Wamen ATR/BPN: Memuliakan Sungai Berarti Memuliakan Negara
Historic Moment – Jakarta, Sabtu – Dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Ossy Dermawan, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga serta menghormati sungai sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan juga sebagai sumur kehidupan bagi peradaban bangsa serta negara. Ia menekankan bahwa perlindungan aliran air ini tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga membentuk identitas nasional dan budaya.
Selasa lalu, Ossy Dermawan menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri acara Gerakan Nasional “AYO Muliakan Sungai” yang diadakan di Yayasan Pesantren Pengrajin Bambu, Cibinong, Kabupaten Bogor. Acara ini diselenggarakan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kebersihan dan keberlanjutan sungai. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa sungai bukan sekadar sumber air, tetapi juga menjadi simbol kekuatan dan kehidupan bangsa.
Gerakan ini diawali dengan menelusuri aliran Sungai Ciliwung, yang merupakan salah satu sungai utama di wilayah Jakarta. Kegiatan dilanjutkan dengan pembersihan sampah yang terdapat di sepanjang bantaran dan aliran air tersebut. Selain itu, acara juga melibatkan diskusi interaktif mengenai langkah-langkah pengelolaan sungai yang lebih baik. Menurut Ossy, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat komitmen masyarakat dalam menjaga ekosistem sungai.
Menurut Wamen Ossy, tindakan menjaga sungai adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga individu. “Dengan gotong royong, kita bisa menciptakan perubahan yang nyata,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa kolaborasi antara komunitas, akademisi, dan pelaku usaha akan mempercepat upaya pelestarian lingkungan air. Kegiatan yang dilakukan juga menjadi wadah untuk membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga keberlanjutan alam.
Dalam menjalankan kegiatan, Ossy Dermawan menyoroti pentingnya partisipasi aktif dari berbagai organisasi dan kelompok. Yayasan Bambu Indonesia, misalnya, menjadi salah satu mitra yang turut berkontribusi dalam membersihkan area sungai. Selain itu, para relawan, masyarakat setempat, dan komunitas lingkungan turut serta dalam menggerakkan gerakan ini. Ia menyatakan bahwa keberhasilan upaya memuliakan sungai bergantung pada keterlibatan sejumlah pihak dan komitmen yang serius.
Gerakan Nasional “AYO Muliakan Sungai”
Gerakan Nasional “AYO Muliakan Sungai” yang diadakan Jumat (19/06) menjadi contoh konkret bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan. Kegiatan ini bukan sekadar aksi bersih-bersih, tetapi juga upaya untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat. Ossy Dermawan menilai bahwa kegiatan tersebut berhasil menciptakan kesadaran kolektif tentang pentingnya aliran air sebagai aset vital.
“Gerakan ini menunjukkan bahwa menjaga sungai adalah tanggung jawab bersama. Saya berharap semakin banyak pihak yang terlibat dan mengambil peran nyata karena keberhasilan memuliakan sungai hanya dapat dicapai melalui semangat gotong royong dan kolaborasi,” ujarnya.
Dalam acara tersebut, Ossy juga menyinggung tantangan yang dihadapi sungai-sungai di Indonesia. Ia menyebut bahwa polusi, tumpukan sampah, dan aktivitas manusia yang tidak terkendali mengancam keberlanjutan ekosistem air. “Sungai adalah bagian dari kehidupan kita, jadi kita harus memulihkannya dengan langkah serius,” tegasnya. Selain itu, ia berharap gerakan ini bisa menjadi momentum untuk mendorong kebijakan yang lebih baik terkait pengelolaan sungai di tingkat nasional.
Keberhasilan Gerakan Nasional “AYO Muliakan Sungai” juga didukung oleh partisipasi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). AHY turut serta dalam kegiatan tersebut dan memberikan penekanan bahwa pengelolaan sungai tidak bisa dilakukan secara terpisah dari komitmen masyarakat. “Gerakan ini bukan hanya aksi bersih-bersih, tetapi gerakan bersama untuk menjaga sungai sebagai sumber kehidupan,” ujarnya.
“Keberhasilannya memerlukan kolaborasi masyarakat, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan pemerintah,” kata AHY.
Menurut AHY, sungai tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga nilai ekonomis yang besar. Ia menyoroti peran pelaku UMKM dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan. “Dengan pendekatan partisipatif, kita bisa menciptakan solusi yang lebih inovatif dan efektif,” imbuhnya. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi pintu masuk untuk menggalang kebijakan nasional yang lebih kuat terkait pengelolaan daerah aliran sungai.
Kolaborasi yang terjalin dalam Gerakan Nasional “AYO Muliakan Sungai” menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk menggerakkan perubahan. Ossy Dermawan mengapresiasi partisipasi berbagai pihak dalam menjaga kualitas air. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan kecil, seperti menanam pohon di sekitar sungai atau mengurangi limbah plastik, akan memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten. “Sungai adalah jantung negara, jadi kita harus menjaganya seperti jantung kita sendiri,” ujarnya.
Dalam rangka menindaklanjuti kegiatan ini, Ossy menyebut bahwa pemerintah akan terus berupaya menggalang dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Ia menyarankan adanya program pengawasan lingkungan yang lebih intensif, serta pendidikan tentang pentingnya sungai untuk kehidupan sehari-hari. “Dengan kesadaran yang lebih tinggi, kita bisa mencegah kerusakan yang terus berlanjut,” katanya.
Kegiatan bersih-bersih dan dialog interaktif yang dilakukan selama acara ini menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki semangat untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Ossy berharap gerakan ini bisa berlanjut dan berkembang menjadi kegiatan rutin yang diikuti oleh lebih banyak kalangan. “Sungai yang sehat akan menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.