LPPOM bakal buat proyek contoh toko bahan baku halal di tiga provinsi
New Policy – Jakarta (Antaranews) – Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) sedang menyusun rencana untuk menghadirkan proyek pilot atau contoh toko bahan baku halal di tiga provinsi. Langkah ini bertujuan memperkuat rantai pasok halal, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, mengatakan pilot project ini diharapkan menjadi referensi yang dapat diterapkan di wilayah lain. “Pilot project ini akan menjadi contoh yang bisa diikuti, dan lokasinya dipilih di Bengkulu, Jawa Timur, serta Nusa Tenggara Timur,” ujarnya saat acara Puncak Festival Syawal 2026 di Jakarta, Kamis.
Inisiatif LPPOM yang Sudah Dimulai
Menurut Muti, konsep toko bahan baku halal sudah dimulai sejak dulu oleh LPPOM. Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga ini telah membuka dua cabang toko, khususnya untuk bahan baku daging dan produk beku (frozen), di Bogor. Proyek tersebut menjadi awal dari upaya mewujudkan sistem jaminan halal yang lebih transparan. Pada tahun 2026, LPPOM juga memberikan fasilitas sertifikasi halal untuk toko bahan baku halal sebagai bagian dari Festival Syawal, yang diikuti oleh 61 pelaku usaha dari 19 provinsi. Dengan adanya fasilitas ini, para pengusaha dapat lebih mudah memperoleh pengakuan resmi atas produk mereka.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kesuksesan Proyek
Muti menekankan bahwa pengembangan proyek toko bahan baku halal tidak bisa dilakukan sendirian oleh LPPOM. Ia menjelaskan bahwa kerja sama antar lembaga dan pihak terkait menjadi kunci untuk menciptakan model toko yang ideal dan bisa diadopsi di daerah lain. “Kolaborasi lintas sektor sangat penting agar standar operasional toko bisa dipenuhi secara konsisten,” ujarnya. Selain itu, dia juga menyebutkan bahwa para pelaku usaha harus diberi edukasi tentang pentingnya memilih bahan baku yang memiliki sertifikasi halal. “Ini bukan hanya tentang akses bahan, tetapi juga kesadaran akan kepastian produk yang dihasilkan,” tambah Muti.
Kebutuhan Akses Bahan yang Terjamin
Dalam konteks perekonomian UMKM, keberadaan toko bahan baku halal dianggap sangat kritis. Muti menjelaskan bahwa toko ini menjadi titik awal bagi para pengusaha dalam mencari bahan yang memenuhi standar halal. Dengan adanya sertifikasi pada toko tersebut, pelaku usaha tidak perlu lagi mengambil risiko dalam mencari informasi asal-usul bahan. “UMKM harus merasa yakin ketika membeli bahan, seperti daging, bahwa produk tersebut sudah memiliki jaminan halal,” kata Muti dalam wawancara eksklusif. Ia menambahkan, jika ada kebutuhan sertifikat halal, toko bahan baku tersebut bisa menyediakannya secara langsung.
Ketidakpastian Dalam Praktik Umum
Menurut Muti, banyak praktik yang masih belum memenuhi standar halal di lapangan. Contohnya, pembelian bahan dalam kemasan kecil tanpa label produsen yang jelas. Praktik ini, katanya, bisa memicu munculnya ketidakpastian mengenai status halal produk. “Kemasan kecil yang tidak disertai informasi lengkap sering kali menjadi sumber kebingungan bagi pengusaha dan konsumen,” ujar Muti. Melalui proyek toko bahan baku halal, LPPOM ingin memperbaiki kondisi tersebut dengan mendorong kesadaran para pelaku usaha untuk hanya mempergunakan bahan yang bisa dibuktikan halalnya.
Standar Operasional dan Penyediaan Peralatan
Di samping itu, LPPOM juga akan memperhatikan standar operasional toko bahan baku halal. Muti menjelaskan bahwa alat pengemasan, seperti mesin, dan peralatan sederhana harus dipastikan berasal dari bahan halal. “Toko bahan baku halal tidak hanya menyediakan bahan, tetapi juga memastikan proses pengemasan dan penyimpanan tidak mengandung kontaminasi dari bahan non-halal,” ujarnya. Selain itu, LPPOM berharap standar ini bisa menciptakan lingkungan kerja yang lebih terstruktur bagi para pelaku usaha, sehingga proses produksi dan distribusi produk halal menjadi lebih efisien.
Pilot Project Sebagai Bagian dari Ekosistem Hulu
Pilot project toko bahan baku halal, menurut Muti, adalah salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem halal secara menyeluruh. Dengan menetapkan sertifikasi pada jasa penjualan di toko bahan baku halal, LPPOM ingin membantu UMKM memperoleh kepastian mengenai bahan yang digunakan. “Ini akan mempercepat proses sertifikasi produk mereka, karena semua bahan sudah memiliki jaminan,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa toko bahan baku halal bisa berbentuk beragam, seperti toko daging, toko bahan kue, atau koperasi yang menyediakan bahan dengan kualitas terjaga. “Pilarnya adalah kepastian dari produsen hingga konsumen, sehingga setiap langkah dalam rantai pasok bisa diawasi secara berkala,” kata Muti.
Hasil Harapan dan Manfaat untuk Masyarakat
Dengan adanya proyek ini, Muti berharap masyarakat akan lebih percaya terhadap produk halal yang dijual di pasaran. Ia menyatakan, kepastian asal-usul bahan menjadi faktor utama dalam meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM. “Pertumbuhan ekonomi UMKM akan lebih stabil jika mereka memahami dan mempergunakan bahan yang terjamin halalnya,” ujarnya. Selain itu, LPPOM juga berharap proyek ini bisa meningkatkan ekspor produk halal Indonesia, karena kepastian jaminan akan membuat konsumen di luar negeri lebih tertarik membeli produk dari Indonesia.
Langkah Strategis untuk Sertifikasi Produk
Muti menyoroti bahwa sertifikasi halal produk tidak bisa hanya diberikan pada akhir proses, tetapi juga perlu dimulai dari tahap bahan baku. “Jika bahan baku tidak halal, maka produk akhir pun tidak akan terjamin,” ujarnya. Untuk itu, LPPOM menggagas toko bahan baku halal sebagai titik awal yang menyeluruh. Dengan adanya toko ini, para pelaku usaha dapat memperoleh bahan yang sudah memiliki sertifikasi, sehingga proses sertifikasi produk mereka menjadi lebih cepat dan mudah. “Ini adalah langkah strategis untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap produk halal,” tambah Muti.
Komitmen untuk Mewujudkan Keberlanjutan
Menurut Muti, proyek toko bahan baku halal bukan hanya untuk kepentingan jangka pendek, tetapi juga untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan pilot project ini akan menjadi dasar untuk menyebarluaskan konsep serupa ke daerah lain. “Kami ingin menciptakan lingkungan usaha yang lebih sehat, sehingga UMKM bisa berkembang dengan lebih cepat,” katanya. Dengan menggandeng pihak terkait, LPPOM berharap proyek ini bisa menjadi contoh yang menarik bagi pengusaha di tingkat nasional