Titiek Soeharto Dorong Swasembada Bawang Putih Tanpa Ketergantungan Impor
Meeting Results – Di Jakarta, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, dikenal sebagai Titiek Soeharto, menekankan pentingnya Kementerian Pertanian mencapai swasembada bawang putih secepat mungkin. Ia menyatakan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap bahan pokok ini masih cukup tinggi, sehingga perlu langkah konkret untuk mengurangi impor. Dalam Rapat Kerja yang digelar di Jakarta, Rabu, Titiek mengkritik alasan program pengembangan bawang putih tidak tercantum dalam prioritas nasional, mengingat komoditas ini menjadi bagian penting dari kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Program Pengembangan Bawang Putih Masih Belum Terpenuhi
Pada sesi rapat tersebut, Titiek mempertanyakan mengapa Kementerian Pertanian belum mengusulkan bawang putih sebagai fokus utama dalam rencana pembangunan. Ia mengungkapkan, selama ini upaya swasembada hanya dianggap sebagai pembicaraan berulang setiap tahun, tanpa ada perubahan signifikan. “Saya rasa, bawang putih harus menjadi prioritas nasional karena ketergantungannya terhadap impor masih sangat besar,” tegas Titiek.
“Untuk saya, saya mau tanya lagi mengenai bawang putih. Pak Menteri. Kenapa kok enggak masuk lagi di program kerja prioritas nasional nih?,” tanya Titiek kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam sesi pendalaman rapat kerja tersebut.
Menanggapi pertanyaan Titiek, Menteri Pertanian menjelaskan bahwa pemerintah telah menyesuaikan anggaran untuk mendukung pengembangan bawang putih. Menurutnya, program tersebut sudah dijadwalkan dalam rencana kerja dan tidak ditunda hingga tahun depan. “Kementerian Pertanian sudah memperbesar anggaran khusus untuk pengembangan bawang putih tahun ini,” kata Amran.
Penguatan Anggaran Sebagai Langkah Awal
Amran menyebutkan, dana sebesar Rp260 miliar dialokasikan untuk mendorong pertumbuhan produksi bawang putih. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas saran yang disampaikan oleh Komisi IV DPR RI. Meski demikian, Titiek kembali menegaskan bahwa isu utamanya bukan hanya tentang ketersediaan dana, tetapi juga penempatannya sebagai prioritas nasional dalam dokumen yang diserahkan ke lembaga legislatif.
Dalam menjawab, Mentan menjelaskan bahwa ketidaktercantuman program ini dalam dokumen mungkin disebabkan oleh kesalahan penulisan. Ia memastikan bahwa pengembangan bawang putih tetap menjadi bagian dari agenda pemerintah dan telah diprioritaskan dalam anggaran tahun ini. “Kita sudah menggeser anggaran untuk proyek ini, jadi tidak perlu khawatir,” jelas Amran.
Ketersediaan Anggaran Tidak Membuat Prioritas Menjadi Sederhana
Titiek menekankan bahwa swasembada bawang putih adalah kebutuhan nasional, bukan sekadar aspirasi lokal. Ia mengingatkan bahwa sekitar 80 hingga 85 persen kebutuhan bawang putih Indonesia masih dipenuhi melalui impor. “Jadi, kita harus sepakat semua nih, harus swasembada. Bapak (Menteri Pertanian) harus bikin targetnya kapan mau swasembada?,” tegas Titiek.
Dalam upayanya, Titiek meminta Kementerian Pertanian menetapkan target waktu yang jelas untuk mencapai swasembada. Menurutnya, memiliki rambu-rambu jangka waktu penting agar program memiliki arah dan kemudian bisa dievaluasi secara terukur. “Kalau ada target, kita bisa memantau keberhasilannya dan menyesuaikan strategi,” tambahnya.
Target Swasembada Bawang Putih dalam 3 hingga 5 Tahun
Menjawab permintaan Titiek, Mentan menyatakan bahwa Kementerian Pertanian menargetkan swasembada bawang putih dalam waktu tiga sampai lima tahun ke depan. Ia mengungkapkan, dengan dukungan anggaran yang memadai dan penguatan sentra produksi, target ini bisa tercapai. “Kita sudah menyiapkan areal tanam yang akan diperluas, dan pusat-pusat benih akan ditingkatkan,” tutur Amran.
Titiek menyoroti tantangan utama dalam pengembangan bawang putih, yaitu karakteristik benih yang memiliki masa dormansi cukup lama, sekitar enam hingga delapan bulan. Karakteristik ini membuat proses peningkatan produksi lebih lambat dibandingkan komoditas lain seperti padi. “Kalau benihnya tidur enam hingga delapan bulan, sulit mencapai swasembada dalam dua tahun,” jelas Amran.
Mentan menjelaskan bahwa pemerintah telah menunjuk beberapa daerah sebagai pusat pengembangan benih bawang putih. Daerah-daerah tersebut antara lain Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara. Dengan diperkuat sentra benih dan peningkatan luas tanam yang ditargetkan mencapai 18.000 hektare pada tahun depan, pemerintah yakin bisa mewujudkan swasembada.
Strategi Penguatan Produksi Bawang Putih
Pengembangan sent