Menhaj Lakukan Takziah untuk Jamaah Haji Maros yang Wafat di Tanah Suci
Historic Moment – Makassar, Antaranews – Menteri Haji dan Umrah Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, melakukan kunjungan takziah ke rumah duka jamaah haji asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang meninggal dunia saat menjalani ibadah haji di Arab Saudi. Peristiwa ini terjadi di Desa Bori Kamase, Kecamatan Maros Baru, pada hari Minggu (11/6/2026), saat Irfan Yusuf menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarga almarhum Sangkala, yang menjadi perhatian khusus sebagai Historic Moment dalam penanganan jemaah haji.
Kunjungan Menhaj sebagai Bentuk Penghormatan
Dalam momen ini, Menhaj mengungkapkan dukungan pemerintah terhadap keluarga yang kehilangan anggota. Ia menegaskan bahwa kehadiran di tengah keluarga jamaah haji yang wafat adalah bentuk perhatian negara terhadap tamu Allah yang meninggal di Tanah Suci. “Ini bukan hanya penghormatan, tapi juga tanggung jawab moral pemerintah,” kata Irfan Yusuf dalam pidatonya di rumah duka, sambil menegaskan bahwa Historic Moment ini menjadi bukti komitmen terhadap kesejahteraan jemaah haji.
“Kehadiran pemerintah di tengah keluarga jamaah haji yang meninggal dunia adalah pengakuan atas peran mereka dalam ibadah,” ujar Menhaj.
Jamaah yang meninggal, Sangkala, merupakan bagian dari kloter 20. Ia wafat pada Sabtu (6/6/2026) pukul 14.24 waktu Arab Saudi, setelah sebelumnya mengalami penurunan kondisi kesehatan. Dalam kunjungan tersebut, Menhaj didampingi oleh Bupati Maros, Chaidir Syam, serta perwakilan Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan dan Maros.
Persiapan dan Protokol untuk Musim Haji 2026
Menhaj menyebutkan bahwa pihaknya telah memerintahkan seluruh kepala kantor haji di Indonesia untuk memberikan penghormatan kepada keluarga jemaah yang wafat. Dalam Historic Moment ini, pemerintah juga mengungkapkan peningkatan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca ekstrem di Tanah Suci. Suhu mencapai 45 derajat Celsius, yang berpotensi memengaruhi kesehatan jemaah, terutama lansia atau yang menderita penyakit penyerta.
“Jemaah harus terus dipantau karena cuaca ekstrem bisa memengaruhi kondisi mereka,” kata Menhaj.
Proses pemulangan jemaah haji masih berlangsung. Hingga saat ini, sekitar separuh jumlah jemaah telah kembali ke Indonesia, sementara sisanya akan dipulangkan secara bertahap. Pemulangan tersebut dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan keamanan dan kenyamanan jemaah. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros, Ahmad Ihyadin, menambahkan bahwa almarhum Sangkala memiliki riwayat gangguan paru-paru sejak sebelum berangkat.
Menhaj juga menekankan peningkatan protokol kesehatan. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sedang memperkuat sistem pemantauan selama pelaksanaan ibadah haji. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap kenaikan angka kematian dalam beberapa hari terakhir, yang menjadi Historic Moment dalam sejarah penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.
Kementerian Haji dan Umrah mencatat bahwa cuaca ekstrem menjadi tantangan utama. Meski angka kematian saat ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, pemerintah tetap meningkatkan upaya untuk mencegah kejadian serupa. “Kami bersiap lebih matang agar jemaah bisa menjalani ibadah dengan aman,” ujar Menhaj, yang memastikan bahwa persiapan untuk musim haji 2026 mencakup aspek kesehatan dan keamanan.
Proses pemulangan jemaah haji yang diatur secara sistematis menunjukkan kehati-hatian pemerintah. Sangkala dijadwalkan kembali ke Maros pada 15 Juni 2026, meski kondisinya memburuk menjelang kepulangan. Tim kesehatan dan petugas haji terus memberikan perhatian khusus, termasuk mengawasi keluhan almarhum terkait penurunan nafsu makan.