Grab tegaskan tidak hengkang dari Indonesia
Main Agenda – Jakarta, Kamis – Perusahaan layanan transportasi daring Grab Indonesia membantah isu yang menyebutkan perusahaan akan meninggalkan pasar Indonesia. CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak akurat dan hanya merupakan kabar angin. “Grab menegaskan bahwa rumor mengenai rencana perusahaan untuk mengakhiri kehadirannya di Indonesia adalah salah,” tulis Neneng dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis. Pernyataan ini diberikan sebagai respons terhadap berbagai spekulasi yang muncul di media sosial, terutama setelah pengumuman kebijakan komisi 8 persen oleh pemerintah.
Pernyataan Tegas Grab Indonesia
“Grab akan terus berkomitmen dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, dan tidak ada rencana untuk menarik diri dari pasar ini,” jelas Neneng Goenadi dalam keterangan tertulis. Ia menekankan bahwa Indonesia telah menjadi bagian penting dari strategi bisnis Grab selama lebih dari sepuluh tahun, sejak masuk ke pasar pada 2015. CEO ini juga menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya berfokus pada profit, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem digital.
Grab tidak hanya mengeluarkan pernyataan tegas, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perusahaan terus berkontribusi pada sektor ekonomi digital. Dalam pernyataannya, Neneng menyebutkan bahwa kontribusi Grab mencakup lebih dari 50 persen dari total pendapatan industri ride-hailing dan pengantaran daring di Indonesia. Selain itu, perusahaan memberikan dukungan dalam menciptakan 4,6 juta peluang kerja melalui transformasi digital usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pernyataan ini bertujuan untuk menenangkan masyarakat yang khawatir akan dampak keluar dari Grab.
Dampak Positif dan Strategi Peningkatan Bisnis
“Kami yakin bahwa kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat akan memperkuat ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan,” tambah Neneng. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Grab tetap fokus pada pengembangan infrastruktur digital dan peningkatan kualitas layanan untuk konsumen dan mitra. Meskipun kebijakan komisi 8 persen menciptakan tantangan, Grab menilai bahwa ini adalah bagian dari upaya untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar dan kebijakan regulasi.
Strategi Grab untuk tetap beroperasi di Indonesia melibatkan penyesuaian tarif, peningkatan layanan, dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Neneng mengungkapkan bahwa perusahaan sedang mengevaluasi berbagai opsi, termasuk peningkatan biaya layanan, tetapi tidak akan mengambil langkah yang menjamin keluar dari pasar. Ia menekankan bahwa Grab terus berupaya meningkatkan kualitas operasional, memperkuat kepercayaan mitra, dan menjaga konsistensi dengan agenda nasional.
Salah satu langkah strategis Grab adalah memastikan pengembangan ekonomi digital yang berkelanjutan. Perusahaan menawarkan program investasi senilai Rp100 miliar untuk para mitra pengemudi dan mendorong transformasi usaha melalui teknologi. Hal ini berdampak signifikan pada perekonomian Indonesia, terutama bagi sektor UMKM yang membutuhkan perluasan pasar dan akses ke sumber daya digital. Grab juga terus mengembangkan layanan lain seperti GrabMart dan GrabExpress, yang menjadi bagian dari diversifikasi bisnis untuk memastikan stabilitas.
Kebijakan Komisi 8 Persen dan Respons Grab
Isu keluar dari Indonesia muncul setelah Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang pengaturan pendapatan mitra ojol diumumkan awal Mei lalu. Kebijakan ini membatasi komisi yang diterima oleh pengemudi ojol, sehingga berdampak pada pendapatan mereka. Grab, sebagai salah satu pemain utama dalam industri transportasi daring, dikenal sebagai pelaku yang berpengaruh dalam membentuk kebijakan regulasi. Perusahaan mengakui bahwa kebijakan ini memerlukan penyesuaian, tetapi menegaskan bahwa mereka tidak akan mengakhiri operasinya di Indonesia.
CEO Neneng Goenadi menyatakan bahwa kebijakan 8 persen bukanlah akhir dari hubungan Grab dengan Indonesia, melainkan salah satu cara untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan bisnis dan keadilan bagi mitra. Meskipun ada prediksi bahwa kebijakan ini bisa mengurangi permintaan, Grab berupaya memperkuat kepercayaan masyarakat dengan berbagai inisiatif, seperti program bantuan untuk mitra pengemudi dan pelatihan digital yang berkelanjutan. Pernyataan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa Grab tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada tanggung jawab sosial yang lebih besar.
“Grab akan terus berkolaborasi dengan pemerintah, mitra, dan seluruh pemangku kepentingan, karena bagi Grab, Indonesia bukan sekadar ekosistem, melainkan rumah tempat kami tumbuh bersama masyarakat,” ujar Neneng. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tetap berkomitmen pada jangka panjang, meskipun ada tantangan yang muncul. Grab juga berharap kebijakan ini dapat dijadikan sebagai fondasi untuk pembangunan ekonomi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dalam pernyataan resmi, Grab tidak hanya menjelaskan sikap mereka terhadap kebijakan komisi 8 persen, tetapi juga menegaskan keberlanjutan investasi di sektor transportasi daring. Perusahaan menilai bahwa Indonesia masih menjadi pasar yang strategis, dengan potensi pertumbuhan yang besar. Selain itu, Grab terus berupaya mengembangkan inovasi, seperti integrasi teknologi untuk mempercepat transaksi, meningkatkan kepuasan pengguna, dan menumbuhkan ekosistem yang lebih inklusif. Pernyataan ini menunjukkan komitmen mereka untuk terus menjadi bagian dari perjalanan ekonomi digital Indonesia.