220 Siswa Korban Bencana di Nagan Raya Aceh Selesaikan Ujian Akhir
Solution For – Nagan Raya, Aceh – Sebanyak 220 siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, telah rampung melaksanakan ujian akhir. Meski belajar dalam kondisi yang terbatas, seperti berada di tenda darurat atau bangunan sementara, mereka tetap mampu menjalani proses pendidikan secara teratur. Kepala Dinas Pendidikan setempat, Zulkifli, memberikan pernyataan bahwa keberhasilan ini menjadi bukti semangat para pelajar dalam menghadapi tantangan akibat bencana alam.
“Alhamdulillah, meskipun terkena dampak banjir dan longsoran tanah, para siswa di Beutong Ateuh Banggalang tetap bersemangat menyelesaikan ujian akhir. Mereka belajar di tempat sementara, namun tidak mengurangi komitmen terhadap pendidikan,” ujarnya kepada ANTARA di Suka Makmue, Rabu.
Dukungan Pemerintah untuk Pendidikan Terus Berjalan
Zulkifli menambahkan, upaya pemerintah daerah telah berjalan efektif dalam memastikan proses belajar-mengajar tidak terganggu. Sejumlah sekolah yang rusak parah akibat bencana kini beroperasi di lokasi darurat, seperti SMP Negeri Beutong Ateuh Banggalang. Di sekolah tersebut, terdapat 97 siswa yang masih aktif belajar, terdiri dari 54 laki-laki dan 43 perempuan. Sementara itu, SD Negeri 1 Beutong Ateuh Banggalang menyediakan tempat belajar bagi 123 siswa, dengan rincian 55 laki-laki dan 68 perempuan.
Menurut Zulkifli, keberadaan sekolah sementara menjadi solusi penting untuk menghindari kehilangan masa belajar para siswa. “Pemerintah setempat sudah berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan dengan fasilitas yang tersedia, meskipun tidak sempurna,” jelasnya. Langkah ini dilakukan setelah bencana terjadi pada bulan Desember 2025 lalu, dengan instruksi langsung dari Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan.
Keberlanjutan Pendidikan Jadi Prioritas
Teuku Raja Keumangan menegaskan bahwa pendidikan harus tetap berjalan meski kondisi fisik sekolah mengalami kerusakan. “Tidak boleh ada siswa yang terhenti belajarnya hanya karena kekurangan infrastruktur,” tegasnya. Selain itu, bupati meminta dinas pendidikan untuk terus memperhatikan kesejahteraan para pelajar, termasuk kesiapan mereka dalam menghadapi proses pendidikan yang diubah.
Menyusul krisis akibat bencana, pihak berwenang memastikan bahwa aktivitas belajar di sekolah darurat berjalan lancar. Zulkifli menjelaskan bahwa tenaga pengajar di area tersebut sebagian besar merupakan warga lokal, sehingga memudahkan proses adaptasi siswa. “Kebanyakan guru yang bertugas adalah putra-putri asli Beutong Ateuh Banggalang, sehingga mereka lebih memahami kebutuhan dan kondisi pelajar di sana,” tambahnya.
Upaya Memulihkan Kondisi Psikologis Siswa
Di samping fokus pada proses belajar, pihak Dinas Pendidikan juga memberikan pendampingan khusus untuk memulihkan kondisi psikologis siswa. Zulkifli menyebut bahwa para pelajar korban bencana diberi perhatian ekstra, terutama setelah mengalami trauma akibat kejadian yang terjadi. “Kondisi psikologis mereka perlahan pulih, dan kini mereka lebih mampu menerima situasi saat ini,” kata Zulkifli.
Kondisi ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang menekankan keberlanjutan pendidikan dalam situasi darurat. Siswa di wilayah pedalaman Nagan Raya diberikan fasilitas belajar yang memadai, termasuk perlengkapan akademik, meski secara fisik mereka berada di lingkungan yang berbeda dari biasanya. Zulkifli menegaskan bahwa progres ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak terhenti meski bencana mengguncang daerah.
Sekolah Darurat sebagai Pilihan Terbaik
Zulkifli menjelaskan bahwa sekolah darurat di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang menjadi alternatif utama bagi para siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran di lokasi asal. “Selama ini, kami berupaya mengatur pembagian ruang belajar agar semua siswa dapat fokus pada proses belajar,” ujarnya. Dengan dukungan dari masyarakat sekitar, sekolah darurat ini berjalan cukup efisien meski masih menghadapi berbagai tantangan.
Menurut Zulkifli, sekolah sementara juga membantu menjaga kesinambungan pembelajaran di tengah keterbatasan fisik gedung. “Proses belajar di tenda darurat tidak jauh berbeda dari normal, selama ada pengawasan yang tepat,” katanya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja sama antara pemerintah, guru, dan masyarakat setempat.
Kebijakan Pemerintah Daerah Menjaga Kualitas Pendidikan
Kebijakan yang diambil oleh pemerintah Nagan Raya selama ini dirancang untuk menjaga kualitas pendidikan hingga semua siswa kembali belajar di lingkungan yang layak. Dengan adanya sekolah darurat, para pelajar tetap memiliki akses ke materi pelajaran, ujian, dan kegiatan ekstrakurikuler. Zulkifli menyebutkan bahwa kondisi fisik sekolah sementara terus diperbaiki sesuai kemampuan daerah.
Menurutnya, sekolah darurat menjadi solusi sementara yang lebih efektif dibandingkan menghentikan pembelajaran selama berbulan-bulan. “Kami juga berupaya meminimalkan dampak bencana pada proses pendidikan, termasuk dalam hal psikologis para siswa,” jelas Zulkifli. Ia berharap, dalam beberapa waktu mendatang, kondisi sekolah bisa kembali normal dan semua siswa dapat belajar di lingkungan yang aman serta nyaman.
Dengan langkah-langkah ini, pemerintah Nagan Raya berharap masyarakat tidak kehilangan semangat dalam membangun kembali daerah mereka. Siswa yang telah selesai ujian akhir menjadi bagian dari bukti bahwa pendidikan tetap bisa berjalan, meski di tengah krisis alam. Zulkifli juga menekankan bahwa proses belajar-mengajar di tenda darurat terus diperhatikan, termasuk pengawasan dari pihak berwenang.
Progres Meningkatkan Kualitas Sekolah Darurat
Selama ini, Dinas Pendidikan terus meningkatkan kualitas fasilitas di sekolah darurat. Hal ini dilakukan untuk memastikan siswa tidak merasa terganggu dalam proses belajar. “Peralatan dan perlengkapan yang diberikan harus memadai agar tidak menghambat kegiatan belajar,” tambah Zulkifli. Dengan adanya penyesuaian ini, proses pendidikan bisa berjalan stabil, meski dalam kondisi yang tidak ideal.
Kebijakan pendidikan darurat ini juga mendapat apresiasi dari masyarakat setempat. Warga mengatakan bahwa anak-anak tetap bisa belajar dengan baik, meski tidak di lingkungan yang biasanya. “Kami merasa senang karena pendidikan tidak terganggu, dan siswa bisa menyelesaikan ujian akhir seperti biasa,” ujar salah satu orang tua pelajar.
Dengan hasil ini, Zulkifli berharap para siswa bisa melanjutkan pendidikan mereka tanpa hambatan. “Kami juga siap membantu mereka sepanjang proses pemulihan di daerah ini,” kata Zulkifli. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini menjadi motivasi untuk terus berupaya memperbaiki kondisi sekolah dan masyarakat setelah bencana. Pemerintah daerah berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh hingga semua siswa dapat kembali bel