Humaniora

Menag dipilih jadi presiden pertama majelis imam masjid dunia

Daftar Isi
  1. Nasaruddin Umar Pimpin Majelis Imam Masjid Dunia yang Baru Dibentuk
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Nasaruddin Umar Pimpin Majelis Imam Masjid Dunia yang Baru Dibentuk

Atapkitadonasi.com – Jakarta menjadi pusat administrasi bagi The International Assembly of Mosque Imams (IAMI), organisasi internasional baru yang menghimpun imam masjid dari berbagai kawasan dunia. Pembentukan IAMI disepakati dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, sekaligus menetapkan Menteri Agama dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar sebagai presiden pertamanya.

Penetapan tersebut mendapat sambutan dari para imam besar, mufti, serta perwakilan negara yang mengikuti konferensi. Forum IGIC 2026 melibatkan masukan dari imam, mufti, dan delegasi yang berasal dari 46 negara. Kehadiran lembaga ini diharapkan menjadi wadah kerja sama lintas negara untuk memperkuat peran imam dan masjid dalam kehidupan umat.

Nasaruddin Umar menyampaikan rasa rendah hati atas amanah yang diberikan kepadanya. Ia berharap para tokoh yang hadir dapat turut mendukung pelaksanaan tugas tersebut, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul dalam membangun organisasi internasional baru.

“Saya merasa tidak pantas untuk dipilih menjadi pimpinan imam besar, saya takut mengecewakan harapan dari sini. Karena itu, jika ini memang kehendak-Nya memilih saya sebagai pimpinan, saya harap agar dapat memahami kelemahan saya dan membantu saya mengatasi kelemahan itu,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Masjid sebagai pusat kemaslahatan

Dalam pandangannya, masjid perlu kembali ditempatkan sebagai institusi yang memiliki fungsi luas di tengah masyarakat. Perannya tidak berhenti pada penyelenggaraan ibadah, melainkan juga mencakup penguatan kapasitas umat, penyatuan warga, dan pemberian manfaat yang nyata bagi kemanusiaan.

Gagasan itu menempatkan masjid sebagai ruang sosial yang terbuka dan produktif. Di dalamnya, masyarakat dapat bertemu, membangun komunikasi, memperoleh pembelajaran, serta mengembangkan kegiatan yang membantu kebutuhan bersama. Bagi Nasaruddin Umar, arah pengelolaan masjid perlu bergerak dari ketergantungan pada dukungan umat menuju kemampuan masjid untuk turut menguatkan umat.

“Masjid itu kita harus mengubah. Selama ini umat yang memberdayakan masjid, tetapi kita harus membalik, masjid-lah yang harus memberdayakan umat,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Pandangan tersebut berkaitan dengan fungsi masjid pada masa Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam (SAW). Pada masa itu, masjid menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, bukan semata ruang ritual. Fungsinya mencakup kegiatan pendidikan, konsultasi, pertemuan warga, hingga upaya pemberdayaan masyarakat dari beragam lapisan.

Dengan pendekatan semacam itu, imam tidak hanya menjalankan peran dalam memimpin ibadah. Mereka juga memiliki posisi penting untuk menghidupkan nilai kepedulian, membangun persaudaraan, dan mendorong kegiatan yang mendatangkan kemaslahatan. Penguatan peran imam menjadi salah satu konteks penting dari pembentukan majelis dunia tersebut.

“Masjid itu bukan hanya tempat, tetapi juga tempat pemberdayaan umat, masjid itu sekretariat negara, sekretariat memberdayakan imam, masjid juga baitul mal, pada zamannya,” katan Menag Nasaruddin Umar.

Jakarta menjadi sekretariat permanen

IAMI berkedudukan di Jakarta sebagai sekretariat permanen dan pusat administrasi. Penempatan ini memberi Indonesia peran sebagai titik koordinasi bagi komunikasi serta kegiatan organisasi yang melibatkan imam masjid dari berbagai negara.

Selain kantor pusat di Jakarta, IAMI akan memiliki kantor wilayah di sejumlah kota yang mewakili kawasan dunia. Kuala Lumpur ditetapkan sebagai pusat regional Asia, sementara Kairo menangani kawasan Timur Tengah. Nairobi menjadi kantor wilayah Afrika, London untuk Eropa, dan New York untuk Amerika Utara.

Untuk Amerika Selatan, IAMI menempatkan kantor regional di Rio de Janeiro. Adapun Canberra menjadi pusat koordinasi untuk Australia dan kawasan Pasifik. Sebaran kantor tersebut mencerminkan cakupan organisasi yang dirancang melintasi wilayah geografis dan komunitas Muslim yang beragam.

Struktur regional memungkinkan kegiatan IAMI dijalankan lebih dekat dengan kebutuhan masing-masing kawasan. Setiap wilayah memiliki latar sosial, budaya, dan kondisi masyarakat yang berbeda, sehingga komunikasi antarpemimpin masjid dapat berkembang tanpa mengabaikan karakter lokal.

Amanah kepemimpinan lintas negara

Sebagai presiden pertama IAMI, Nasaruddin Umar menyatakan kesiapannya mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktu untuk kepentingan umat. Amanah tersebut juga membawa tanggung jawab untuk mempertemukan pandangan, membangun kerja sama, serta menguatkan peran masjid di tengah perubahan kehidupan masyarakat global.

Pembentukan IAMI dapat dipahami sebagai langkah untuk menciptakan ruang perjumpaan bagi para imam, mufti, dan pemangku kepentingan keagamaan dari banyak negara. Masjid memiliki kedekatan langsung dengan jamaah dan masyarakat sekitar, sehingga penguatan fungsinya berpotensi membantu terciptanya kehidupan sosial yang lebih saling mendukung.

Melalui sekretariat permanen di Jakarta dan jaringan kantor wilayah di tujuh kota dunia, IAMI memulai perjalanannya sebagai majelis yang membawa agenda pemberdayaan masjid dan umat. Kepemimpinan pertamanya kini berada di tangan Nasaruddin Umar, dengan dukungan yang diharapkan datang dari para imam besar dunia yang hadir dalam IGIC 2026.

Frequently Asked Questions

What is Menag dipilih jadi presiden pertama majelis?

Menag dipilih jadi presiden pertama majelis is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menag dipilih jadi presiden pertama majelis matter?

Menag dipilih jadi presiden pertama majelis matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Nadia Ramadhan - atapkitadonasi.com

Nadia Ramadhan - atapkitadonasi.com

Nadia Ramadhan menulis seputar donasi, kepedulian sosial, dan peran masyarakat dalam membantu sesama. Di atapkitadonasi.com, ia menghadirkan artikel yang bersifat edukatif dan reflektif, terutama terkait makna berbagi di bulan-bulan istimewa dan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, donasi bukan sekadar memberi, tetapi juga memahami dampaknya.