Hiburan

Pemain “Nobody Loves Kay” ajak Gen Z pegang nilai Pancasila

Pemain “Nobody Loves Kay” Ajak Gen Z Pegang Nilai Pancasila

Pemain Nobody Loves Kay ajak Gen Z – Jakarta – Bima Azriel, seorang aktor yang terkenal karena perannya sebagai tokoh utama dalam film “Nobody Loves Kay”, mengajak generasi muda Indonesia untuk tetap menjunjung nilai-nilai Pancasila di tengah perubahan cepat yang diakibatkan teknologi dan budaya modern. Selama kunjungannya ke ANTARA Heritage Center, ia menegaskan bahwa Hari Lahir Pancasila, yang jatuh pada 1 Juni, adalah kesempatan emas bagi pemuda untuk memahami dan menghargai sejarah pembentukan bangsa Indonesia.

Momen Sejarah yang Berharga

Dalam wawancara di lokasi tersebut, Bima menjelaskan bahwa hari ini menjadi pengingat akan akar kebangsaan yang diperjuangkan para pendiri Indonesia. “Kita harus menghargai sejarah penjelasan nilai Pancasila sebagai dasar peradaban bangsa, sekaligus mengenang bagaimana nilai itu membentuk identitas kita hingga saat ini,” katanya. Ia menekankan bahwa memperingati hari lahir Pancasila bukan sekadar ritual, tetapi sarana untuk mengajak pemuda mengakui pentingnya prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Menurut aku, hari itu memiliki makna sejarah yang penting dan layak dirayakan bersama. Kita menghargai bagaimana Pancasila membentuk bangsa ini menjadi satu, meski berbeda suku, agama, dan adat,” ujar Bima.

Penerapan Nilai Kemanusiaan

Bima menyebutkan bahwa nilai Pancasila yang paling ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Menurutnya, prinsip ini terwujud dalam sikap menjunjung tinggi sopan santun, menghormati sesama, serta menjaga keharmonisan dalam interaksi sosial. “Kita bisa menggambarkan kehidupan sehari-hari dengan membuktikan bahwa tidak semua orang melupakan Pancasila, terutama dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.

Ia berharap pemuda-pemudi masa kini tidak hanya memahami Pancasila secara teori, tetapi juga menerapkannya dalam tindakan nyata. “Tentu di setiap generasi pasti ada yang menyimpang, tapi aku yakin masih banyak Gen Z yang menjunjung Pancasila dengan kuat,” tambah Bima. Menurutnya, meskipun teknologi digital dan pengaruh globalisasi semakin dominan, generasi muda tetap bisa menjaga nilai-nilai dasar bangsa asalkan ada kesadaran untuk terus mengingatkan diri.

“Meski teknologi berkembang pesat, kita jangan melupakan Pancasila. Nilai itu seperti fondasi yang membuat bangsa kita tetap bersatu dan berkeadilan,” kata Bima.

Pandangan Ayastrophile: Pancasila sebagai Pedoman

Mantannya anggota grup idola JKT48, Nurhayati atau Ayastrophile, mendukung pandangan Bima. Dalam wawancara yang sama, ia mengatakan bahwa Pancasila adalah pedoman utama dalam kehidupan bermasyarakat sebagai warga negara Indonesia. “Pancasila membentuk identitas kita sebagai bangsa yang satu, meski memiliki keragaman budaya dan agama,” jelas Ayastrophile.

Ayastrophile, yang berperan sebagai tokoh BB dalam film tersebut, menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila perlu diterapkan secara konsisten untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. “Sebagai warga negara, kita harus punya pedoman, dan Pancasila adalah ideologi yang mengikat kita sebagai bangsa,” tuturnya.

“Sebagai warga negara yang baik, kita perlu memiliki pedoman. Pancasila menjadi fondasi yang mengikat kita sebagai bangsa, meski kita berbeda-beda dalam aspek kehidupan sehari-hari,” kata Ayastrophile.

Ia mengakui bahwa nilai keadilan sosial adalah salah satu yang paling sering dia terapkan. “Saya sering memperlakukan orang lain dengan adil, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Keadilan sosial itu seperti kekuatan yang memperkuat persatuan,” ujarnya. Menurut Ayastrophile, meskipun pemuda hidup di tengah pengaruh budaya luar dan kecepatan perubahan teknologi, mereka masih bisa menjaga hubungan harmonis berkat nilai-nilai Pancasila.

Persatuan di Tengah Perbedaan

Ayastrophile menambahkan bahwa persatuan bangsa Indonesia tidak akan terganggu meskipun ada perbedaan suku, agama, atau latar belakang budaya. “Kita tetap satu, meski dulu memerlukan waktu lama untuk memahami Pancasila. Kini, teknologi membantu kita lebih cepat menyebarluaskan nilai-nilai itu,” katanya.

Dalam dunia digital, Ayastrophile melihat bahwa media sosial dan platform komunikasi bisa menjadi alat efektif untuk menyebarkan kesadaran tentang Pancasila. “Dengan teknologi, kita bisa menciptakan ruang diskusi yang menyatukan generasi muda dalam merayakan hari lahir Pancasila,” jelasnya. Menurutnya, pemuda justru lebih mudah menerima nilai-nilai tersebut karena konten yang disampaikan melalui media sosial bisa disesuaikan dengan gaya komunikasi masa kini.

“Meski kita berbeda-beda suku dan agama, kita tetap satu. Pancasila adalah pengikat yang mengingatkan kita bahwa persatuan lebih penting dari perbedaan,” tambah Ayastrophile.

Bima dan Ayastrophile sepakat bahwa Gen Z tidak boleh melupakan Pancasila. “Nilai-nilai itu seperti arahan yang membuat kita tahu bagaimana hidup bersama tanpa konflik,” ujar Bima. Ia berharap generasi muda bisa menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam menyelesaikan masalah, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat.

Pentingnya Pendidikan dan Kesadaran

Menurut Bima, pendidikan dan kesadaran akan Pancasila menjadi kunci untuk menjaga relevansinya di tengah dinamika kehidupan modern. “Kalau kita bisa mengajarkan Pancasila dengan cara yang menarik, generasi muda akan lebih mudah menerapkannya,” katanya. Ayastrophile menyetujui hal ini, menambahkan bahwa pendekatan kreatif dalam menyampaikan nilai Pancasila bisa membuat pemuda lebih tertarik mengikuti.

Kedua pemain ini sepakat bahwa pemuda masa kini tidak hanya memerlukan pemahaman tentang Pancasila, tetapi juga keinginan untuk mengaktifkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Bukan hanya membaca teori, tetapi kita harus mengamalkan Pancasila dalam tindakan,” pungkas Ayastrophile. Dengan begitu, mereka yakin nilai-nilai Pancasila akan terus hidup dan menjadi bagian dari identitas Indonesia ke depan.

Pemuda yang berada di tengah tantangan globalisasi, seperti ketergantungan pada teknologi dan

Rina Ramadhan

Rina Ramadhan adalah penulis yang mengangkat tema zakat, sedekah, dan kepedulian sosial dengan pendekatan sederhana dan informatif. Di atapkitadonasi.com, ia berupaya menjembatani pemahaman antara kewajiban sosial dan praktik donasi yang benar. Rina berkomitmen menghadirkan konten yang ramah pembaca dan mudah dipraktikkan.