Rupiah diprediksi melemah seiring tensi geopolitik yang memanas
Rupiah Diprediksi Melemah Seiring Tensi Geopolitik yang Memanas
Atapkitadonasi.com – Pasar valuta asing Jakarta mencatat pergerakan positif pada sesi pembukaan perdagangan Kamis pagi. Kurs rupiah menguat sebesar tiga poin atau setara dengan 0,02 persen terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.914 per dolar AS, melampaui penutupan sesi sebelumnya yang berada di Rp17.917 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Menurut Lukman Leong, analis dari Doo Financial Futures, tren penguatan tersebut kemungkinan bersifat sementara. Ia memproyeksikan rupiah akan cenderung melemah sepanjang perdagangan Kamis ini. Faktor utama yang mendorong proyeksi tersebut adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Situasi ini juga berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia, yang secara historis memberikan tekanan pada mata uang negara-negara importir energi seperti Indonesia.
Sebagaimana dilaporkan kepada ANTARA di Jakarta pada Kamis, Lukman menjelaskan bahwa pelemahan rupiah diperkirakan tidak akan berlangsung signifikan. Ada faktor pendukung dari dalam negeri yang mulai menunjukkan perbaikan. Sentimen domestik yang membaik memberikan bantalan bagi rupiah di tengah volatilitas eksternal.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timteng,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Keputusan Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang lalu menjadi salah satu penguat sentimen positif. Meskipun bank sentral memilih untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan, langkah strategis lainnya diambil untuk mendukung stabilitas nilai tukar. Insentif baru diberikan untuk mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral. Selain itu, bank sentral juga mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS dalam transaksi domestik dan regional.
“Dari RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) kemarin, walau mempertahankan tingkat suku bunga, namun langkah BI memberi insentif baru yang di antaranya mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, diharapkan bisa mendukung rupiah,” ungkap dia.
BI memilih pendekatan berbeda dibandingkan dengan opsi kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate yang dijadwalkan pada Juli 2026. Kebijakan pemberian insentif kepada investor melalui kenaikan dan perluasan pengurangan premi dinilai lebih efektif untuk mendorong arus masuk investasi portofolio asing. Insentif swap jual lindung nilai atau swap beli lindung nilai kepada BI dinaikkan dari 10 persen menjadi 12,5 persen. Sementara itu, insentif bagi DNDF atau domestic non-deliverable forward jual lindung nilai diperluas menjadi sebesar 15 persen.
Lukman menilai keputusan BI untuk menahan suku bunga merupakan langkah yang dapat dipahami. Tekanan internal yang mereda memberikan ruang bagi bank sentral untuk tidak langsung menaikkan suku bunga, meskipun sentimen eksternal cenderung memburuk. Ia menambahkan bahwa jika perkembangan situasi di Timur Tengah tidak menunjukkan perbaikan, BI kemungkinan akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga kembali pada pertemuan berikutnya.
“Apabila perkembangan di Timteng tidak membaik, BI mungkin akan baru menaikkan kembali dalam pertemuan berikutnya,” katanya.
Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat dengan kehadiran militer Amerika Serikat yang diperkuat. Mengutip laporan dari Sputnik, AS telah mengerahkan kembali pesawat tempur siluman F-35 generasi kelima serta pesawat tempur F-16 dari Eropa ke kawasan Timur Tengah. Dalam kurun waktu sepekan terakhir, Washington juga dilaporkan mengirimkan pasukan operasi khusus dan skuadron tambahan pesawat tempur ke wilayah tersebut.
Lebih lanjut, pesawat pengebom B-1 yang sebelumnya ditempatkan di Inggris disebut telah berada dalam status siap tempur. Kesiapan ini mengindikasikan kemungkinan adanya operasi militer berskala besar jika situasi semakin memanas. Dampak dari eskalasi ini tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga memberikan efek domino terhadap pasar keuangan global, termasuk pasar valuta asing di Indonesia.
Para pengamat pasar meyakini bahwa volatilitas rupiah akan terus dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global. Kombinasi antara tekanan eksternal dari ketegangan Timur Tengah dan faktor internal seperti kebijakan BI akan menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan. Investor diharapkan untuk tetap waspada terhadap perkembangan terbaru yang dapat mengubah sentimen pasar secara signifikan.