BMKG: 482 Zona Musim Masuk Kategori Kemarau Lebih Kering
Latest Program – Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi sebanyak 482 Zona Musim (Zom) di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah tersebut mencakup 56,18 persen dari total luas daratan nasional dan diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Dalam konferensi pers yang diadakan pada Rabu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memberikan penjelasan tentang dampak dan cakupan dari fenomena ini.
Wilayah Terdampak Dominasi Sentra Populasi dan Pertanian
Ardhasena menyatakan bahwa wilayah yang diprediksi mengalami kekeringan ekstrem mencakup hampir seluruh sentra populasi dan area pertanian utama di bagian selatan khatulistiwa. “Zona musim yang diproyeksikan mengalami kemarau di bawah normal mencakup sebagian Sumatera, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Bali, serta wilayah-wilayah seperti Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian Pulau Papua,” ujarnya dalam pernyataan.
Karakteristik iklim di ratusan zona tersebut, kata Ardhasena, terutama dipengaruhi oleh pola monsun yang memiliki satu puncak musim hujan dan satu lembah kemarau yang sangat kontras. Pola ini menyebabkan fluktuasi curah hujan yang signifikan, memperparah kondisi kering di sejumlah wilayah. Dengan memperhatikan trend ini, BMKG mengingatkan bahwa beberapa daerah akan menghadapi tantangan lingkungan yang lebih serius.
Pergerakan Zona Kekeringan Melonjak di Bulan Juni
Berdasarkan pemutakhiran data terbaru hingga akhir Mei 2026, BMKG mencatat bahwa perluasan wilayah kekeringan dimulai dari 200 zona musim atau setara 11,83 persen luas daratan. Wilayah ini terdeteksi melalui warna kecokelatan pada peta sebaran iklim nasional, yang menunjukkan tingkat kekeringan yang berisiko tinggi. Perkembangan fenomena ini terus mengalami peningkatan, terutama pada bulan Juni.
Dalam bulan tersebut, jumlah zona kering diperkirakan melonjak secara drastis. BMKG mengungkapkan bahwa terdapat 198 zona musim baru yang memasuki kategori kemarau lebih kering, mencakup 31,6 persen dari luas daratan Indonesia. Wilayah yang terkena mencakup area di bagian selatan DKI Jakarta hingga sebagian besar Pulau Kalimantan. Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya terbatas pada daerah tertentu, tetapi telah meluas hingga mencapai wilayah strategis.
Ardhasena juga memperkirakan bahwa dampak ini akan terus berlanjut hingga bulan Juli. Pada bulan tersebut, sejumlah 66 zona musim tambahan akan terkena kekeringan, mencakup Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, serta wilayah Maluku Utara. Perluasan ini menunjukkan bahwa musim kemarau sedang menjadi lebih dominan dan berpotensi mengganggu produktivitas sektor pertanian serta kehidupan masyarakat di daerah terdampak.
Ada Anomali Lokal di Tujuh Zona Musim
Sementara itu, BMKG mencatat adanya anomali lokal di tujuh zona musim yang tidak mengikuti trend umum. Wilayah ini, meskipun berada dalam area kering, justru mengalami kondisi hujan lebih lebat dari rata-rata. Anomali ini disebabkan oleh efek topografi yang berpengaruh pada distribusi cuaca, terutama di daerah seperti Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ardhasena menjelaskan bahwa pembagian zona musim ini berdasarkan perhitungan referensi periode normal curah hujan yang diambil dari data jangka panjang tahun 1991 hingga 2020. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan akurasi prediksi dan meminimalkan kesalahan dalam analisis. Dengan mempertimbangkan data historis, BMKG dapat menilai kondisi cuaca secara lebih objektif.
Sebagai tambahan, BMKG menyarankan kepada pemerintah daerah untuk memperhatikan peta kerawanan zona musim sebagai dasar dalam merencanakan tindakan darurat. “Peta ini menjadi acuan utama dalam pengambilan kebijakan yang spesifik untuk menghadapi kekeringan di masing-masing wilayah,” katanya. Harapan utama adalah agar para pengambil keputusan dapat segera mengambil langkah-langkah pencegahan dan mitigasi guna meminimalkan dampak negatif pada masyarakat.
Dengan data yang telah diperbarui, BMKG yakin bahwa kekeringan akan terus menjadi ancaman serius di sejumlah besar wilayah Indonesia. Faktor-faktor seperti perubahan pola monsun dan efek topografi menjadi penyebab utama dari kondisi ini. Untuk memastikan keberlanjutan kebijakan, BMKG berharap kerja sama yang lebih intensif dari seluruh pihak terkait.
Sebagai langkah pencegahan, BMKG juga mendorong masyarakat untuk lebih waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem. Kekeringan yang terus meluas dapat berdampak pada persediaan air, pertanian, dan sektor-sektor lain yang bergantung pada iklim. Oleh karena itu, BMKG menekankan pentingnya informasi yang akurat dan tepat waktu sebagai sarana untuk merespons perubahan iklim secara efektif.