Phapros bukukan laba Rp27,44 miliar pada 2025
Topics Covered – Jakarta, 15 Mei 2025 – PT Phapros Tbk, anak perusahaan BUMN farmasi PT Kimia Farma Tbk, berhasil mencatatkan laba tahunan konsolidasian sebesar Rp27,44 miliar di tahun 2025. Angka ini menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang masih mencatatkan kerugian mencapai Rp290,63 miliar. Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan SDM Phapros Ferdinand Troedu menjelaskan bahwa pencapaian ini berkat strategi pengelolaan bisnis yang dijalankan perseroan sejak 2024 hingga 2025.
Penjualan dan Efisiensi Produksi
Dalam tahun 2025, penjualan bersih konsolidasian Phapros meningkat hingga Rp940,9 miliar, tumbuh 26,3 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp744,7 miliar. Ferdinand Troedu menekankan bahwa kenaikan penjualan ini didorong oleh beberapa inisiatif kunci, termasuk perbaikan rantai pasok, penguatan komersialisasi, serta pengembangan segmen pelanggan yang lebih luas. Selain itu, laba kotor perseroan juga naik drastis menjadi Rp492,5 miliar dari Rp270,66 miliar pada 2024, yang mencerminkan keberhasilan upaya efisiensi produksi dan pengadaan.
“Kenaikan laba tahunan konsolidasian mencerminkan dampak positif dari strategi pengelolaan bisnis yang berfokus pada efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas,” ujar Ferdinand Troedu dalam Public Expose perseroan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025 di Jakarta, Kamis.
Direktur Produksi Phapros Ida Rahmi Kurniasih menambahkan bahwa perseroan berhasil meningkatkan utilisasi kapasitas produksi hingga 72,65 persen pada 2025. Perbaikan ini berdampak langsung pada peningkatan margin keuntungan. Ia juga menyebutkan bahwa penghematan biaya pengadaan mencapai Rp28,4 miliar melalui pengadaan bersama bahan baku, yang memperkuat kemampuan perseroan dalam mengurangi beban operasional.
Perkembangan Distribusi dan Pemasaran
Di sisi distribusi dan pemasaran, Phapros mencatatkan pertumbuhan yang menggembirakan. Segmen Pedagang Besar Farmasi (PBF) tumbuh 9,7 persen, sementara outlet transaksi dari distributor non-afiliasi meningkat hingga 89,6 persen. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa perseroan mampu memperluas jaringan distribusi dan mengoptimalkan strategi pemasaran untuk mencapai pasar yang lebih luas.
“Kami melihat peningkatan signifikan dalam segmen PBF serta transaksi distributor independen,” kata Ida Rahmi Kurniasih dalam rapat umum tersebut.
Kenaikan penjualan juga didukung oleh perbaikan rasio harga pokok penjualan (HPP) terhadap penjualan, yang turun 16 poin persentase secara tahunan. Penurunan ini menunjukkan kemajuan dalam pengelolaan biaya produksi dan pengadaan, yang menjadi faktor utama dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan. Selain itu, perseroan berhasil menekan beban operasional dengan mengimplementasikan metode pengadaan massal yang mengurangi risiko fluktuasi harga bahan baku.
Ekspansi Pasar Ekspor
Di tahun 2026, Phapros akan melanjutkan momentum pertumbuhan dengan fokus pada ekspansi pasar ekspor. Direktur Utama perseroan Intan Abdams Katoppo menyatakan bahwa perusahaan telah menyiapkan rencana ekspansi ke beberapa negara, termasuk Timor Leste, Kamboja, Filipina, Myanmar, Papua Nugini, dan Peru. Langkah ini diharapkan mampu mengakses pasar internasional dan memperkuat keberlanjutan bisnis jangka panjang.
“Kami akan memperluas jaringan ekspor dengan memprioritaskan kualitas produk dan keandalan distribusi,” ujar Intan Abdams Katoppo dalam sesi diskusi RUPST 2025.
Dalam RUPST tahun buku 2025, perseroan juga menyetujui pembagian dividen tunai sebesar 15 persen dari laba bersih, senilai Rp4,12 miliar. Ini menjadi langkah penting setelah dua tahun berturut-turut tidak memberikan pembagian keuntungan kepada pemegang saham. Intan menyoroti bahwa keputusan ini sejalan dengan komitmen perseroan untuk memperbaiki kinerja keuangan dan membangun kembali kepercayaan investor.
Proyeksi Tahun 2026
Perseroan juga memperkirakan bahwa tren pertumbuhan akan berlanjut di triwulan I 2026. Penjualan bersih konsolidasian pada periode tersebut mencapai Rp221,1 miliar, naik 10,2 persen dibandingkan triwulan I 2025 sebesar Rp200,7 miliar. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan juga meningkat menjadi Rp24,6 miliar, naik 64 persen dari Rp15 miliar pada kuartal pertama tahun sebelumnya.
Kinerja yang membaik tidak hanya terlihat dari aspek keuangan, tetapi juga menunjukkan peningkatan daya saing dalam industri farmasi. Angka laba komprehensif untuk triwulan I 2026 mencapai Rp761,5 juta, berbalik positif dari kerugian Rp5,9 miliar di triwulan I 2025. Ferdinand Troedu menegaskan bahwa peningkatan ini didorong oleh keberhasilan strategi yang telah dijalankan sejak 2024, termasuk pengoptimalan operasional dan perbaikan manajemen risiko.
Intan Abdams Katopp