Polda Kalsel Berhasil Mencegah Peredaran 128,7 Kilogram Sabu
Polda Kalsel gagalkan peredaran 128 7 kilogram – Operasi penyitaan narkoba terbesar dalam sejarah polisi Kalimantan Selatan terjadi pada Kamis, 18 Juni 2026, saat Kepolisian Daerah (Polda) setempat menggagalkan upaya distribusi 128,7 kilogram sabu. Sabu tersebut diduga merupakan bagian dari jaringan narkotika internasional yang beroperasi secara diam-diam di wilayah tersebut. Pengungkapan kasus ini menandai keberhasilan pihak berwajib dalam mengungat tindakan kriminal yang mengancam masyarakat.
Kasus ini diungkapkan melalui operasi yang berlangsung selama 5 hari, dari 8 hingga 12 Juni 2026. Tim investigasi Polda Kalsel melakukan penyelidikan intensif setelah menerima informasi mengenai aktivitas peredaran sabu dari sumber terpercaya. Hasilnya, tim berhasil mengidentifikasi jalur distribusi dan menangkap lima pelaku yang terlibat dalam proses pengiriman barang ilegal tersebut.
Dalam aksinya, para tersangka mengandalkan jaringan yang terorganisir dan beroperasi secara tersembunyi. Sabu yang berhasil disita dipercaya berasal dari luar negeri, kemudian dibawa ke Kalimantan Selatan untuk didistribusikan ke berbagai daerah. Operasi ini menunjukkan koordinasi yang baik antara penyidik lokal dan intelijen internasional, sehingga dapat memperkecil risiko kebocoran informasi.
Polda Kalsel mengungkapkan bahwa pengamanan sabu dilakukan dengan mengawasi aktivitas transportasi dan keuangan para pelaku. Metode penyelidikan melibatkan penangkapan di berbagai titik, termasuk di Banjarmasin dan Banjarbaru. Penangkapan ini menunjukkan bahwa polisi tidak hanya fokus pada kejahatan narkoba di tingkat lokal, tetapi juga mampu menembus jaringan yang bersifat transnasional.
Kasus ini menimbulkan perhatian publik karena jumlah sabu yang berhasil diamankan mencapai lebih dari setengah ton. Pihak berwajib mengatakan bahwa pengiriman tersebut diperkirakan menyasar pasar lokal dan juga wilayah sekitar Indonesia. “Operasi ini berhasil mengurangi risiko penggunaan narkoba di Kalimantan Selatan,” ungkap salah satu penyidik yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dalam operasi tersebut, tim investigasi mengamankan barang bukti berupa kemasan sabu, peralatan komunikasi, dan uang tunai. Selain itu, para tersangka juga diberikan waktu untuk memperlihatkan bentuk kolaborasi antar anggota jaringan yang terorganisir. “Mereka bekerja secara terencana dan berkoordinasi untuk menghindari pemeriksaan,” jelas seorang sumber yang mengikuti proses penyelidikan.
Kepolisian Kalimantan Selatan menekankan bahwa upaya penangkapan ini adalah bagian dari strategi pencegahan penggunaan narkoba. Mereka juga memperlihatkan bahwa transaksi narkoba di daerah tersebut tidak hanya terjadi di tingkat kecil, tetapi juga melibatkan perusahaan besar yang beroperasi secara tersembunyi. “Kami sedang memperluas investigasi untuk menangkap lebih banyak pelaku,” tambah salah satu petugas.
Dalam rangka memperkuat penegakan hukum, Polda Kalsel juga bekerja sama dengan instansi lain seperti kepolisian kabupaten dan kejaksaan. Hasilnya, operasi ini tidak hanya menangkap pelaku, tetapi juga mengungkap bagaimana sabu dikirim ke berbagai tempat menggunakan jalur darat dan laut. “Jaringan ini sangat canggih, tapi kami tidak kalah,” tegas seorang pejabat setempat.
Keterangan dari Reporter
Kasus penyitaan sabu ini dilaporkan oleh Latif Thohir, Satrio Giri Marwanto, dan Arsy Fitriady, yang bekerja sama sebagai tim investigasi dan peliputan media. Mereka menyatakan bahwa keberhasilan operasi terjadi karena konsistensi dan keterlibatan masyarakat dalam memberikan informasi penting.
Beberapa hari setelah operasi, polisi melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka untuk mengungkap detail lebih lanjut tentang jaringan sabu tersebut. Dalam pemeriksaan, para pelaku mengakui bahwa sabu yang disita merupakan hasil dari aktivitas ekspor yang dilakukan secara berkala. “Kami terus memantau kegiatan mereka dan siap menangkap siapa saja yang terlibat,” kata pejabat polisi yang tidak ingin disebutkan namanya.
Kasus ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi modern digunakan untuk memantau kegiatan peredaran narkoba. Tim investigasi mengandalkan data digital dan pengawasan terhadap pergerakan para pelaku. “Dengan adanya sistem informasi yang terintegrasi, kami mampu menangkap pelaku dengan lebih cepat,” jelas salah satu anggota tim.
Sebagai tindak lanjut dari operasi ini, Polda Kalsel menetapkan beberapa tindakan preventif, seperti meningkatkan pemeriksaan kendaraan dan membentuk tim khusus untuk menangani kasus narkoba. Mereka juga berencana melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap penyalahgunaan narkoba. “Kami ingin mencegah terjadinya penyalahgunaan di tingkat awal,” tambah pejabat setempat.
Kasus ini menjadi contoh nyata betapa pentingnya kerja sama antar institusi dalam menegakkan hukum. Polisi Kalimantan Selatan menegaskan bahwa pengungkapan ini tidak hanya tentang penangkapan pelaku, tetapi juga tentang pemberantasan peredaran sabu yang merusak kesehatan dan kehidupan masyarakat. “Kami yakin operasi ini akan memberikan dampak jangka panjang,” pungkas salah satu perwakilan Polda Kalsel.
Dengan penangkapan ini, Polda Kalsel telah menunjukkan komitmen dalam memerangi narkoba. Mereka berharap operasi serupa dapat dilakukan di daerah lain untuk menekan kegiatan ilegal terkait narkoba. “Kami akan terus berupaya memberantas sabu di Kalimantan Selatan,” kata salah satu pejabat yang menangani kasus tersebut.
Kasus ini juga mengungkapkan betapa luas jaringan narkoba yang beroperasi di wilayah tersebut. Para tersangka menggunakan metode yang berbeda untuk menghindari penangkapan, termasuk mengubah jalur pengiriman dan mengandalkan pengendara tak dikenal. “Mereka sangat siap menghadapi pemeriksaan, tapi kami tetap berhasil menangkap mereka,” pungkas salah satu saksi mata yang hadir saat operasi berlangsung