpahami Beberapa orang memperkirakan zakat pertanian sebagai zakat emas, padahal zakat pertanian adalah zakat yang wajib dikeluarkan dari hasil pertanian seperti padi, gandum, atau buah-buahan. Sementara itu, zakat
Penjelasan Zakat vs Infaq: Perbedaan yang Perlu Diketahui
Zakat dan infaq adalah dua bentuk wajib dan sukarela dalam agama Islam yang berperan penting dalam distribusi kekayaan untuk kepentingan sosial. Meski keduanya bertujuan sama, yaitu membantu orang yang membutuhkan dan memperkuat ekonomi masyarakat, perbedaan zakat vs infaq tetap menjadi hal yang perlu dipahami oleh setiap umat Muslim. Dalam artikel ini, kita akan membahas perbedaan zakat vs infaq secara mendalam, mulai dari definisi, syarat, jenis, hingga manfaatnya. Dengan memahami perbedaan ini, individu dapat memenuhi kewajiban agama secara tepat dan memanfaatkan kegiatan sosial secara optimal. Pengertian Zakat dan Infaq Zakat dan infaq merupakan bentuk pembayaran zakat vs infaq yang dilakukan oleh umat Islam sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Meski kedua istilah ini sering dikaitkan, mereka memiliki peran yang berbeda dalam konteks religius dan sosial. Zakat: Wajib bagi yang Mampu Zakat adalah kewajiban agama yang diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki kekayaan tertentu dan memenuhi syarat tertentu. Zakat dibayarkan secara rutin, biasanya setiap tahun, dan memiliki aturan yang jelas dalam Al-Qur'an dan Hadis. Misalnya, dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah (2:267), Allah berfirman, “Dan zakat itu hanya untuk orang-orang miskin, fakir, orang yang memikul beban zakat, dan orang yang terjebak dalam perjalanan, serta untuk mempersembahkan kepada orang-orang yang memperdulikan, dan kepada para hamba Allah, dan untuk memanfaatkan (bantuan) bagi mencari kebenaran dan untuk menggandakan (hasil) zakat itu.” Zakat tidak hanya berupa uang, tetapi juga dapat berbentuk beras, emas, perak, atau barang berharga lainnya. Syarat dan kriteria zakat berbeda dengan infaq, yang akan dibahas lebih lanjut. Infaq: Sukarela untuk Kepentingan Sosial Sebaliknya, infaq adalah kegiatan amal yang sukarela. Infaq tidak memiliki batas waktu atau jumlah yang pasti, sehingga bisa dilakukan kapan saja dan dalam jumlah sesuai kemampuan. Infaq lebih fleksibel dalam penerapannya, karena bisa berupa donasi uang, barang, atau jasa. Dalam Hadis, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Berikanlah infaq, sebelum kalian terkena kebutuhan.” Hal ini menunjukkan bahwa infaq adalah bentuk kesadaran pribadi dalam berbagi kebaikan. Perbedaan Zakat vs Infaq: Syarat dan Kriteria Syarat Zakat vs Infaq 1. Niat Zakat harus dilakukan dengan niat yang tulus untuk memenuhi kewajiban agama. Niat ini menjadi dasar bagi penghitungan dan pengelolaan zakat. 2. Harta yang Mencapai Nisab Zakat hanya dikeluarkan jika harta yang dimiliki mencapai nisab, yaitu batas minimum kekayaan yang ditentukan dalam syariat Islam. Nisab biasanya dihitung berdasarkan beras (18 kg) atau emas (85 gram), tergantung jenis zakat yang dikeluarkan. 3. Waktu yang Tepat Zakat harus dibayar setiap tahun sekali, setelah harta mencapai nisab selama satu tahun. Jika harta berada dalam kondisi tidak bergerak (seperti barang yang tidak terjual), waktu pembayaran bisa lebih lama. Sebaliknya, infaq tidak memiliki syarat khusus seperti zakat. Infaq bisa diberikan kapan saja, tanpa mempertimbangkan waktu atau jumlah harta yang dimiliki. Kriteria Zakat vs Infaq Zakat dibayarkan berdasarkan jenis harta dan penggunaannya yang terstruktur. Contoh jenis zakat antara lain: – Zakat mal: untuk harta yang dihimpun dalam waktu tertentu (seperti emas, perak, dan uang). – Zakat fitrah: dikeluarkan pada bulan Ramadan dan berupa beras atau