PBB sebut konflik hambat kepulangan pengungsi di Lebanon
Konflik Berkepanjangan Menghambat Proses Kepulangan Pengungsi di Lebanon
PBB sebut konflik hambat kepulangan pengungsi – Para pejabat kemanusiaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan bahwa meskipun warga Lebanon terus melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman mereka, laju kepulangan tersebut mengalami perlambatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Faktor utama yang menyebabkan kondisi ini adalah pertempuran yang masih berlangsung di berbagai wilayah. Hal ini dilaporkan pada hari Jumat, tanggal 17 Juli, oleh para perwakilan organisasi internasional yang memantau situasi di lapangan.
Meskipun intensitas pertempuran telah menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, dampak terhadap masyarakat sipil tetap terasa cukup besar. Situasi ini secara langsung menghambat upaya-upaya pemulihan yang sedang dilakukan. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau yang dikenal dengan singkatan OCHA mencatat bahwa kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri bagi warga yang ingin kembali ke tempat tinggal mereka.
Data Kepulangan dan Pengungsi yang Tersisa
Sejak eskalasi pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon dimulai pada awal bulan Maret, tercatat lebih dari 741.000 orang telah berhasil kembali ke daerah asal mereka. Angka ini menunjukkan adanya pergerakan signifikan dari populasi yang sebelumnya mengungsi. Namun, masih ada sekitar 412.000 orang yang hingga saat ini masih berada dalam status pengungsi di seluruh wilayah negara tersebut.
Dari jumlah pengungsi yang masih tersisa, sekitar 30.000 orang di antaranya masih tinggal di tempat penampungan kolektif. Kondisi ini mencerminkan bahwa meskipun banyak yang telah kembali, masih ada sebagian besar populasi yang belum menemukan tempat tinggal permanen mereka. OCHA terus memantau perkembangan situasi ini dengan cermat.
Tantangan Finansial Keluarga yang Kembali
OCHA memperingatkan bahwa kebutuhan kemanusiaan di Lebanon masih berada pada level yang sangat tinggi. Banyak keluarga yang sebelumnya mengungsi dan telah kembali ke rumah mereka masih mengalami tekanan finansial yang cukup berat. Tekanan ini muncul dari berbagai faktor yang harus mereka hadapi secara bersamaan.
“Banyak keluarga yang mengungsi dan telah kembali masih mengalami tekanan finansial karena mereka harus menghadapi kerusakan rumah, biaya sewa, biaya transportasi, tagihan utilitas, dan hilangnya mata pencaharian,” kata OCHA.
Kerusakan pada properti merupakan salah satu beban utama yang dihadapi. Selain itu, biaya transportasi untuk perjalanan kembali dan biaya sewa atau utilitas juga menambah beban keuangan. Hilangnya mata pencaharian selama masa konflik juga menjadi faktor penting yang memperparah kondisi ekonomi keluarga.
Bantuan dan Kebutuhan yang Masih Terbuka
PBB bersama dengan mitra-mitra kemanusiaannya terus berupaya untuk mendukung masyarakat yang membutuhkan sedapat mungkin. Sejak eskalasi perseteruan dimulai, hampir 840.000 orang telah menerima bantuan tunai darurat setidaknya satu kali. Bantuan ini bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar selama masa transisi.
OCHA terus menyerukan perlindungan yang lebih baik bagi warga sipil serta bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan mereka yang masih terdampak oleh konflik yang berkepanjangan. Hingga hari Jumat, kurang dari setengah dari 640 juta dolar AS yang dibutuhkan melalui permohonan bantuan darurat telah terkumpul. Dengan kurs 1 dolar AS setara dengan Rp 18.041, jumlah ini menunjukkan masih adanya kesenjangan pendanaan yang perlu ditutupi oleh komunitas internasional.