Internasional

Historic Moment: Vatikan ekskomunikasi kelompok SSPX usai tahbiskan uskup tanpa mandat

Vatikan Mengucilkan Kelompok SSPX Setelah Mereka Menahbiskan Uskup Tanpa Persetujuan Paus

Historic Moment – Roma, 16 Mei 2024 – Pada Kamis, Vatikan mengumumkan pengucilan terhadap kelompok Serikat Santo Pius X (SSPX), sebuah kelompok ultrakonservatif, setelah kelompok tersebut mengadakan upacara pensansekularan empat uskup baru tanpa izin dari Paus. Tindakan ini dianggap melanggar aturan gereja dan berpotensi menyebabkan skisma dalam Gereja Katolik Roma. Pengucilan ini ditandatangani oleh Kardinal Victor Manuel Fernandez, yang menjabat sebagai Prefek Dikasteri untuk Ajaran Iman.

Keputusan Vatikan dikeluarkan 24 jam setelah upacara tahbisan diadakan di Econe, Swiss, pada Rabu. Menurut pernyataan resmi, para uskup yang terlibat dalam prosesi tersebut, yaitu Alfonso de Galarreta dan Bernard Fellay, serta keempat uskup baru yang ditahbiskan—Pascal Schreiber, Michael Goldade, Michel Poinsinet de Sivry, dan Marc Hanappier—telah melakukan “tindakan skismatik.” Skisma diartikan sebagai pemisahan dari ketaatan terhadap Kepausan, yang mengakibatkan pemecahan hubungan formal antara kelompok tersebut dengan Gereja Roma.

“Pengucilan ini memisahkan para uskup dan imam Serikat Santo Pius X dari Gereja Roma,” kata Vatikan dalam pernyataannya. “Sementara itu, umat awam yang masih tergabung dalam kelompok tersebut juga dianggap telah diekskomunikasi.”

Sejarah dan Alasan Terbentuknya SSPX

SSPX, yang berbasis di Swiss, didirikan pada 1970 oleh Uskup Agung Marcel Lefebvre dari Prancis. Pemimpin kelompok ini menolak perubahan yang diperkenalkan Konsili Vatikan II pada 1960-an, yang dianggapnya mengancam tradisi dan ajaran konservatif gereja. Lefebvre memutus ketaatannya kepada Paus pada 1975, menyatakan perlawanan terhadap reformasi modernisasi agama yang dianggapnya mengabaikan prinsip-prinsip tradisional.

Pemecahan ketaatan oleh Lefebvre memicu reaksi dari Vatikan, yang kemudian mengucilkan empat uskup yang ditahbiskannya pada 1988. Langkah ini menandai ekskomunikasi pertama SSPX, yang menyebabkan mereka menjadi organisasi otonom di luar struktur Gereja Roma. Namun, konsiliasi sempat dilakukan pada 2009, saat Paus Benediktus XVI mencabut sanksi tersebut sebagai tanda keinginan untuk memperkuat hubungan dengan kelompok tersebut.

Upaya Rekonsiliasi dan Kebijakan Paus Fransiskus

Pada 2009, Vatikan memperkenalkan kebijakan yang memungkinkan para uskup SSPX untuk memimpin upacara perkawinan dalam gereja-gereja tradisionalis, selama kondisi tertentu. Tindakan ini menjadi langkah awal dalam pemulihan hubungan antara SSPX dan Gereja Katolik Roma. Namun, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya memulihkan status kelompok tersebut, karena mereka tetap dianggap tidak sepenuhnya ketaatan kepada Kepausan.

Keputusan Paus Fransiskus ini diikuti oleh upaya-upaya lain untuk menarik kembali para uskup dan imam SSPX ke dalam lingkaran gereja. Meski demikian, kelompok ini terus mempertahankan prinsip-prinsip yang menentang perubahan-perubahan modernisasi, seperti rekonfirmasi ketaatan kepada Paus. Meski ada perbaikan, Vatikan tetap mempertahankan kebijakan ekskomunikasi sebagai bentuk hukuman terhadap tindakan skismatik yang dianggap merusak kesatuan gereja.

Impak Pengucilan dan Status SSPX Saat Ini

Keputusan pengucilan terhadap SSPX memiliki dampak signifikan terhadap status mereka dalam Gereja Katolik. Kelompok ini kini dianggap tidak memiliki ketaatan formal, sehingga tidak lagi berhak melakukan upacara ketaatan dan mengambil keputusan penting dalam struktur gereja. Namun, para uskup dan imam SSPX tetap beroperasi di bawah naungan gereja, dengan keikutsertaan umat awam yang bersedia mengejar ketaatan mereka.

SSPX juga menjaga identitasnya sebagai kelompok yang menekankan konservativisme, termasuk dalam hal doktrin, liturgi, dan hubungan dengan konsili Vatikan II. Meski ada kebijakan yang memperbolehkan mereka merayakan pernikahan di gereja tradisionalis, kelompok ini tetap menentang perubahan-perubahan yang mereka anggap menyimpang dari ajaran awal gereja. Pengucilan terbaru ini dianggap sebagai langkah tegas Vatikan untuk mengingatkan mereka kembali pada ketaatan.

Langkah Vatikan ini juga memicu perdebatan dalam kalangan Gereja Katolik. Beberapa anggota gereja menganggap pengucilan sebagai keputusan yang benar, sementara yang lain menilai bahwa kelompok tersebut tetap layak mendapatkan ruang dalam struktur gereja. Dengan memperkuat sanksi ini, Vatikan berharap memastikan bahwa SSPX tidak lagi menjadi ancaman bagi kesatuan Gereja Roma.

Perbandingan dengan Ekskomunikasi Sebelumnya

Ini adalah pengucilan kedua yang diberikan kepada kelompok ultrakonservatif tersebut. Pada 1988, Vatikan telah memutus ketaatan empat uskup yang ditahbiskan oleh Lefebvre, yang menjadi penyebab pertama pemecahan dari gereja. Dengan pengucilan saat ini, keputusan Vatikan menunjukkan bahwa kelompok ini kembali melanggar aturan dengan tahbisan tanpa mandat, meski telah ada usaha rekonsiliasi sebelumnya.

SSPX telah menjadi simbol perlawanan terhadap modernisasi gereja sejak didirikan. Kelompok ini berusaha mempertahankan praktik-praktik yang dianggap tradisional, seperti penahbisan uskup secara mandiri dan keberatan terhadap reformasi yang dijalankan Paus. Meski Paus Fransiskus member

Aisyah Putri

Relawan aktif di berbagai program kemanusiaan, Aisyah sering membagikan kisah inspiratif dari para penerima manfaat donasi. Ia menyoroti pentingnya solidaritas dan aksi nyata dalam membantu sesama.