PBNU: Tahun Baru Islam Perlu Diisi Kegiatan untuk Memperkuat Kepedulian Sosial
Wasekjen PBNU Kh Ma’shum Faqih Tegaskan Pentingnya Aktivitas Kolaboratif dalam Perayaan 1 Muharram
PBNU – Dalam perayaan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Lamongan, Jawa Timur, Selasa (tanggal…), KH Ma’shum Faqih, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU, menekankan bahwa momentum perayaan tahun baru tidak boleh hanya menjadi ajang kegiatan formal. Ia mengatakan, kegiatan tersebut harus dirancang untuk menyentuh masyarakat secara lebih langsung, dengan menggabungkan elemen keagamaan dan sosial yang dapat membangun hubungan harmonis antarumat beragama.
Mengutip keterangan resmi PBNU, KH Ma’shum Faqih menjelaskan bahwa syiar Islam tidak bisa terbatas pada acara pengajian tradisional. Ia menyarankan bahwa penggalangan kegiatan seperti Gowes 1 Muharram, yang melibatkan partisipasi masyarakat luas, bisa menjadi cara efektif untuk menumbuhkan kepedulian sosial. “Tahun Baru Islam jangan hanya diisi dengan ritual rutin, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
“Syiar Islam tidak hanya dilakukan melalui pengajian, tetapi juga berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat secara luas, memberikan manfaat langsung, dan mempererat tali persaudaraan,” katanya usai mengikuti Gowes 1 Muharram dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Lamongan, Jawa Timur, Selasa.
Kegiatan olahraga sepertigowes, yang dikemas dalam bentuk kreatif, menjadi perwujudan dari prinsip kerja sama dan kegotongroyongan yang dipegang oleh umat Islam. Menurut KH Ma’shum Faqih, acara tersebut bisa menjadi wadah untuk memperkenalkan nilai-nilai agama secara nyata, bukan hanya melalui ceramah, tetapi melalui tindakan konkret yang membuktikan keberadaan Islam dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dalam perayaan 1 Muharram, PBNU menekankan bahwa masyarakat harus terlibat aktif, baik melalui kegiatan fisik maupun partisipasi dalam kegiatan sosial. Ia mengungkapkan, kebersamaan dalam menjalankan aktivitas seperti bersepeda, bertukar informasi, dan memperkuat hubungan antarsesama dapat menjadi bentuk praktis dari silaturahim yang dianut oleh ajaran Islam. “Kita harus mampu menyampaikan pesan-pesan agama dengan cara yang lebih dekat dan menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung,” imbuhnya.
KH Ma’shum Faqih juga menyoroti pentingnya kepedulian sosial dalam memperkuat komunitas. Ia mencontohkan, kegiatan seperti bakti sosial, gotong royong, atau donasi bisa menjadi bagian dari perayaan tahun baru. Hal ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana Islam tidak hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang tindakan yang berdampak pada kehidupan bersama. “Kita harus menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang peduli pada sesama dan siap menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Menurut KH Ma’shum Faqih, momentum Tahun Baru Islam adalah kesempatan untuk mengevaluasi bagaimana ajaran Islam bisa lebih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan, kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama perayaan harus dirancang secara terpadu, agar mampu meningkatkan kebersamaan dan kepedulian sosial. “Kita harus memastikan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan tidak hanya bermakna untuk umat Islam, tetapi juga memberikan kontribusi pada masyarakat secara umum,” tambahnya.
Kegiatan Gowes 1 Muharram, yang diadakan di Lamongan, menjadi contoh nyata keberhasilan PBNU dalam menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan kegiatan sosial. Dalam acara tersebut, peserta tidak hanya menikmati olahraga, tetapi juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan sesama, menciptakan suasana kekeluargaan yang nyata. Ia menekankan bahwa selain kegiatan fisik, peserta juga diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, sehingga memperkaya pemahaman antarumat beragama.
Sebagai anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Kabupaten Tuban, KH Ma’shum Faqih menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam mendorong kepedulian sosial. Ia berharap, selama perayaan tahun baru, pesantren bisa menjadi pusat dari inisiatif-inisiatif yang menggabungkan pendidikan dan keterlibatan masyarakat. “Dengan memanfaatkan momen tahun baru, pesantren bisa berkontribusi lebih besar dalam membangun komunitas yang solid dan penuh kepedulian,” ujarnya.
PBNU juga memperkenalkan gagasan untuk memperluas kegiatan-kegiatan tahun baru Islam ke berbagai tingkat kehidupan, mulai dari tingkat lokal hingga nasional. Kegiatan yang memadukan unsur olahraga, silaturahim, dan keagamaan, menurut KH Ma’shum Faqih, bisa menjadi jembatan antara ajaran Islam dengan kebutuhan masyarakat. Ia mencontohkan, dalam perayaan tahun baru, pesantren bisa mengadakan kegiatan seperti bakti sosial, pemberdayaan ekonomi, atau pendidikan agama yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Dalam pandangan KH Ma’shum Faqih, kegiatan tahun baru Islam bukan hanya tentang memperingati peristiwa sejarah, tetapi juga tentang membangun hubungan yang lebih kuat antarumat beragama. Ia berharap, kegiatan tersebut bisa menjadi langkah konkret dalam memperkuat persatuan dan kesatuan, serta mendorong masyarakat untuk bersinergi dalam menyelesaikan berbagai masalah bersama. “Kita harus menyadari bahwa kepedulian sosial adalah bagian integral dari kehidupan beragama,” ujarnya.
Menurut KH Ma’shum Faqih, kegiatan tahun baru Islam harus dirancang secara holistik, dengan menggabungkan berbagai aspek keagamaan dan sosial. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa pesan Islam tidak hanya dihimpun dalam ruang formal, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, masyarakat bisa melihat bagaimana agama Islam berdampak langsung pada kehidupan bersama, menc