Mirae Asset Sekuritas: BI-Rate Masih Memiliki Potensi Kenaikan di Masa Depan
New Policy – Dalam upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) terus mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatur kebijakan moneter. Analis pasar keuangan dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menilai bahwa kebijakan kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) masih bisa diperkuat jika tekanan terhadap mata uang lokal terus berlangsung. Meski BI telah melakukan penyesuaian BI-Rate sebanyak tiga kali dalam dua bulan terakhir, dengan total pengetatan moneter mencapai 100 basis poin (bps) sejak April 2026, persentase peningkatan ini belum cukup untuk mengatasi fluktuasi rupiah yang masih terjadi.
Kenaikan BI-Rate dan Penguatan Rupiah
Jakarta menjadi sorotan karena BI-Rate yang kini berada pada level 5,75 persen, setelah bertambah 25 bps dalam penyesuaian terbaru. Langkah ini dilihat sebagai respons BI terhadap kecenderungan melemahnya rupiah, terutama setelah mencapai level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Meski demikian, sejak awal bulan, mata uang lokal mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan bergerak ke sekitar Rp17.730 per dolar AS. Jessica menilai, BI-Rate menjadi instrumen kunci dalam mendorong kembali apresiasi rupiah, terlepas dari tekanan eksternal yang belum sepenuhnya teratasi.
“Penurunan cadangan devisa sejak awal tahun menunjukkan bahwa suku bunga akan menjadi instrumen yang semakin penting dalam menjaga stabilitas eksternal. Karena itu, BI masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan terhadap rupiah kembali muncul,” jelas Jessica dalam wawancara di Jakarta, Jumat.
Stabilitas Eksternal dan Inflasi
Kebijakan BI tidak hanya fokus pada penguatan rupiah, tetapi juga memperhatikan dinamika inflasi. Dalam beberapa bulan terakhir, BI mengawasi kenaikan Wholesale Price Index (WPI) yang mencapai 5,76 persen pada Mei 2026, serta meningkatnya inflasi inti di luar komponen emas hingga 1,63 persen, naik dari 1,36 persen di bulan April. Pertumbuhan inflasi ini menjadi indikator bahwa kebijakan moneter perlu tetap dijaga untuk mencegah tekanan inflasional yang berpotensi memengaruhi keseimbangan ekonomi.
Menurut Jessica, BI-Rate yang ditingkatkan juga berperan dalam memperkuat daya tarik aset keuangan Indonesia. Dengan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pasar keuangan domestik semakin menarik bagi investor asing. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun, misalnya, melonjak sekitar 92 bps sejak awal tahun menjadi 7 persen, sementara imbal hasil tenor 2 tahun meningkat hingga 7,08 persen. Angka-angka ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kinerja ekonomi Indonesia, meski juga menjadi alat untuk menarik dana asing yang sebelumnya mengalir keluar.
Langkah Lain BI untuk Stabilisasi Rupiah
Sejauh ini, BI tidak hanya mengandalkan penyesuaian BI-Rate, tetapi juga memperkuat stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Salah satunya adalah diskon biaya hedging swap bagi investor asing, yang membantu mengurangi beban biaya transaksi mata uang asing. Selain itu, BI juga membuka kembali fasilitas lelang repo dengan berbagai tenor, sehingga meningkatkan likuiditas pasar dan mengoptimalkan penggunaan dana.
Langkah-langkah ini menunjukkan upaya BI untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, stabilitas nilai tukar, dan daya tarik aset keuangan domestik. Dengan menaikkan BI-Rate, BI juga berupaya mengurangi inflasi, menjaga stabilitas eksternal, dan memastikan mata uang lokal tetap kompetitif di pasar global. Namun, Jessica memperingatkan bahwa kebijakan ini harus disesuaikan dengan dinamika ekonomi internasional, terutama jika tekanan dari luar kembali menguat.
Perspektif Pasar dan Persiapan di Masa Depan
Masa depan rupiah akan ditentukan oleh beberapa faktor kunci, termasuk perkembangan kebijakan moneter global, tingkat inflasi domestik, dan stabilitas ekonomi internasional. Jessica menekankan bahwa BI perlu tetap waspada terhadap risiko eksternal, seperti fluktuasi nilai tukar mata uang asing atau kenaikan suku bunga di negara-negara lain. Jika kecenderungan tersebut tidak berubah, BI diperkirakan akan mempertahankan sikap defensif dalam menyesuaikan BI-Rate.
Sebaliknya, jika rupiah menunjukkan peningkatan yang stabil dan inflasi mulai bergerak turun, BI mungkin akan mengurangi intensitas penyesuaian suku bunga. Namun, dalam situasi ketidakpastian eksternal yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah diperkirakan tetap menjadi prioritas utama kebijakan moneter. “Pasar akan mencermati apakah apresiasi rupiah berkelanjutan atau tergantung pada kebijakan BI di masa depan,” kata Jessica.
Analisis Terhadap Kenaikan BI-Rate
Dalam pandangan Mirae Asset Sekuritas, kenaikan BI-Rate merupakan strategi BI untuk mengimbangi fluktuasi eksternal dan memperkuat daya tarik aset keuangan dalam negeri. Analis menyatakan bahwa langkah ini juga berdampak pada inflasi, karena suku bunga yang lebih tinggi bisa mengurangi permintaan akan uang tunai dan memperlambat pertumbuhan harga. Namun, kebijakan ini tidak sepenuhnya menghilangkan risiko inflasi, terutama jika pertumbuhan ekonomi lokal tidak terjaga.
Kebijakan BI-Rate yang ditingkatkan juga berpengaruh pada kebijakan fiskal pemerintah. Dengan suku bunga lebih tinggi, pemerintah mungkin memperketat anggaran belanja atau mengajukan utang dalam bentuk obligasi dengan imbal hasil yang lebih besar. Jessica memperkirakan bahwa kebijakan moneter akan terus beradaptasi dengan dinamika pasar, baik dalam bentuk penyesuaian BI-Rate maupun instrumen lain yang bisa diterapkan. “BI-Rate yang tinggi adalah pertanda baik bagi stabilitas eksternal, tetapi perlu diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang sehat,” tambahnya.
Secara keseluruhan, kenaikan BI-Rate dianggap sebagai alat penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi Indonesia. Meski kenaikan suku bunga bisa memberi tekanan terhadap sektor-sektor yang sensitif, seperti properti dan pinjaman konsumen, BI tetap yakin bahwa langkah ini akan memberi dampak positif dalam jangka panjang. Dengan penguatan rupiah dan stabilitas inflasi, Indonesia di