Bisnis

New Policy: CORE: Jaringan irigasi jadi kunci jaga produksi pangan hadapi El Nino

CORE: Jaringan Irigasi Menjadi Faktor Penentu Jaga Produksi Pangan Saat El Nino

New Policy – El Nino, fenomena iklim yang berpotensi memicu kekeringan di berbagai wilayah, menuntut persiapan lebih matang untuk memastikan kelancaran produksi pangan nasional. Menurut Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, jaringan irigasi yang kuat adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan ini. Selama ini, pemerintah telah mengambil langkah-langkah seperti pompanisasi, embung, sumur dalam, dan optimasi lahan untuk mengurangi dampak kemarau, namun ia menilai pendekatan tersebut belum cukup efektif tanpa dukungan sistem irigasi yang lebih andal.

Analisis Eliza: Kekeringan Menjadi Ancaman Serius

Eliza menekankan bahwa kekeringan pada fase kritis pertumbuhan tanaman berpotensi mengurangi produktivitas pertanian secara signifikan. “Ketersediaan air menjadi faktor paling menentukan keberhasilan produksi,” ujarnya. Dalam konteks El Nino, yang bisa mengakibatkan defisit air yang lebih parah, ia mengingatkan bahwa peningkatan kapasitas irigasi tidak hanya diperlukan untuk menjaga hasil pertanian tetap stabil, tetapi juga sebagai jaminan ketahanan pangan nasional.

“Intervensi tersebut cukup efektif sebagai bentuk pengamanan terhadap kekeringan ringan hingga sedang, namun masih kurang memadai untuk mengatasi dampak El Nino yang lebih berat,” kata Eliza kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah fokus pada revitalisasi jaringan irigasi tersier, yang dianggap lebih mudah dikelola dan biaya pembangunannya relatif rendah. Namun, Eliza menyoroti bahwa keberhasilan strategi ini bergantung pada penanganan masalah di bagian hulu. “Jika keterbatasan air di hulu belum diatasi, revitalisasi jaringan irigasi di bagian bawah tidak akan cukup menjamin kelangsungan produksi,” ujarnya.

Permasalahan Infrastruktur Irigasi

Menurut Eliza, pendangkalan saluran irigasi primer, sekunder, bendung, dan waduk masih terjadi karena akumulasi sedimen. Faktor utamanya adalah perubahan tata guna lahan yang berdampak pada pengendapan tanah di daerah aliran sungai. Proses ini memperparah masalah irigasi, mengharuskan revitalisasi yang membutuhkan anggaran besar serta kolaborasi lintas sektor. “Saat ini, sekitar 60 persen jaringan irigasi masih dalam kondisi rusak,” tambahnya.

Menyikapi situasi tersebut, pemerintah memperkuat upaya pengembangan infrastruktur air melalui berbagai proyek. Dari 15.000 unit irigasi perpompaan, 3.000 unit irigasi perpipaan, dan 3.000 unit bangunan konservasi air, prioritas diberikan pada sentra produksi padi serta wilayah rawan kekeringan. Eliza mengakui bahwa langkah-langkah ini penting, tetapi ia menekankan bahwa investasi jangka panjang pada sistem irigasi permanen tetap menjadi prioritas utama.

Suplemen Air: Pompanisasi, Embung, dan Sumur Dalam

Eliza menyebutkan bahwa pompanisasi, embung, dan sumur dalam tetap memiliki peran strategis sebagai sumber air tambahan, terutama di daerah kritis. “Pompa dapat menjadi penyelamat bagi tanaman pada fase pembungaan dan pengisian biji, ketika sumber air alami tidak cukup,” ujarnya. Namun, ia juga memperingatkan bahwa penggunaan pompa meningkatkan biaya produksi, karena memerlukan energi listrik atau bahan bakar untuk operasional. Selain itu, embung dan sumur dalam masih bergantung pada infrastruktur pendukung seperti saluran air dan daya tahan struktur bangunan.

Sementara itu, program cetak sawah baru juga dianggap sebagai solusi sementara untuk menutupi kekurangan akses air. Meski lahan pertanian baru membutuhkan waktu satu hingga dua musim tanam untuk mencapai produktivitas maksimal, Eliza menilai langkah ini tetap perlu. Namun, dia menyatakan bahwa investasi pada infrastruktur air memiliki dampak lebih jangka panjang dibandingkan subsidi input seperti benih unggul atau pupuk. “Tanpa air yang cukup dan tepat waktu, faktor-faktor lain seperti pupuk atau pola tanam bisa menjadi tidak efektif,” ujarnya.

Langkah Pemerintah: Revitalisasi dan Cadangan Pangan

Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah telah memperkuat berbagai aspek infrastruktur pertanian untuk mengantisipasi dampak El Nino. Menurutnya, pembangunan embung, pompanisasi, sumur dalam, serta optimalisasi lahan menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan pangan. “Kami telah mengupayakan pembangunan sekitar 15.000 unit irigasi perpompaan dan 3.000 unit perpipaan,” ujar Menteri Amran.

“Pemerintah juga meningkatkan cadangan beras nasional guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan di tengah potensi kemarau panjang,” tambahnya.

Dalam upaya ini, Kementerian Pertanian mencatat stok beras nasional mencapai sekitar 5,2 juta ton. Angka tersebut berpotensi bertambah seiring perkiraan produksi padi yang saat ini masih dalam fase pertumbuhan (standing crop) sekitar 10 hingga 11 juta ton. Dengan dukungan stok dan potensi produksi tersebut, pemerintah memproyeksikan bahwa kebutuhan pangan nasional akan terpenuhi hingga sekitar 10 hingga 11 bulan ke depan.

Keseimbangan Antara Infrastruktur dan Subsidi

Eliza menyoroti bahwa pengembangan infrastruktur air tidak hanya bisa mengurangi ketergantungan pada subsidi input, tetapi juga memperkuat ketahanan pertanian secara holistik. “Pembangunan jaringan irigasi yang permanen akan meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani jangka panjang, dibandingkan bantuan langsung yang bersifat sementara,” ujarnya.

Di wilayah rawan kekeringan seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, penggunaan pompa, embung, serta sumur dalam menjadi solusi penting. Namun, Eliza mengingatkan bahwa metode-metode ini masih bersifat suplemen dan tidak dapat menggantikan sistem irigasi utama. “Meski bermanfaat, tiga alat tersebut belum bisa mengatasi kekeringan yang sangat berat seperti yang diperkirakan saat El Nino kuat,” ujarnya.

Dalam kesimpulannya, Eliza menekankan bahwa jaringan irigasi yang optimal adalah fondasi penting untuk menjamin ketahanan pangan. “Ketersediaan air yang tepat waktu dan memadai akan memastikan bahwa

Nadia Ramadhan

Nadia Ramadhan menulis seputar donasi, kepedulian sosial, dan peran masyarakat dalam membantu sesama. Di atapkitadonasi.com, ia menghadirkan artikel yang bersifat edukatif dan reflektif, terutama terkait makna berbagi di bulan-bulan istimewa dan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, donasi bukan sekadar memberi, tetapi juga memahami dampaknya.