Atap Kita Donasi
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Panas bumi yang tersisa di lereng Kamojang

Published 22/10/2026 · Updated 22/10/2026 · By Rizki Ananda - atapkitadonasi.com

Panas bumi yang tersisa di lereng Kamojang untuk pertanian

Atapkitadonasi.com – Panas bumi yang tersisa di lereng Kamojang tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Di kawasan perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, Jawa Barat, energi sisa dari aktivitas panas bumi juga membantu kegiatan pertanian warga. Salah satu contohnya terlihat pada pengolahan pupuk organik yang dilakukan oleh Hendro bersama Kelompok Tani Hutan Cikondang.

Hendro berjongkok di antara bedeng cengek, sebutan masyarakat Sunda untuk cabai rawit, sambil memetik buah yang masih hijau. Ia membedakan dua varietas yang dibudidayakan: cengek domba dengan bentuk menyerupai tanduk, serta cengek stroberi yang tampak lebih pendek dan buntet seperti buah stroberi.

Lahan yang digarap Hendro bersama kelompok tani tersebut sekitar 100 tumbak atau setara 1.400 meter persegi. Sebagian besar hasil panen cabai rawit dijual kepada pengepul. Kebun itu telah dipanen empat kali, dengan hasil berturut-turut 6 kilogram, 8 kilogram, 14 kilogram, dan 18 kilogram. Panen dilakukan setiap minggu.

Pola tanam yang menjaga lahan tetap produktif

Selain cabai rawit, Hendro menerapkan pola tanam tumpang sari. Kentang ditanam di sela-sela cabai keriting yang masa panennya hampir selesai. Dengan cara ini, tanah tidak dibiarkan kosong setelah cabai keriting selesai dipetik. Ketika tanaman cabai berakhir masa produksinya, kentang yang telah ditanam mulai membentuk umbi.

Pola tersebut membantu lahan tetap dimanfaatkan sepanjang musim tanam. Bagi petani, pengaturan tanaman yang tepat juga menjadi cara untuk menjaga keberlanjutan produksi tanpa membiarkan bedeng menganggur. Hendro, seorang petani muda lulusan SMK, dikenal sebagai local hero oleh PGE Area Kamojang karena menjadi mitra dalam program pemberdayaan masyarakat dan berbagi pengetahuan dengan petani lain.

Mengubah sisa panas bumi menjadi pengering pupuk

Di ujung lahannya terdapat gudang fermentasi untuk membuat pupuk organik. Bahan pupuk berasal dari campuran kotoran ayam, sapi, dan domba, serta jerami, pangkasan daun kidayang, dan sisa panen kubis. Perbandingan antara bahan kotoran hewan dan hijauan yang digunakan adalah 1:1.

Campuran tersebut diaduk lalu didiamkan selama sekitar 21 hari hingga satu bulan. Setelah proses fermentasi, bahan pupuk tidak dikeringkan dengan cara penjemuran biasa. Panas bumi yang tersisa di lereng Kamojang digunakan melalui ruang pengering tertutup yang memperoleh panas dari uap sisa.

Di sepanjang jaringan pipa PLTP Kamojang terdapat steam trap, yaitu katup yang berfungsi membuang kondensat dan kelebihan uap agar aliran menuju turbin tetap kering. Energi panas sisa dengan suhu sekitar 60 hingga 70 derajat Celsius kemudian dialirkan melalui pipa-pipa kecil di dalam ruang pengering. Panas tersebut membantu mengurangi kadar air dalam bahan pupuk organik yang masih basah.

Pupuk hasil racikan bahan organik itu diberi nama GeO-Fert. Pemanfaatan panas sisa ini memperlihatkan bahwa energi panas bumi dapat memberi manfaat tambahan di luar pembangkitan listrik. Bagi petani, fasilitas pengering membantu proses pengolahan pupuk berjalan tanpa hanya bergantung pada cuaca dan sinar matahari.

Panas bumi yang tersisa di lereng Kamojang menjadi contoh pemanfaatan energi sisa untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat sekitar.

FAQ tentang pemanfaatan panas bumi di Kamojang

Apa manfaat panas bumi sisa bagi petani?

Panas sisa digunakan untuk mengeringkan pupuk organik yang telah melalui proses fermentasi. Dengan ruang pengering berpemanas uap, pupuk tidak perlu hanya mengandalkan penjemuran konvensional.

Berapa suhu panas yang digunakan untuk pengeringan?

Sisa energi panas yang dialirkan ke ruang pengering memiliki suhu sekitar 60 hingga 70 derajat Celsius.

Apa saja bahan utama GeO-Fert?

GeO-Fert dibuat dari kotoran ayam, sapi, dan domba yang dicampur dengan bahan hijauan seperti jerami, pangkasan daun kidayang, serta sisa panen kubis.

Mengapa kentang ditanam di antara cabai?

Kentang ditanam secara tumpang sari agar lahan tetap produktif. Saat masa panen cabai keriting berakhir, tanaman kentang sudah mulai membentuk umbi sehingga tanah tidak dibiarkan kosong.

Related Reading