Wamendagri ajak mahasiswa jadi generasi kosmopolitan berkarakter kuat
Daftar Isi
Mahasiswa Baru Didorong Memadukan Wawasan Global dan Cinta Indonesia
Atapkitadonasi.com – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mendorong mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya untuk membangun diri sebagai generasi kosmopolitan yang tetap berpijak pada karakter kebangsaan. Pesan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Talkshow Orientasi Dinamika Kampus (ORDIK) di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/9).
Dalam kegiatan tersebut, Bima menekankan bahwa keterbukaan terhadap dunia tidak seharusnya mengikis kecintaan generasi muda kepada Indonesia. Mahasiswa dinilai perlu memperluas pengetahuan, meningkatkan kemampuan, dan menghasilkan karya yang mampu bersaing secara global, sembari menjaga nilai nasionalisme sebagai bagian dari identitas pribadi.
“Insyaallah mental kalian adalah mental aktivis. Punya karya global dan hati nasionalis,” kata Bima.
Kosmopolitan bukan sekadar mengikuti perkembangan dunia
Gagasan tentang generasi kosmopolitan, bagi Bima, memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan internasional. Mahasiswa diharapkan sanggup hadir dalam ruang global melalui kapasitas dan prestasi, tetapi tidak kehilangan kepribadian serta rasa memiliki terhadap tanah air.
Kampus menjadi salah satu tempat penting untuk membentuk keseimbangan tersebut. Mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan materi perkuliahan, melainkan juga dengan beragam gagasan, organisasi, kegiatan sosial, dan pengalaman yang dapat memperkaya cara pandang. Dari lingkungan seperti inilah kemampuan untuk berpikir terbuka dapat tumbuh bersama tanggung jawab terhadap masyarakat.
Bima juga mengajak mahasiswa untuk memiliki semangat aktivis. Mental ini berkaitan dengan kemauan untuk bergerak, menciptakan manfaat, dan tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Aktivisme, dalam konteks kehidupan kampus, dapat tercermin melalui kesediaan belajar, terlibat dalam kegiatan positif, membantu lingkungan, serta berani menghadapi persoalan dengan sikap yang konstruktif.
Ia mengaitkan ajakan tersebut dengan nilai fastabiqul khairat yang hidup dalam Muhammadiyah. Semangat berlomba dalam kebaikan tidak hanya mengarah pada upaya memberi manfaat kepada orang lain, tetapi juga mendorong seseorang untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya. Proses bertumbuh menjadi lebih baik dapat berjalan seiring dengan keinginan untuk membawa dampak bagi lingkungan sekitar.
Muhammadiyah sebagai ruang pengembangan diri
Mahasiswa baru diminta untuk menumbuhkan kebanggaan sebagai bagian dari Muhammadiyah dan memanfaatkan lingkungan yang tersedia untuk memperluas pengalaman. Bima memandang Muhammadiyah mempunyai ekosistem pendidikan, sosial, serta pengabdian yang luas. Ruang tersebut dapat digunakan generasi muda untuk belajar, mengasah kepemimpinan, membangun kepedulian, dan memperbesar kontribusi.
Masa awal kuliah juga menjadi periode ketika mahasiswa mulai menentukan arah pengembangan diri. Pilihan bidang studi memang penting, namun pembentukan sikap, jaringan pertemanan, dan kebiasaan belajar tidak kalah menentukan. Lingkungan kampus dapat menjadi tempat untuk menguji gagasan, menemukan minat, dan belajar bekerja bersama orang lain dengan latar belakang yang beragam.
Dalam perjalanan itu, kemampuan teknis dan pengetahuan tetap dibutuhkan. Akan tetapi, Bima mengingatkan bahwa kompetensi saja belum cukup untuk menjaga keberhasilan dalam jangka panjang. Ia menempatkan karakter sebagai fondasi yang membuat seseorang mampu bertahan ketika telah meraih pencapaian.
“Yang membawa Anda ke puncak itu kompetensi. Tapi membuat Anda bertahan di puncak itu karakter,” tegasnya.
Keberhasilan dibangun melalui proses yang tidak selalu terlihat
Karakter, lanjut Bima, dapat dilihat dari ketekunan, kecakapan menggunakan waktu, kesediaan mendengarkan pandangan orang lain, serta keberanian menghadapi tantangan. Semua unsur itu tidak muncul dalam waktu singkat. Ada proses panjang yang sering kali tidak tampak ketika seseorang telah dikenal berhasil.
Ia menggambarkan keberhasilan seperti gunung es. Hal yang terlihat di permukaan kerap berupa kekayaan, popularitas, maupun pengaruh. Namun, bagian yang menopang pencapaian itu jauh lebih besar: kesabaran, kedisiplinan, kemauan menerima masukan, doa, dan kemampuan melalui berbagai kesulitan.
Pesan tersebut relevan bagi mahasiswa yang tengah memasuki tahap baru dalam pendidikan. Hasil yang ingin dicapai tidak selalu hadir dengan cepat, sedangkan proses belajar kerap menuntut konsistensi. Kemampuan menjaga rutinitas, menyelesaikan tanggung jawab, dan tetap terbuka terhadap evaluasi menjadi bagian dari pembentukan watak yang akan berguna di berbagai bidang kehidupan.
Bima turut mengingatkan pentingnya orang-orang di sekitar dalam perjalanan seseorang. Dukungan dan doa dari keluarga, sahabat, serta lingkungan dapat menjadi kekuatan ketika menghadapi tekanan atau hambatan. Karena itu, mahasiswa diajak membangun pertemanan yang luas sekaligus merawat silaturahmi.
Membangun circle of esteem
Dalam paparannya, Bima memperkenalkan konsep circle of esteem, yakni lingkaran persahabatan yang berisi orang-orang yang saling menguatkan. Lingkungan semacam ini bukan hanya hadir saat keadaan baik, tetapi juga mampu menolong, mendoakan, mengingatkan, dan mendorong anggotanya untuk terus berkembang.
Mahasiswa dapat bergaul dengan siapa pun serta menekuni beragam bidang. Namun, lingkaran terdekat perlu dibangun dengan pertimbangan yang baik karena pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan, cara mengambil keputusan, dan arah pertumbuhan seseorang. Sahabat yang tepat dapat membantu seseorang tetap fokus pada nilai-nilai positif ketika menghadapi pilihan yang rumit.
“Berteman bisa dengan siapa saja. Tapi bersahabat harus dengan yang saling memberikan maslahat,” kata Bima.
Ajakan tersebut menempatkan mahasiswa sebagai calon pemimpin yang perlu menyiapkan kemampuan sekaligus integritas. Wawasan internasional, semangat berkarya, kepedulian sosial, dan karakter yang kuat dipandang dapat berjalan berdampingan. Dengan bekal itu, mahasiswa diharapkan mampu memberi manfaat dalam lingkungan terdekat maupun membawa kontribusi Indonesia ke ruang yang lebih luas.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Wamendagri ajak mahasiswa jadi generasi kosmopolitan?
Wamendagri ajak mahasiswa jadi generasi kosmopolitan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Wamendagri ajak mahasiswa jadi generasi kosmopolitan matter?
Wamendagri ajak mahasiswa jadi generasi kosmopolitan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.