Komisi X sebut perguruan tinggi kunci kembangkan wisata halal RI

Perguruan Tinggi Sebagai Pilar Utama Pengembangan Wisata Halal Indonesia

Atapkitadonasi.com – Jakarta menempatkan perguruan tinggi sebagai elemen strategis dalam upaya memaksimalkan potensi wisata halal di Nusantara. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati, yang menekankan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan tinggi dengan sektor pariwisata. Menurut beliau, kolaborasi ini diperlukan untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul serta mendorong lahirnya inovasi berbasis riset. Langkah-langkah tersebut akan memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan wisata halal di Indonesia.

Kurniasih menyampaikan pandangan ini dalam sebuah sesi dialog yang berlangsung di Jakarta pada hari Jumat. Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pendidikan formal, tetapi juga dalam menghasilkan terobosan baru melalui penelitian ilmiah. Riset-riset tersebut nantinya akan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan industri wisata halal yang semakin berkembang pesat.

Data Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap Ekonomi Nasional

Berdasarkan informasi yang dimiliki oleh Kurniasih, kontribusi sektor perjalanan dan pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun 2024 mencapai angka sekitar 5,1 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pariwisata tetap menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional yang memiliki prospek cerah ke depan. Selain itu, industri ini telah berhasil menciptakan sekitar 12,9 juta lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Dari sisi kunjungan, Indonesia berhasil menarik perhatian sekitar 17 juta wisatawan mancanegara. Capaian ini membuktikan bahwa sektor pariwisata masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dengan potensi yang terus meningkat. Di tengah tren global, wisata halal atau wisata ramah Muslim muncul sebagai segmen dengan laju pertumbuhan tercepat di dunia.

Proyeksi Pertumbuhan Wisatawan Muslim Global

Mengutip laporan dari Global Muslim Travel Index (GMTI), Kurniasih menyebutkan bahwa jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional pada tahun 2024 mencapai sekitar 176 juta. Proyeksi menunjukkan angka ini akan melonjak menjadi 245 juta perjalanan pada tahun 2030. Nilai belanja wisatawan Muslim diproyeksikan menembus angka lebih dari 230 miliar dolar AS, menjadikannya pasar yang sangat menjanjikan.

Potensi sebesar itu dinilai sebagai peluang emas yang harus dimanfaatkan Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat wisata halal global. Namun, untuk bersaing di kancah internasional, diperlukan dukungan komprehensif dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan tinggi.

ASEAN sebagai Pasar Utama Wisatawan Muslim

Kurniasih juga menyoroti bahwa kawasan ASEAN masih menjadi pasar terbesar bagi wisatawan Muslim. Indonesia diperkirakan mampu menyerap sekitar 34 hingga 38 persen dari potensi pasar tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang pengembangan wisata halal nasional masih sangat terbuka lebar, meskipun situasi ekonomi global masih diwarnai berbagai ketidakpastian.

Dalam konteks ini, perguruan tinggi diharapkan dapat berperan aktif melalui penguatan sumber daya manusia, riset, inovasi, serta kolaborasi lintas sektor. Peran tersebut menjadi sangat penting mengingat potensi industri pariwisata halal yang terus tumbuh pesat, baik di tingkat nasional maupun global.

Peran Strategis Institusi Pendidikan Tinggi

Kontribusi utama perguruan tinggi dimulai dari menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap memenuhi kebutuhan industri pariwisata halal. Sumber daya manusia yang berkualitas menjadi faktor kunci agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing dan menargetkan posisi lima besar destinasi wisata halal dunia. Selain mencetak tenaga profesional, perguruan tinggi juga berperan dalam menghasilkan riset dan inovasi yang melahirkan berbagai model pengembangan wisata halal.

Hasil penelitian tersebut diharapkan mampu memperkuat kebijakan, meningkatkan kualitas layanan, serta memperluas daya tarik destinasi wisata ramah Muslim di Indonesia. Peran strategis lainnya diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat. Melalui program pendampingan, pelatihan, hingga pemberdayaan masyarakat di destinasi wisata, kampus dapat membantu meningkatkan kapasitas pelaku usaha dan masyarakat lokal agar mampu memenuhi standar layanan wisata halal.

Dalam mendukung pengembangan sektor ini, perguruan tinggi juga diharapkan menjadi pusat kolaborasi dalam skema sinergi pentahelix dengan menghubungkan pemerintah, dunia usaha, hingga komunitas di ASEAN yang masih menjadi pasar terbesar bagi wisatawan Muslim. Dengan dukungan sumber daya manusia yang unggul, inovasi berbasis riset, serta sinergi lintas sektor, Kurniasih berharap perguruan tinggi mampu menjadi motor penggerak dalam mewujudkan Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata halal terbaik di dunia.

“Untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul diperlukan kolaborasi dengan perguruan tinggi. Begitu juga dalam melahirkan inovasi melalui riset yang akan mendukung pengembangan wisata halal di Indonesia,” kata Kurniasih dalam sebuah sesi dialog di Jakarta, Jumat.