Humaniora

Solution For: PPIH: Haji asal Aceh meninggal di Tanah Suci bertambah jadi 15 orang

PPIH: Jumlah Haji Aceh Meninggal di Tanah Suci Bertambah Menjadi 15 Orang

Solution For – Banda Aceh, 20 Juni 2026 – Pihak Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Aceh melaporkan adanya penambahan dua jamaah asal Aceh yang meninggal dunia di Tanah Suci, sehingga jumlah total wafat di Makkah dan Madinah kini mencapai 15 orang. “Kedua jamaah Aceh ini meninggal di Makkah, dan sampai saat ini total yang wafat di Tanah Suci mencapai 15 orang,” ujar Ketua PPIH Debarkasi Aceh Arijal saat memberikan keterangan di Banda Aceh, Sabtu (20/6).

Penambahan Kematian di Makkah dan Jeddah

Dalam kesempatan tersebut, Arijal menjelaskan bahwa dua jamaah baru yang meninggal adalah M Natsir Muhammad Isa (60) dari Kloter 14 asal Pidie Jaya, yang wafat di RS Al Hada Armed Forces Hospital Makkah. Di hari yang sama, Cut Salimah (81) dari Kloter 10 asal Kabupaten Pidie juga menghembuskan napas terakhirnya di GNP Hospital Jeddah. Kedua jamaah ini sebelumnya telah menjalani perawatan di Arab Saudi sebelum mengakhiri hidup mereka.

“Keduanya memang telah dalam proses perawatan di sana, dan hari ini dikabarkan telah wafat,” kata Arijal.

Arijal menegaskan bahwa kepergian para jamaah ini adalah bagian dari proses menunaikan ibadah haji yang merupakan bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan dan berharap mereka diberikan ketabahan serta kesabaran dalam menerima kepergian para anggota keluarga.

Histori Kematian Haji Aceh di Tanah Suci

Sebelumnya, sebanyak 13 jamaah asal Aceh telah meninggal dunia di Arab Saudi sejak pelaksanaan ibadah haji dimulai. Contohnya, Mustafa Ismail (69) dari Kloter 4 asal Kota Banda Aceh meninggal di RS King Abdul Aziz Makkah akibat gangguan pernapasan pada Jumat (19/6). Busra Bustamam Jamil dari Kloter 9 asal Kabupaten Aceh Selatan juga wafat di Makkah, Rabu (18/6).

Kematian Dedeng Trisulo (tidak disebut usia) dari Kloter 11 asal Kota Lhokseumawe terjadi di pemakaman Baqi, Madinah, pada Rabu (18/6) akibat komplikasi penyakit. Sementara itu, Razali Mahmud Ben dari Kloter 4 asal Kota Langsa meninggal di Al Haram Hospital Madinah pada Senin (15/6) karena kondisi kesehatannya yang memburuk.

Pengurusan Jenazah dan Kondisi Saat Ini

Arijal menyebutkan bahwa jenazah jamaah Aceh yang wafat di Makkah telah dimakamkan di dua lokasi berbeda, yaitu Pemakaman Syariah dan Saraya Suhada Al Haram. Sedangkan jenazah yang berada di Madinah, khususnya Dedeng Trisulo, dikebumikan di Pemakaman Baqi. Proses pengurusan jenazah dilakukan secara cepat sesuai dengan protokol yang berlaku.

Saat ini, terdapat tujuh jamaah asal Aceh yang masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi, baik di wilayah Makkah maupun Madinah. Arijal menjelaskan bahwa kematian para jamaah ini bukanlah hal yang terlalu mengagetkan, karena sejumlah dari mereka telah mengalami kondisi kesehatan yang memburuk sejak sebelum tiba di Tanah Suci.

“Kepergian mereka saat menunaikan ibadah haji, semoga menjadi jalan menuju rahmat dan ampunan-Nya,” ujarnya.

Arijal juga menambahkan bahwa para keluarga yang ditinggalkan di Aceh telah diberi kesempatan untuk menemui jenazah sebelum diangkut kembali ke Tanah Air. Proses ini dilakukan untuk memberikan kepastian emosional kepada keluarga sekaligus memastikan prosedur pengurusan jenazah berjalan lancar.

Pengembalian Kloter dan Penyelenggaraan Ibadah Haji

Selama periode pengembalian kloter, yaitu 15-30 Juni 2026, 5 kloter dengan total 1.959 jamaah telah tiba di Aceh. Arijal menyatakan bahwa kelompok terbang lainnya terus diikuti, dan semua jamaah yang kembali akan menjalani pemeriksaan kesehatan serta prosedur pemakaman sesuai ketentuan.

Dalam perjalanan kembali ke Tanah Air, para jamaah yang meninggal akan diangkut dalam jadwal khusus. PPIH berkomitmen untuk memberikan perlakuan yang layak kepada jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. Arijal menegaskan bahwa semua kegiatan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan sesuai aturan yang berlaku.

Kematian para jamaah Aceh di Tanah Suci menjadi sorotan publik, terutama karena jumlahnya terus bertambah meskipun kondisi kesehatan umum para jamaah dianggap stabil. Arijal menjelaskan bahwa para jamaah yang meninggal kebanyakan mengalami komplikasi penyakit yang tidak terduga, seperti gangguan pernapasan, penyakit kronis, atau kondisi tubuh yang lemah.

Menurut Arijal, pengawasan kesehatan terhadap jamaah Aceh tetap dilakukan secara intensif sejak mereka tiba di Arab Saudi. Namun, beberapa jamaah mengalami penyakit yang memburuk karena faktor usia atau kondisi medis yang tidak terduga. “Kami selalu memantau kesehatan mereka, tetapi tidak semua penyakit dapat dicegah,” tambah Arijal.

Doa dan Harapan untuk Jamaah yang Wafat

Dalam kesempatan ini, Arijal juga menyampaikan doa dan harapan kepada para jamaah yang meninggal. “Semoga kepergian mereka menjadi penguatan iman dan kesabaran bagi keluarga serta masyarakat Aceh,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa semua amal ibadah, doa, dan pengabdian yang telah mereka lakukan diharapkan diterima oleh Allah SWT.

PPIH Debarkasi Aceh berharap kejadian ini menjadi pembelajaran untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi situasi kesehatan di masa depan. Arijal menyatakan bahwa pihaknya terus berusaha memastikan kualitas pelayanan kepada jamaah dan keluarga mereka. “Kami berkomitmen untuk memberikan yang terbaik dalam pengelolaan ibadah haji,” tutur Arijal.

Sebagai penutup, Arijal menegaskan bahwa kepergian para jamaah Aceh di Tanah Suci adalah bagian dari perjalanan spiritual yang mereka lakukan. “Ini adalah kesempatan untuk meraih kebaikan dan berharap menjadi bagian dari berkah yang diberikan oleh Allah,” pungkasnya.

Tegar Ananda

Tegar Ananda menulis tentang isu sosial, donasi, dan peran individu dalam menciptakan perubahan positif. Melalui atapkitadonasi.com, Tegar menghadirkan konten yang mendorong kesadaran sosial tanpa klaim berlebihan. Ia percaya bahwa setiap orang dapat berkontribusi, sekecil apa pun, jika dilakukan dengan cara yang tepat.