Program Terbaru: Dinkes Sulbar perkuat strategi deteksi dini eliminasi kasus TBC
Dinkes Sulbar Tingkatkan Deteksi Awal untuk Mengurangi Penyebaran TBC
Mamuju – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sulawesi Barat sedang mengintensifkan upaya deteksi dini sebagai langkah untuk mengurangi jumlah penderita tuberkulosis (TBC) di wilayahnya. Kepala Dinkes P2KB Sulbar, Nursyamsi Rahim, mengungkapkan bahwa skrining aktif, investigasi kontak, serta optimalisasi peran puskesmas dan jaringan layanan kesehatan menjadi faktor penting dalam memutus siklus penularan penyakit tersebut.
Capaian Tercapai di Aspek Pengobatan
Menurut data Kementerian Kesehatan per 1 Maret 2026, provinsi Sulbar masih berada di kategori penyelesaian menengah dalam capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pengobatan TBC. Namun, hasil di bidang pengobatan menunjukkan peningkatan signifikan, di mana tingkat keberhasilan pengobatan pasien TBC resisten obat mencapai 100 persen, sementara pasien sensitif obat mencapai 86 persen. Angka ini mencerminkan akses pengobatan yang memadai bagi sebagian besar masyarakat.
“Keberhasilan pengobatan yang sangat baik harus diimbangi dengan penguatan deteksi awal dan upaya pencegahan. Fokus kita ke depan adalah memperluas skrining, meningkatkan investigasi kontak, serta memperkuat peran masyarakat dalam mengendalikan TBC,” ujar Nursyamsi.
Kesenjangan di Aspek Deteksi dan Pencegahan
Sementara itu, pada indikator hulu seperti deteksi dan pencegahan, terdapat perbedaan yang cukup besar. Capaian terapi pencegahan TBC (TPT) di Sulbar hanya mencapai dua persen, jauh di bawah target nasional sebesar 60 persen. Penemuan kasus TBC juga belum memenuhi standar yang ditetapkan, berpotensi menyebabkan penyebaran penyakit terus berlanjut.
Nursyamsi menekankan bahwa peningkatan penguasaan indikator ini menjadi prioritas dalam percepatan program penanggulangan TBC. Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis komunitas perlu ditingkatkan dengan melibatkan kader kesehatan, pemerintah desa, serta sektor terkait lainnya untuk memperluas jangkauan layanan dan kesadaran masyarakat.
Integrasi Program dan Teknologi
Dinas Kesehatan Sulbar juga mendorong inovasi dari kabupaten dalam menyelaraskan program TBC dengan layanan kesehatan lain, seperti posyandu, pemeriksaan kesehatan di sekolah, serta CKG (pemeriksaan kesehatan gratis). Penguatan sistem pencatatan dan pelaporan digital dianggap sebagai bagian kritis untuk memastikan data yang akurat dan respons cepat terhadap penyebaran TBC di lapangan.
Menurut Nursyamsi, pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu strategi kunci dalam percepatan eliminasi TBC. Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor, termasuk kader dan pemerintah desa, sangat penting untuk menjangkau kelompok rentan dan meningkatkan kesadaran masyarakat. “Penanggulangan TBC bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan sinergi semua pihak,” tuturnya.
