BNPB lapor Presiden perbaikan pemantauan karhutla dengan citra satelit
BNPB Perkuat Pemantauan Karhutla Lewat Citra Satelit
Atapkitadonasi.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui cara menghitung luas kebakaran hutan dan lahan dengan memanfaatkan citra satelit. Langkah ini disampaikan Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna Dua Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10).
Penyempurnaan metode tersebut diarahkan untuk meningkatkan ketepatan pemantauan titik panas, terutama di daerah yang menjadi fokus penanganan karhutla. Penggunaan data satelit menjadi bagian penting karena kebakaran dapat terjadi di kawasan yang luas, terpencil, atau sulit dijangkau secara langsung dari darat.
“Izin Bapak Presiden melaporkan bahwa sejak kami dilantik per tanggal 15 Oktober 2026, kami terus mengambil langkah memperbaiki metode penghitungan dengan menggunakan citra satelit,” kata Kristomei.
Lima Provinsi Menjadi Prioritas
BNPB menetapkan lima provinsi sebagai wilayah prioritas dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Kelima daerah itu adalah Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, serta Kalimantan Barat.
Penetapan prioritas ini membantu pemerintah memusatkan perhatian pada daerah yang memerlukan pemantauan dan respons lebih intensif. Dalam penanganan karhutla, informasi mengenai lokasi titik panas, luas area terdampak, kondisi udara, hingga perkembangan cuaca dibutuhkan agar tindakan yang dilakukan dapat disesuaikan dengan keadaan di lapangan.
Di antara lima wilayah tersebut, Sumatera Selatan dan Jambi tercatat mengalami kenaikan kejadian karhutla. Meski begitu, Kristomei menyatakan peningkatan yang terjadi belum berada pada tingkat yang terlalu signifikan.
“Sehingga ada lima provinsi prioritas hari ini, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Dan untuk yang mengalami penaikan itu adalah di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi hari ini, tapi tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Pemantauan melalui citra satelit dapat mendukung pembacaan situasi secara lebih terukur. Data tersebut dapat digunakan untuk melihat perubahan area terdampak dari waktu ke waktu, sekaligus membantu membedakan indikasi titik panas yang perlu segera diperiksa lebih lanjut.
Modifikasi Cuaca untuk Mendukung Penanganan
Selain membenahi sistem pemantauan, BNPB menjalankan operasi modifikasi cuaca di wilayah yang memerlukan dukungan penanganan karhutla. Upaya ini dilakukan melalui penyemaian es kering atau dry ice untuk membantu mendorong terbentuknya hujan.
Operasi modifikasi cuaca merupakan salah satu langkah yang dapat digunakan ketika kondisi atmosfer memungkinkan. Kehadiran hujan diharapkan dapat membantu membasahi area rawan serta mendukung pengendalian kebakaran, meskipun penanganan di lapangan tetap membutuhkan koordinasi berbagai pihak dan pemantauan yang berkelanjutan.
Sejak 20 Oktober, BNPB telah menyemai 3.100 kilogram es kering melalui lima sorti penerbangan. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa respons karhutla tidak hanya bertumpu pada pengamatan data, tetapi juga mencakup tindakan operasional untuk membantu memperbaiki kondisi di area yang membutuhkan perhatian.
Di Sumatera Selatan, satu sorti penyemaian menggunakan 800 kilogram es kering. Hasil yang disampaikan mencakup perbaikan kondisi udara di Palembang, ditandai dengan turunnya kadar partikulat dan meningkatnya jarak pandang secara tajam.
“Sehingga ada penurunan PM (particulate matter/kadar polusi udara), PM 2, 2,5 turun, kemudian jarak pandang atau visibility di Palembang saya bisa dari 700 meter menjadi 7.000 meter,” kata Kristomei.
Arti Perbaikan Kualitas Udara
Penurunan partikulat, termasuk PM 2,5, menjadi indikator yang penting dalam melihat kondisi kualitas udara. Partikulat merupakan partikel sangat kecil di udara yang dapat meningkat ketika asap kebakaran meluas. Sementara itu, jarak pandang menggambarkan seberapa jauh objek masih dapat terlihat dalam kondisi tertentu.
Perubahan jarak pandang di Palembang dari 700 meter menjadi 7.000 meter menunjukkan adanya perbaikan yang nyata pada kondisi penglihatan di udara. Dalam konteks karhutla, membaiknya visibilitas dapat menjadi tanda bahwa dampak asap berkurang, walaupun pemantauan terhadap perkembangan cuaca, titik panas, dan kualitas udara tetap perlu diteruskan.
Penggabungan penghitungan berbasis citra satelit dan operasi modifikasi cuaca memperlihatkan dua kebutuhan yang berjalan bersamaan: memperoleh gambaran situasi yang lebih akurat serta melakukan intervensi ketika kondisi memerlukannya. Ketelitian data penting agar sumber daya dapat diarahkan ke wilayah yang tepat, sedangkan tindakan lapangan diperlukan untuk mengurangi dampak kebakaran dan asap.
Bagi masyarakat di provinsi prioritas, pembaruan metode pemantauan ini relevan karena informasi yang lebih akurat dapat mendukung respons yang lebih cepat terhadap perkembangan karhutla. BNPB pun menempatkan Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat sebagai titik perhatian utama dalam upaya pengendalian saat ini.
Dengan kenaikan kejadian yang tercatat di Sumatera Selatan dan Jambi namun belum dinilai signifikan, pemerintah tetap melanjutkan pemantauan dan langkah penanganan. Perkembangan kualitas udara serta kondisi jarak pandang di Palembang menjadi salah satu gambaran hasil dari operasi yang telah dilakukan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BNPB lapor Presiden perbaikan pemantauan karhutla?BNPB lapor Presiden perbaikan pemantauan karhutla is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BNPB lapor Presiden perbaikan pemantauan karhutla matter?BNPB lapor Presiden perbaikan pemantauan karhutla matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.