BRIN Luncurkan BioPAS: Pengganti Parafin Impor Berbasis Minyak Sawit
Key Strategy – Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah merilis Bio Paraffin Substitute (BioPAS), inovasi baru dalam industri batik yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku utama. Teknologi ini dirancang untuk menggantikan parafin berbasis minyak bumi, yang selama ini menjadi komponen inti dalam proses pembatikan nasional. Dalam sebuah wawancara di Jakarta, Selasa, peneliti dari Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Agus Triputranto, menjelaskan bahwa pengembangan BioPAS berhasil dilakukan melalui modifikasi struktur trigliserida dari minyak sawit lokal. Teknologi ini telah memperoleh paten sejak tahun 2024, menunjukkan kesiapan untuk diaplikasikan secara luas oleh industri.
Alternatif Bahan Bakufor Batik yang Berkelanjutan
Agus menyatakan bahwa BioPAS dikembangkan sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada parafin fosil. “Dengan menggantikan parafin impor, industri batik bisa memanfaatkan sumber daya nasional yang lebih ramah lingkungan,” tutur dia dalam pernyataannya. Inovasi ini juga menawarkan keseimbangan antara kualitas produksi dan keberlanjutan, karena minyak sawit merupakan bahan yang dapat diperbarui dan terjangkau.
“BioPAS tidak hanya memungkinkan industri batik memiliki alternatif bahan baku yang berasal dari dalam negeri, tetapi juga membantu mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan oleh penggunaan parafin berbasis bahan bakar fosil,” kata Agus Triputranto.
Keunggulan Teknis yang Menarik
Menurut Agus, BioPAS memiliki sejumlah keunggulan teknis yang membedakannya dari malam batik konvensional. Formula yang diproduksi bisa digunakan pada berbagai metode, mulai dari teknik batik tulis hingga batik cap dan batik lilin dingin. “Keunggulan utamanya adalah fleksibilitas penerapan, diiringi biaya produksi yang lebih kompetitif,” jelasnya. Selain itu, produk ini mampu memberikan daya tembus yang optimal pada berbagai jenis kain, membuat garis motif lebih tajam dan memudahkan proses pelepasan saat tahap pelorotan atau lorod.
Keunggulan teknis lainnya termasuk ketahanan terhadap retak, sifat lentur yang memungkinkan hasil batik lebih halus, serta kepraktisan dalam penggunaan. “Dengan karakteristik seperti ini, BioPAS bisa menjadi pilihan ideal bagi para perajin yang membutuhkan bahan yang stabil dan mudah digunakan,” tambah Agus. Ia menekankan bahwa penggunaan BioPAS tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga mendukung pemanfaatan produk turunan sawit secara lebih optimal.
Kemajuan Teknologi dari Riset Awal
Agus Triputranto menjelaskan bahwa penelitian terkait BioPAS dimulai sejak periode 2015–2016, diikuti dengan pengujian standar pada 2016. Setelah itu, tahap uji aplikasi dilakukan pada 2017, lalu dilanjutkan dengan kegiatan sosialisasi dan lokakarya di tahun 2019 dan 2021. “Proses pengembangan ini membutuhkan perjalanan panjang, dari pengujian laboratorium hingga validasi di tingkat industri,” ujarnya.
Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa BioPAS mampu mengurangi emisi karbon dibandingkan parafin fosil. Menurut Agus, teknologi ini menghasilkan limbah yang jauh lebih sedikit, sehingga berkontribusi pada pengurangan polusi udara dan peningkatan kualitas lingkungan. “Dengan bahan baku yang terbarukan, BioPAS membantu mengurangi dampak lingkungan yang sering diakibatkan oleh bahan bakar non-renewable,” tambahnya.
Kebutuhan Lilin yang Besar
Agus juga menyebutkan bahwa kebutuhan lilin dalam industri batik nasional mencapai sekitar 84.000 ton per tahun. Jika dilihat secara lebih rinci, sektor batik tulis saja memerlukan sekitar 165.476 kilogram lilin per bulan, sedangkan batik cap mencapai lebih dari 13,6 juta kilogram per bulan. “Penggunaan BioPAS berpotensi menghemat dana devisa yang digunakan untuk mengimpor parafin, sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah dari minyak sawit dalam negeri,” paparnya.
Menurut data yang diungkapkan Agus, sektor industri batik sangat bergantung pada bahan baku lilin. Penggunaan bahan ini tidak hanya memakan biaya signifikan, tetapi juga meningkatkan risiko ketergantungan pada pasokan luar negeri. Dengan adanya BioPAS, industri batik bisa lebih mandiri, karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri. “Ini adalah langkah strategis untuk memastikan industri batik tetap berkembang tanpa mengorbankan keberlanjutan ekologis,” katanya.
Keseimbangan Antara Kebutuhan Ekonomi dan Budaya
Agus menyoroti bahwa BioPAS tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat nilai budaya Indonesia. “Sawit dan batik keduanya merupakan aset penting bangsa kita, dan BioPAS mempertemukan keduanya,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa minyak sawit, sebagai komoditas utama Indonesia, bisa dimanfaatkan secara lebih optimal dalam industri batik, yang merupakan warisan budaya dunia. “Ini adalah kontribusi besar bagi ekonomi lokal dan keberlanjutan industri,” tutup Agus.
Keberhasilan pengembangan BioPAS menunjukkan kemajuan BRIN dalam inovasi berbasis sumber daya lokal. Teknologi ini menjadi contoh bagus bagaimana riset bisa memecahkan masalah sektor industri, sekaligus mendukung agenda pemerintah dalam mengurangi penggunaan bahan baku impor. Dengan diterapkannya BioPAS, industri batik bisa lebih greener, sekaligus menjaga kualitas hasil produksi yang memenuhi standar internasional.
Kini, BRIN tengah fokus pada pemasaran dan penerapan BioPAS di berbagai industri kecil dan menengah. Dengan dukungan pemerintah dan sektor swasta, teknologi ini diharapkan bisa menjadi bagian dari transisi menuju industri batik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. “BioPAS adalah salah satu langkah penting untuk menjawab tantangan bahan baku di masa depan,” pungkas Agus Triputranto.