IHSG menguat ikuti bursa saham kawasan Asia

Indeks Saham Indonesia Melonjak Sejalan dengan Sentimen Positif Pasar Asia

Atapkitadonasi.com – Pada Kamis pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pergerakan positif yang sejalan dengan penguatan di berbagai bursa saham kawasan Asia. Pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kenaikan sebesar 12,14 poin atau setara dengan 0,19 persen, sehingga indeks berada di level 6.346,62. Kelompok saham unggulan yang terdiri dari 45 emiten terbaik atau yang dikenal sebagai Indeks LQ45 juga ikut menguat dengan kenaikan 0,81 poin atau 0,13 persen ke angka 633,36.

Menurut analisis teknis yang disampaikan oleh Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, kondisi pasar saat ini masih memberikan peluang bagi IHSG untuk melanjutkan tren naik selama indeks mampu bertahan di atas area support yang berada di kisaran 6.284 hingga 6.260. Jika kondisi ini terpenuhi, pasar memiliki potensi untuk kembali menguji level resistance di 6.377. Lebih lanjut, apabila terjadi breakout dan indeks berhasil bertahan di atas level tersebut, maka penguatan diperkirakan akan berlanjut menuju target 6.398 hingga 6.459. Sebaliknya, jika gagal menembus resistance, IHSG berpotensi mengalami koreksi sehat dengan support terdekat di 6.284-6.260, kemudian dilanjutkan dengan level 6.231.

“Selama IHSG mampu bertahan di atas area support 6.284-6.260, peluang melanjutkan penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.377. Jika mampu breakout dan bertahan di atas level itu, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.398-6.459. Sebaliknya, apabila kembali gagal menembus resistance, IHSG berpotensi mengalami pullback sehat dengan support terdekat di 6.284-6.260, kemudian 6.231,” ujar Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Faktor Global yang Mempengaruhi Sentimen Pasar

Dari sisi mancanegara, investor menunjukkan sikap hati-hati menjelang publikasi laporan keuangan perusahaan teknologi berkapitalisasi besar atau big caps. Laporan-laporan ini dinilai akan menjadi penentu arah reli saham yang bertema kecerdasan buatan atau AI. Fokus utama tertuju pada panduan belanja modal atau capex dari Alphabet, setelah perusahaan tersebut sebelumnya mengalokasikan anggaran AI sebesar 180 hingga 190 miliar dolar AS untuk tahun 2026. Beberapa analis bahkan memproyeksikan angka capex tersebut bisa melonjak hingga 190 hingga 200 miliar dolar AS, didorong oleh tingginya permintaan AI serta kenaikan harga chip memori.

Di sisi lain, kekhawatiran mengenai besarnya investasi AI dan ketidakpastian waktu pengembalian modal masih menjadi bayangan di pasar. Hal ini menyebabkan saham-saham semikonduktor yang sebelumnya memimpin reli mengalami koreksi tajam lebih dari 20 persen dari puncaknya. Selain faktor teknologi, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga kembali meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur strategis Iran apabila terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. Iran merespons dengan ancaman membalas terhadap fasilitas energi dan infrastruktur yang memiliki kepentingan AS di kawasan tersebut.

Kondisi geopolitik ini memperburuk gangguan distribusi energi global setelah ancaman juga meluas ke jalur pelayaran Laut Merah melalui Bab el-Mandeb oleh kelompok Houthi yang didukung Iran. Meski demikian, upaya diplomasi masih terus berlangsung dengan adanya usulan gencatan senjata selama 10 hari melalui mediator internasional.

Keputusan Bank Indonesia dan Dampaknya terhadap Pasar

Dari dalam negeri, Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Selain itu, Deposit Facility dipertahankan di level 4,75 persen dan Lending Facility di level 6,50 persen. BI memilih untuk memperkuat insentif investasi portofolio asing dibandingkan menaikkan suku bunga, karena dinilai lebih efektif menjaga stabilitas rupiah tanpa meningkatkan biaya pendanaan domestik di tengah ketidakpastian global. BI juga memperluas berbagai insentif untuk menarik arus modal asing, diantaranya menaikkan insentif Swap Jual Lindung Nilai dari 10 persen menjadi 12,5 persen. Upaya ini juga mencakup perluasan insentif DNDF Jual Lindung Nilai menjadi 15 persen serta memberikan tambahan insentif untuk transaksi Local Currency Transaction atau LCT.

Performa Bursa Regional dan Internasional

Pada perdagangan Rabu (22/7) kemarin, bursa Eropa kompak menguat. Euro Stoxx 50 menguat 0,57 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 1,24 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,58 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menguat 0,89 persen. Sementara itu, bursa Wall Street di AS kompak melemah pada Selasa Rabu (22/07). Indeks S&P 500 melemah 0,10 persen ke level 7.499,73, indeks Nasdaq Composite melemah 0,60 persen ke 25.690,90, serta Dow Jones Industrial Average melemah 0,01 persen ke 52.218,58.

Bursa saham regional Asia pagi ini juga menunjukkan pergerakan positif. Indeks Nikkei menguat 0,56 persen ke 66.485,00, indeks Shanghai menguat 0,02 persen ke 3.867,88, indeks Hang Seng menguat 1,16 persen ke 25.180,72, indeks Kospi menguat 2,18 persen ke 6.945,54, dan indeks Shenzen menguat 0,18 persen ke 14.080,36. Kombinasi faktor domestik dan global ini menciptakan suasana pasar yang optimis bagi investor Indonesia.