AS akan batasi masa tinggal mahasiswa internasional maksimal 4 tahun

Keputusan Baru DHS: Batas Waktu Tinggal Mahasiswa Asing Diperketat Menjadi Empat Tahun

AS akan batasi masa tinggal mahasiswa – Washington — Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat atau yang dikenal dengan singkatan DHS telah resmi mengumumkan perubahan signifikan dalam regulasi imigrasi yang menyangkut mahasiswa internasional serta peserta program pertukaran pelajar. Pengumuman ini disampaikan pada hari Kamis, tanggal 16 Juli, yang menandai dimulainya era baru dalam kebijakan penerimaan pelajar asing ke Amerika Serikat. Langkah ini bertujuan untuk memperketat pengawasan terhadap masa tinggal sah para pelajar nonimigran yang saat ini menikmati fasilitas duration of status.

Menghapus Celah Duration of Status

Menurut pernyataan resmi yang diterbitkan melalui situs web departemen tersebut, aturan baru ini akan membatasi masa tinggal maksimal selama empat tahun. Pembatasan ini berlaku kecuali jika mahasiswa atau peserta pertukaran berhasil memperoleh perpanjangan yang telah disetujui oleh pemerintah federal. Kebijakan ini secara resmi menghapus celah duration of status yang selama ini memungkinkan mahasiswa asing, peserta program pertukaran pelajar, serta kategori lainnya untuk tetap berada di Amerika Serikat tanpa batas waktu tertentu.

Sistem duration of status yang telah beroperasi selama hampir lima puluh tahun ini memungkinkan warga negara asing untuk tetap tinggal di AS selama mereka secara aktif menjalankan tujuan visa mereka. Dengan kata lain, tidak ada tanggal pasti yang ditetapkan kapan mereka harus meninggalkan negara tersebut, selama tujuan visa masih terpenuhi. Namun, sistem yang dianggap sudah usang ini juga telah menciptakan lingkungan yang subur untuk penipuan imigrasi dan berpotensi membahayakan keamanan nasional, sebagaimana dinyatakan oleh pejabat tinggi DHS.

Reaksi dari Para Pemangku Kepentingan

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Markwayne Mullin, secara tegas menuduh bahwa ribuan mahasiswa asing telah menyalahi sistem imigrasi AS selama ini. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa sistem duration of status yang sudah lama berjalan ini telah menjadi masalah serius bagi keamanan nasional. Ia menyatakan bahwa perubahan ini diperlukan untuk memastikan bahwa setiap pelajar asing berada di bawah pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah.

“Selama hampir setengah abad, sistem duration of status yang sudah usang telah membahayakan keamanan nasional dan menciptakan lingkungan yang subur untuk penipuan imigrasi,” kata Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Markwayne Mullin.

Sementara itu, Fanta Aw, yang menjabat sebagai direktur eksekutif sekaligus CEO NAFSA, sebuah asosiasi pendidik internasional yang berbasis di Amerika Serikat, memberikan respons berbeda terhadap keputusan ini. Ia menggambarkan langkah DHS sebagai perubahan kebijakan yang keliru dan tidak perlu. Menurut Aw, keputusan ini justru menimbulkan ketidakpastian, birokrasi yang berlebihan, dan ketakutan ke dalam sistem yang telah lama berjalan secara efektif.

“Hal ini memberi sinyal kepada para pelajar dan akademisi terbaik di dunia bahwa keramahan, prediktabilitas, dan komitmen AS telah menurun,” kata Aw dalam pernyataannya.

Dampak Terhadap Mahasiswa Internasional

Keputusan ini akan berdampak langsung pada mahasiswa nonimigran dengan visa F dan peserta pertukaran dengan visa J. Kedua kategori ini akan diterima selama periode program spesifik mereka, namun tidak melebihi jangka periode maksimum selama empat tahun. Bagi banyak mahasiswa yang mengikuti program pascasarjana atau penelitian jangka panjang, pembatasan ini berarti mereka harus merencanakan perpanjangan visa lebih awal atau mempertimbangkan opsi lain untuk melanjutkan studi mereka di Amerika Serikat.

Implementasi aturan final ini diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi para pemegang visa tentang batas waktu tinggal mereka. Namun, bagi komunitas pendidikan internasional, hal ini juga berarti adanya tantangan baru dalam hal administrasi dan perencanaan. NAFSA, sebagai organisasi yang mewakili ribuan institusi pendidikan tinggi di AS, akan terus memantau perkembangan implementasi kebijakan ini dan memberikan dukungan kepada anggotanya dalam menghadapi perubahan tersebut.

Perubahan kebijakan ini juga mencerminkan tren global dalam pengelolaan imigrasi pendidikan tinggi. Banyak negara kini mulai mempertimbangkan untuk memberikan batasan waktu yang lebih jelas bagi pelajar asing, terutama dalam konteks keamanan nasional dan pengelolaan sumber daya. Amerika Serikat, sebagai tujuan utama bagi jutaan mahasiswa internasional setiap tahunnya, kini mengambil langkah konkret untuk memastikan bahwa sistem imigrasi pendidikan tinggi mereka lebih terstruktur dan transparan.

Meskipun ada kekhawatiran dari sebagian pihak, pemerintah AS meyakini bahwa kebijakan baru ini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi sistem imigrasi dan pendidikan tinggi nasional. Dengan adanya batas waktu yang jelas, diharapkan dapat mengurangi potensi penyalahgunaan visa dan memastikan bahwa setiap mahasiswa asing berkontribusi secara positif terhadap komunitas akademik dan sosial di Amerika Serikat.