makanan pokok. – Zakat perniagaan: untuk harta yang diperoleh dari usaha atau perdagangan. Sementara itu, infaq tidak dibatasi oleh jenis harta atau waktu. Infaq bisa diberikan secara spontan untuk keperluan sosial, seperti membantu korban bencana, pendidikan, atau kesehatan. Perbedaan Zakat vs Infaq: Jenis dan Besaran Jenis Zakat vs Infaq Zakat memiliki jenis yang ditentukan oleh syariat Islam, seperti: – Zakat mal: dikeluarkan dari harta yang dihimpun selama satu tahun dan mencapai nisab. – Zakat fitrah: diberikan setiap bulan Ramadan dan berupa beras atau makanan pokok. – Zakat perniagaan: diberikan dari hasil usaha atau keuntungan bisnis. Jenis zakat ini memiliki aturan khusus, seperti jumlah yang diperhitungkan berdasarkan jenis harta dan jumlah penduduk. Sebaliknya, infaq bisa berupa berbagai bentuk, seperti: – Infaq uang: diberikan dalam bentuk uang tunai atau kredit. – Infaq barang: berupa barang-barang yang tidak terpakai, seperti pakaian, alat elektronik, atau kendaraan. – Infaq jasa: seperti bantuan kerja atau pengajaran. Infaq lebih fleksibel karena bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat atau tujuan amal. Besaran Zakat vs Infaq Zakat memiliki besaran yang terukur dan dihitung secara pasti. Misalnya: – Zakat mal dihitung 2,5% dari harta yang terkumpul. – Zakat fitrah biasanya 1,5 kg beras per orang. – Zakat perniagaan dihitung 2,5% dari keuntungan usaha. Besaran zakat berdasarkan jenis harta dan jumlah yang dimiliki, sehingga memiliki standar objektif. Sementara itu, infaq tidak memiliki besaran tetap. Infaq bisa diberikan dalam jumlah yang bervariasi, tergantung pada kemampuan pemberi. Misalnya, seseorang bisa memberikan Rp100.000 atau Rp1.000.000 per bulan, tergantung pada kondisi finansial. Perbedaan Zakat vs Infaq: Tujuan dan Manfaat Tujuan Zakat vs Infaq Zakat memiliki tujuan utama untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ekonomi umat Islam. Zakat juga menjadi sarana membersihkan harta dari kebendaan dan menjaga keadilan sosial. Dalam syariat Islam, zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang wajib dilakukan oleh orang yang mampu. Zakat memiliki manfaat lebih luas, karena distribusinya teratur dan dijamin oleh sistem syariah. Infaq lebih berorientasi pada kebutuhan tertentu, seperti membantu masyarakat yang terlantar atau mendukung kegiatan keagamaan. Infaq juga bisa berupa bantuan darurat, seperti bantuan bencana alam atau keperluan sehari-hari. Manfaat Zakat vs Infaq Zakat memberikan manfaat spiritual dan sosial. Dengan membayar zakat, umat Islam bisa mendapatkan pahala dari Allah SWT, dan juga membantu orang yang membutuhkan secara terstruktur. Zakat juga memastikan distribusi kekayaan yang adil, karena dikelola oleh pihak yang kompeten. Infaq memberikan manfaat sosial dan emosional. Infaq bisa menjadi sarana mengurangi kesenjangan ekonomi secara langsung, seperti memberi makan pada orang miskin. Selain itu, infaq juga membangun kepedulian sosial dan memperkuat ikatan kebersamaan dalam masyarakat. Contoh dan Situasi Penerapan Zakat dalam Kehidupan Sehari-hari Zakat seringkali dibayarkan oleh orang yang memiliki harta berlebihan, seperti pengusaha, pedagang, atau orang yang memiliki tabungan besar. Contoh nyata adalah seorang pedagang yang menjual beras dan mencapai nisab. Dalam kasus ini, pedagang wajib memberikan 2,5% dari keuntungan usaha sebagai zakat. Selain itu, zakat fitrah diberikan oleh setiap orang yang berpuasa Ramadan, terlepas dari status ekonominya. Contoh penerapan adalah orang yang memiliki kelebihan makanan pokok memberikan 1,5 kg beras per orang untuk dibagikan kepada miskin dan fakir. Infaq dalam Kehidupan Sehari-hari Infaq bisa diberikan kapan saja, seperti saat melihat seseorang yang



