Hasto kupas filosofi Konferensi Dokter Anak gagasan Bung Karno
Key Discussion – Jakarta – Dalam acara kuliah umum bertajuk ‘Pemikiran Geopolitik Bung Karno, dalam rangka Ulang Tahun Universitas Bung Karno ke-27’, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto membahas visi humanis dan visioner Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno (Bung Karno) dalam membentuk fondasi kesehatan bagi generasi penerus bangsa. Ia menyoroti bagaimana gagasan Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika menjadi bagian dari upaya Bung Karno untuk memastikan kesejahteraan anak-anak Indonesia dari segi jasmani dan rohani.
Hasto menegaskan bahwa Soekarno memiliki perspektif unik dalam perencanaan pembangunan. Menurutnya, Bung Karno selalu memikirkan masa depan bangsa dengan mengutamakan kesehatan anak-anak sejak dini. “Kita berpikir tentang masa depan itu dari anak-anak kita. Bung Karno sudah memikirkan bagaimana anak-anak Indonesia itu sehat jasmani dan rohani,” ujarnya, sambil menjelaskan konteks kegiatan yang diadakan di Aula Ir. Soekarno, Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta, pada Kamis.
“Kita berpikir tentang masa depan itu dari anak-anak kita. Bung Karno sudah memikirkan bagaimana anak-anak Indonesia itu sehat jasmani dan rohani,”
Hasto, yang juga menjadi dosen tetap di UBK, menjelaskan bahwa konferensi tersebut dirancang untuk menggali metode ilmiah dalam mengembangkan generasi muda yang sehat serta cerdas di kawasan Asia dan Afrika. Ia menyoroti bahwa Soekarno memahami keterkaitan antara gizi anak-anak dengan kemampuan mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas. “Soekarno menyadari bahwa kecerdasan anak-anak erat kaitannya dengan asupan gizi yang mereka terima sejak usia dini,” lanjutnya.
Berdasarkan kesadaran ini, Bung Karno menginisiasi lahirnya buku kuliner nasional bernama Mustika Rasa. Hasto memaparkan bahwa buku ini bukan hanya kumpulan resep masakan, tetapi juga merupakan dokumen strategis yang menjaga kedaulatan pangan Indonesia. Mustika Rasa, yang setebal lebih dari seribu halaman, mencatat kekayaan kuliner Nusantara dari Sabang hingga Merauke. Buku ini memaparkan berbagai bahan pangan lokal yang memiliki nilai gizi tinggi, seperti jagung, petai, cabai, kacang-kacangan, tempe, dan tahu.
“Menindaklanjuti Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika agar anak-anak Indonesia cerdas, maka harus ditopang dengan makanan yang bergizi,”
Hasto menekankan bahwa buku ini dianggap sebagai pengembangan kebijakan pangan nasional. “Mustika Rasa memuat suatu rahasia bagaimana Indonesia dengan kekayaan kuliner yang luar biasa, dengan bumbu-bumbuan yang bercita rasa surga,” ujarnya, mengutip pesan Bung Karno. Dalam konteks modern, ia menegaskan bahwa gagasan ini masih relevan dalam mengatasi masalah ketergantungan pada bahan pangan impor.
Melalui filosofi di balik Konferensi Dokter Anak dan Mustika Rasa, Soekarno menginginkan generasi penerus bangsa tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki kekuatan mental untuk menghadapi tantangan global. Hasto menjelaskan bahwa kesehatan anak-anak menjadi prioritas utama dalam visi Soekarno untuk pembangunan jangka panjang. “Dalam kepemimpinan beliau, ada buku Mustika Rasa. Ini menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan pangan dan kesehatan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Soekarno secara tegas melarang ketergantungan pangan terhadap negara lain. Menurut Hasto, hal ini bukan hanya untuk menjaga kemandirian ekonomi, tetapi juga untuk mempertahankan kedaulatan politik bangsa. “Bung Karno mengatakan, dari lidah dan perut rakyat Indonesia tidak boleh terjajah oleh makanan impor,” ujarnya, menjelaskan pesan mendalam yang terkandung dalam filosofi tersebut.
Pesan Kedaulatan Pangan di Era Kontemporer
Dalam pembahasan lebih lanjut, Hasto memaparkan bahwa gagasan Soekarno tentang kedaulatan pangan masih relevan hingga saat ini. Ia menyoroti peran penting bahan-bahan lokal dalam mendorong kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. “Buku Mustika Rasa memuat strategi untuk memastikan rakyat Indonesia, terutama anak-anak, mendapatkan asupan makanan bergizi tanpa bergantung pada bahan pangan asing,” jelasnya.
Hasto menekankan bahwa keberhasilan Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika bukan hanya tentang kesehatan fisik, tetapi juga mencakup aspek mental dan sosial. Ia menyampaikan bahwa Bung Karno menginginkan generasi muda tidak hanya memiliki tubuh yang sehat, tetapi juga pikiran yang cerdas serta moral yang kuat. “Filosofi ini mencakup seluruh aspek kehidupan anak-anak, termasuk pendidikan dan nutrisi,” tambahnya.
Konferensi Dokter Anak dan Dukungan Tokoh
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, Once Mekel, dan Sofyan Tan. Hadir pula Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) Muhammad Marhaendra Putra serta civitas akademika UBK. Mereka mendukung upaya untuk menjaga kesehatan anak-anak sebagai investasi bagi masa depan bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga menyampaikan bahwa Mustika Rasa menjadi simbol dari kebijakan pangan nasional yang dibangun Soekarno. Ia menjelaskan bahwa buku ini menggambarkan keragaman bahan makanan lokal yang bisa menjadi sumber kekuatan bagi rakyat Indonesia. “Kedaulatan pangan tidak hanya tentang produksi, tetapi juga tentang pemenuhan kebutuhan masyarakat dengan bahan-bahan yang berasal dari dalam negeri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa konferensi dokter anak ini menjadi wadah untuk berdiskusi tentang kesejahteraan generasi penerus. “Soekarno memahami bahwa masa depan bangsa tergantung pada kesehatan anak-anak,” jelasnya. Melalui berbagai inisiatif, Bung Karno ingin menciptakan masyarakat yang mandiri, kuat, dan berdaya saing. Hasto menegaskan bahwa filosofi ini tetap relevan di era kini, terutama dalam menghadapi tantangan global terkait ketersediaan makanan sehat.
Kuliah umum ini menjadi momen penting untuk mengingatkan kembali pentingnya pendekatan holistik dalam pembangunan. Hasto berharap, melalui konferensi dan buku Mustika Rasa, generasi muda Indonesia bisa diarahkan menjadi pribadi yang sehat, cerdas, dan bermoral. “Soekarno memberi perhatian khusus pada anak-anak karena mereka adalah harapan bangsa,” ujarnya, menutup pembahasan dengan pesan semangat untuk menjaga warisan pemikiran Bung Karno dalam kehidupan sehari-hari.