Atap Kita Donasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kemenekraf tekankan isu keberlanjutan dalam pameran Creative Village

Published 21/10/2026 · Updated 21/10/2026 · By Rina Wibowo - atapkitadonasi.com

Kemenekraf Tekankan Isu Keberlanjutan dalam Pameran Creative Village

Atapkitadonasi.com – Kemenekraf tekankan isu keberlanjutan dalam pameran Creative Village yang menjadi bagian dari rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Pendekatan tersebut diterapkan tidak hanya melalui produk yang dipamerkan oleh pelaku ekonomi kreatif lokal, tetapi juga lewat cara penyelenggaraan acara, termasuk pemilihan lokasi dan penataan area pameran.

Creative Village diselenggarakan di kawasan SCBD, Jakarta, dengan kegiatan yang tersebar di beberapa titik, antara lain SCBD Park dan Ashta. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyampaikan bahwa penggunaan ruang yang telah tersedia menjadi salah satu langkah untuk mengurangi kebutuhan pembangunan baru yang berpotensi menghasilkan limbah setelah acara selesai.

Menurut Irene, penyelenggaraan acara berdurasi singkat kerap membutuhkan pembangunan stan dalam jumlah besar. Setelah kegiatan berakhir, material dari pembangunan tersebut dapat menjadi limbah apabila tidak dikelola dengan baik. Walaupun daur ulang dapat dilakukan, pengurangan kebutuhan material sejak awal tetap menjadi pertimbangan penting dalam penerapan konsep keberlanjutan.

Pemanfaatan Ruang yang Sudah Ada

Kemenekraf tekankan isu keberlanjutan dengan memanfaatkan kawasan yang telah memiliki fasilitas dan ruang publik. Di SCBD Park, konsep acara juga memperlihatkan potensi Jakarta sebagai kota yang dapat dinikmati dengan berjalan kaki. Pengunjung dapat berpindah dan menikmati aktivitas di sekitar kawasan tanpa harus bergantung pada pembangunan area baru secara berlebihan.

Pemilihan ruang yang sudah tersedia memberi manfaat dari sisi penyelenggaraan maupun lingkungan. Kebutuhan untuk membangun struktur sementara dapat ditekan, sehingga potensi sisa material setelah pameran berakhir juga dapat dikurangi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sebuah kegiatan kreatif dapat dirancang dengan mempertimbangkan dampaknya sejak tahap perencanaan.

Penyebaran kegiatan WCCE 2026 di sejumlah lokasi juga menjadi bagian dari gagasan tersebut. Dengan memanfaatkan SCBD Park dan Ashta, Creative Village menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung sekaligus membuka ruang bagi produk-produk kreatif Indonesia untuk tampil dalam lingkungan yang lebih terintegrasi dengan kawasan perkotaan.

Produk Kreatif Ramah Lingkungan Menjadi Sorotan

Selain tata kelola acara, Kemenekraf tekankan isu keberlanjutan melalui karya yang dipamerkan di Creative Village. Di area Ashta, pengunjung dapat melihat produk sustainable fashion yang memanfaatkan beragam material alternatif. Beberapa bahan yang digunakan antara lain linen, material dari ampas kopi, serta jaring nelayan bekas yang sudah tidak digunakan.

Pemanfaatan bahan-bahan tersebut memperlihatkan bagaimana pelaku ekonomi kreatif dapat mengolah material yang ada menjadi produk bernilai tambah. Inovasi ini tidak hanya berkaitan dengan desain dan tren fesyen, tetapi juga dengan cara pandang terhadap bahan baku, penggunaan sumber daya, serta peluang mengurangi material yang berakhir sebagai limbah.

Irene menilai perhatian terhadap lingkungan menjadi isu yang semakin penting secara global. Dalam konteks itu, produk kreatif yang menggunakan material alternatif dapat menjadi salah satu cara Indonesia menunjukkan kemampuan inovasi sekaligus komitmen terhadap masa depan yang lebih berkelanjutan. Ia berharap Indonesia dapat berada di posisi terdepan dalam isu tersebut.

Melalui Creative Village, keberlanjutan ditampilkan dalam dua arah yang saling berkaitan. Pertama, penyelenggaraan acara dirancang untuk mengurangi potensi limbah dengan mengoptimalkan ruang yang telah tersedia. Kedua, produk-produk kreatif memperlihatkan kemungkinan penggunaan material alternatif dalam karya yang memiliki nilai ekonomi dan daya tarik bagi pasar.

Peluang bagi Pelaku Ekonomi Kreatif Lokal

Pameran ini juga menjadi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia untuk memperkenalkan karya mereka kepada pengunjung dan pemangku kepentingan internasional. Kehadiran produk kreatif yang mengangkat prinsip keberlanjutan dapat memperluas percakapan tentang inovasi lokal, khususnya ketika perhatian pasar terhadap dampak lingkungan terus berkembang.

Dalam jangka panjang, pengenalan produk lokal melalui kegiatan seperti Creative Village dapat mendukung perluasan akses pasar dan peluang investasi. Nilai utama yang ditawarkan bukan semata-mata produk akhir, melainkan juga proses kreatif, pemilihan material, serta gagasan di balik karya yang dihasilkan.

Dengan demikian, Kemenekraf tekankan isu keberlanjutan bukan sebagai pelengkap dalam pameran, melainkan sebagai bagian dari cara Creative Village dijalankan dan diperkenalkan. Dari pemanfaatan ruang di kawasan SCBD hingga tampilan fesyen berbahan alternatif, kegiatan ini menggambarkan upaya menghubungkan kreativitas, inovasi, dan perhatian terhadap lingkungan.

Pertanyaan Umum

Apa yang dimaksud dengan pendekatan berkelanjutan dalam Creative Village?

Pendekatan berkelanjutan dalam Creative Village mencakup penggunaan ruang yang telah tersedia untuk mengurangi kebutuhan pembangunan baru, serta penampilan produk kreatif yang memakai material alternatif dan memiliki perhatian terhadap isu lingkungan.

Di mana kegiatan Creative Village dalam rangkaian WCCE 2026 berlangsung?

Kegiatan Creative Village berlangsung di kawasan SCBD, Jakarta, dan tersebar di beberapa titik, termasuk SCBD Park dan Ashta.

Material alternatif apa yang ditampilkan dalam produk fesyen?

Produk sustainable fashion yang ditampilkan menggunakan material seperti linen, bahan dari ampas kopi, dan jaring nelayan bekas yang tidak lagi digunakan.

Mengapa pemanfaatan ruang yang ada dianggap penting?

Pemanfaatan ruang yang sudah tersedia dapat membantu mengurangi kebutuhan pembangunan stan atau struktur baru untuk acara berdurasi singkat, sehingga potensi limbah setelah kegiatan selesai dapat ditekan.

Related Reading