Pembahasan Penting: FHCI tekankan penguatan pengalaman karyawan di tengah adopsi AI
FHCI Fokus pada Peningkatan Pengalaman Kerja Karyawan di Era AI
Dalam acara FHCI Connect Expert Series 9 yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (9/4), Forum Human Capital Indonesia (FHCI) memfokuskan diskusi pada pentingnya memperkuat pengalaman kerja karyawan, terutama saat organisasi semakin mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Tema acara, “Reigniting Employee Experience in the Age of AI,” membawa perbincangan tentang peran AI dalam membangun sistem manajemen sumber daya manusia yang lebih efektif, sekaligus menjaga produktivitas serta kualitas interaksi karyawan. FHCI juga menyoroti kebutuhan kolaborasi antar perusahaan milik negara (BUMN) untuk menciptakan SDM yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Manfaat AI dalam Transformasi SDM
Direktur IT Digital PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Faizal Rochmad Djoemadi, mengatakan bahwa penerapan AI harus memberikan manfaat nyata seiring investasi yang dikeluarkan. Menurutnya, keberhasilan adopsi AI diukur dari indikator seperti efisiensi, kecepatan pengambilan keputusan, penurunan kesalahan manusia, dan peningkatan inovasi. Selain itu, ia menekankan perlunya mengelola akses terhadap AI agar data internal perusahaan tetap aman.
“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan yang tidak,” ujar Faizal.
Hadjar Seti Adji, Wakil Ketua FHCI dan Direktur Human Capital PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, menyoroti perlunya pendekatan berbasis pengalaman kerja dalam pengelolaan SDM di era AI. Ia mencontohkan integrasi platform pembelajaran digital seperti LinkedIn Learning dengan WIKAdemy yang berdampak positif pada pengembangan kompetensi dan karier karyawan. Hasilnya, aktivitas belajar meningkat, antara lain akses materi naik 14 persen, selesai kursus mencapai 23 persen, serta frekuensi login harian bertambah 40 persen.
Perubahan Keterampilan dan Kesiapan Tenaga Kerja
Senior Program Manager LinkedIn, Monique Tugas, mengatakan bahwa kebutuhan keterampilan di dunia kerja semakin berubah cepat akibat perkembangan teknologi. Data dari LinkedIn Economic Graph menunjukkan sekitar 70 persen keterampilan dalam pekerjaan diperkirakan akan berubah hingga 2030. Untuk menghadapi hal ini, perusahaan diingatkan agar menciptakan lingkungan kerja yang aman dan penuh kepercayaan, serta berfokus pada dampak serta hasil kinerja.
Menurut Monique, investasi dalam reskilling dan upskilling menjadi kunci untuk memastikan kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan. FHCI mengharapkan pembahasan di acara tersebut dapat mendorong inisiatif kolaboratif yang mengarah pada SDM yang lebih adaptif dan berdaya saing di tengah transformasi digital.
