Strategi Penting: Bank Dunia: Lonjakan harga energi perlambat ekonomi Asia Timur-Pasifik

Bank Dunia: Lonjakan Harga Energi Perlambat Ekonomi Asia Timur-Pasifik

Jakarta – Dalam laporan terbaru, Bank Dunia memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik akan mengalami penurunan dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini dipicu oleh situasi geopolitik yang semakin memanas, yang berdampak pada kenaikan harga energi global.

Laporan Perkembangan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik yang dirilis pada Rabu (8/4) menyatakan bahwa pertumbuhan kawasan diperkirakan turun dari 5,0 persen pada tahun 2025 menjadi 4,2 persen pada 2026. Kenaikan harga energi, menurut laporan tersebut, menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika ekonomi di wilayah ini.

“Dukungan yang terukur bagi masyarakat dan perusahaan dapat menyelamatkan lapangan kerja saat ini, sementara menghidupkan kembali reformasi struktural yang tertunda dapat memicu pertumbuhan di masa depan,” ujar Aaditya Mattoo, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik.

Konflik di wilayah Timur Tengah, yang dimulai sejak 28 Februari, menjadi penyebab utama fluktuasi harga energi global. Dampaknya terasa signifikan, dengan indeks acuan gas alam naik hingga 90 persen dan harga minyak mentah meningkat lebih dari 30 persen.

Berbagai negara di kawasan ini memiliki tingkat kerentanan yang berbeda terhadap kenaikan harga energi. Negara-negara kepulauan Pasifik seperti Fiji, Mikronesia, Tonga, dan Vanuatu dinilai paling rentan. Sementara itu, importir energi besar seperti Thailand dan Mongolia menghadapi tekanan neraca perdagangan dan keterbatasan fiskal.

Ads
RumahBerkat - Post

Di sisi lain, negara-negara dengan bantalan ekonomi yang lebih kuat, seperti Kamboja, Vietnam, dan Indonesia, menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Daya tahan ini didukung oleh cadangan strategis, kapasitas kilang domestik, serta peningkatan ekspor komoditas yang berfungsi sebagai penyeimbang.

Kawasan Asia Timur dan Pasifik juga merupakan pengekspor utama pupuk, aluminium, dan petrokimia. Qatar serta Arab Saudi, misalnya, berkontribusi lebih dari 10 persen pada ekspor pupuk nitrogen dunia. Dengan demikian, dampak dari guncangan harga energi akan sangat bergantung pada tingkat keterpaparan masing-masing negara.