Srondeng Masuk Peringkat Kedua Dunia Sementara di Kategori Lead Series 2026
Srondeng tempati peringkat kedua dunia sementara – Indonesia kembali membanggakan diri setelah atlet panjat tebing Putra Tri Ramadani, yang akrab disapa Srondeng, berhasil menduduki peringkat kedua dunia sementara untuk World Climbing Series 2026 dalam disiplin lead. Prestasi ini diperoleh setelah dia memenangkan seri di Praha, Ceko, yang diadakan pada 3-7 Juni. Pengumuman peringkat tersebut dibagikan oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia, yang mengakui peningkatan kualitas atlet nasional dalam bidang ini.
Pencapaian Membawa Harapan untuk Disiplin Lead
Kehadiran Srondeng di peringkat kedua dunia menjadi bukti bahwa Indonesia tidak hanya unggul dalam kategori speed, tetapi juga mampu bersaing di bidang lead. “Kami juga memiliki atlet yang siap melengkapi keberhasilan di speed dengan prestasi gemilang di lead,” ujar Wahyu Pristiawan Buntoro, manajer Timnas Panjat Tebing Indonesia, dalam wawancara di Jakarta, Jumat. Ia menambahkan, pencapaian ini bisa menjadi semangat bagi atlet lain untuk terus meningkatkan performa.
“Apa yang dicapai Srondeng adalah hasil kerja keras seluruh tim, terutama route setter dan pelatih, serta semangat dari semua pihak yang mendukungnya,” kata Amri, pelatih timnas lead Indonesia, yang juga mengharapkan prestasi ini mendorong atlet pelatnas lainnya untuk lebih giat berlatih.
Poin yang Terkumpul dari Dua Seri
Dalam rangkaian World Climbing Series 2026, Srondeng telah mengumpulkan total 1.380 poin dari dua seri yang diikuti, yakni World Climbing Series Wujiang, China (8-10 Mei) dan World Climbing Series Praha, Ceko (3-7 Juni). Meski hanya berada di posisi kesembilan dalam seri Wujiang, dia tampil dominan di Praha dengan meraih medali emas. Hasil ini memberikan dorongan signifikan untuk menempati peringkat kedua secara global.
Menurut data dari International Federation of Sport Climbing (IFSC), Srondeng masih berada di bawah Neo Suzuki, wakil Jepang yang mengantarkan dirinya ke puncak peringkat sementara dengan 1.805 poin. Neo Suzuki berhasil meraih gelar juara di Wujiang dan menjadi runner-up di Praha. Di bawahnya, Sorato Anraku, juga dari Jepang, mengoleksi 1.155 poin dengan performa konsisten di kedua seri, meski belum bisa mengalahkan Srondeng.
Peringkat Atlet Indonesia Lainnya
Selain Srondeng, ada dua atlet Indonesia lainnya yang turut berpartisipasi dalam kategori lead. Raviandi Ramadhan berada di posisi ke-39 dengan 69 poin, sementara saudara kembarnya, Ravianto Ramadhan, mengumpulkan 24 poin dan menempati peringkat ke-47. Di sisi lain, atlet putri Indonesia, Alma Ariella Tsany, menduduki peringkat ke-23 dunia dengan total 356 poin. Dia berhasil meraih medali perunggu di seri Wujiang dan memperbaiki posisi dengan memperoleh peringkat ke-10 di Praha.
Sukma Lintang Cahyani, atlet putri lainnya, berada di peringkat ke-62 dunia dengan 11 poin. Prestasinya di seri Wujiang mengantarkan dia ke posisi ke-49, sementara di Praha, dia berada di peringkat ke-65. Meski jumlah poinnya lebih rendah, konsistensi dan kemampuannya di ajang internasional tetap menjadi penilaian positif.
Kemungkinan Kenaikan Peringkat di Seri Berikutnya
Perjalanan Srondeng di World Climbing Series 2026 belum berakhir. Masih ada empat seri yang akan diadakan, yaitu World Climbing Series Innsbruck, Austria (17-21 Juni), Series Chamonix, Prancis (10-12 Juli), World Series Koper, Slovenia (4-5 September), dan World Series Santiago, Chili (23-25 Oktober). Dalam empat seri ini, Srondeng harus tetap fokus untuk mengamankan poin maksimal, karena targetnya adalah menjadi peringkat pertama dunia dalam kategori lead.
Federasi Panjat Tebing Indonesia optimis dengan kemampuan Srondeng untuk mengejar posisi teratas. “Seri-seri berikutnya bisa menjadi kesempatan bagus untuk memperbaiki peringkat dan menambahkan poin yang diperlukan,” tambah Wahyu Pristiawan Buntoro. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak hanya berkat prestasi individu, tetapi juga dukungan dari seluruh tim dan pelatih yang terus memberikan bimbingan.
Perbandingan dengan Atlet Lain di Dunia
Dalam persaingan global, peringkat Srondeng menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya saing kuat di bidang lead. Meski masih tertinggal dari Neo Suzuki, performa dia jauh lebih baik dibandingkan atlet asal negara lain seperti Sorato Anraku. Dari sisi penampilan, Srondeng juga menunjukkan kemampuan teknis yang mumpuni, terutama dalam menghadapi tantangan di Praha yang cukup berat.
Sementara itu, para atlet Indonesia lainnya tetap menunjukkan kompetensi. Raviandi dan Ravianto, meski tidak berada di peringkat atas, tetap menjadi bagian dari kompetisi dan berkontribusi dalam membangun kualitas tim. Di kategori putri, Alma Ariella Tsany dan Sukma Lintang Cahyani masing-masing membawa nama Indonesia ke peringkat ke-23 dan ke-62, meski mereka masih perlu meningkatkan konsistensi untuk memperkuat posisi mereka.
Persaingan di World Climbing Series 2026 memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk mengubah stigma sebagai negara yang hanya unggul di speed. Srondeng dan timnya menunjukkan bahwa prestasi di bidang lead bisa dicapai secara signifikan. Dengan empat seri yang tersisa, harapan untuk menaikkan peringkat nasional semakin terbuka. Mereka perlu terus berjuang, terutama dalam memperkuat teknik dan mental di setiap lomba.
Kehadiran atlet seperti Srondeng dan kawan-kawan menambah semangat untuk mengejar prestasi lebih baik di masa depan. Fakta bahwa Indonesia bisa mengisi peringkat dua dan tiga dalam kategori lead, serta beberapa peringkat