Tidak Ada Desa Terisolasi Akibat Gempa Sulteng, Warga Dirikan Tenda Darurat
Tidak ada desa terisolasi akibat gempa – Jakarta – Setelah gempa bermagnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tidak ada desa yang terisolasi. Pemukiman warga yang terkena dampak gempa justru menunjukkan keberanian dengan mendirikan tenda darurat dari terpal di sekitar rumah masing-masing. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa saat ini, tenda pengungsian berskala besar yang dilengkapi dapur umum belum dibangun secara terpusat. Masyarakat lebih memilih membangun tempat berlindung sementara sendiri, sebagai respons terhadap trauma psikologis akibat intensitas gempa susulan yang terus menggoyang wilayah tersebut.
Aktivitas Gempa Susulan Terus Terjadi
Menurut informasi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 118 gempa susulan telah tercatat sejak peristiwa utama pada Jumat (16/6) siang. Meski magnitudo getaran gempa sedang menurun, intensitasnya masih terasa cukup signifikan bagi masyarakat di daerah terdampak. Aktivitas seismik ini menimbulkan ketakutan, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rentan longsor, sehingga mendorong mereka untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Secara terpusat tenda pengungsian berskala besar yang dilengkapi dapur umum belum kita bangun. Masyarakat saat ini lebih banyak mendirikan tenda-tenda darurat sementara dari terpal di sekitar rumah masing-masing,” kata Abdul Muhari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Konektivitas Wilayah Tetap Terjaga
Abdul Muhari juga menegaskan bahwa jalur transportasi antarwilayah tetap terhubung meski beberapa bagian jalan di wilayah Palu, Sigi, dan Poso mengalami gangguan akibat material longsoran. Meski aspal di beberapa koridor jalan tertutup, kondisi ini tidak menghambat aksesibilitas keseluruhan daerah. Dinas Pekerjaan Umum setempat telah berupaya menangani kerusakan tersebut, dengan target memperbaiki jalan dalam waktu satu hingga dua hari. “Badan jalan tidak amblas oleh longsor, sehingga bisa dilalui kembali oleh kendaraan umum dalam waktu singkat,” tambahnya.
Pendistribusian Tenda Keluarga Berlangsung
Dalam upaya menjamin kenyamanan warga yang mengungsi, BNPB terus mempercepat pendistribusian tenda keluarga. Jumlah tenda yang diberikan menyesuaikan dengan data kerusakan rumah yang tercatat. “Kita sudah mengirimkan tenda keluarga ke warga yang rumahnya terdata dalam kondisi rusak berat,” jelas Abdul. Namun, sementara itu, warga masih mengandalkan tenda darurat yang mereka dirikan sendiri karena ketersediaan bahan baku terpal cukup melimpah di sekitar lingkungan rumah mereka.
Update Korban dan Penanganan Tim Gabungan
Berdasarkan pemutakhiran data terkini, Pusat Pengendalian Operasi BNPB mencatat sekitar 1.834 kepala keluarga terdampak gempa, yang berjumlah total 5.784 jiwa. Dari jumlah tersebut, tercatat satu orang meninggal dunia, 73 orang mengalami luka ringan, dan tiga orang terluka berat. “Luka berat terkait dengan kerusakan struktur bangunan dan reruntuhan yang menimpa warga,” tutur Abdul. Detailnya, korban meninggal dunia dilaporkan di Sigi, sementara luka berat terjadi di tiga wilayah, yaitu Sigi, Parigi Moutong, dan Palu.
Masyarakat Tampil Tangguh Meski Trauma Psikologis
Dalam situasi darurat, warga Sulawesi Tengah menunjukkan sikap tangguh. Meski trauma psikologis masih menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan mengungsi, mereka tetap aktif dalam upaya memperbaiki kondisi. Tenda darurat yang dibangun tidak hanya menjadi tempat berlindung, tetapi juga menggambarkan kekompakan masyarakat dalam menghadapi bencana alam. Menurut Abdul, masyarakat lebih nyaman mengatur kebutuhan sementara secara mandiri dibanding menunggu bantuan besar-besaran dari pemerintah.
Pemantauan Terus Dilakukan untuk Menjaga Stabilitas
BNPB menegaskan bahwa upaya pemantauan dan evaluasi terus berlangsung untuk memastikan stabilitas wilayah dan kebutuhan warga yang terdampak. Sementara itu, tim gabungan dari berbagai instansi masih bergerak aktif untuk menangani kondisi darurat. Pemantauan terhadap keadaan fisik bangunan dan lingkungan menjadi prioritas agar tidak ada potensi bahaya yang mengancam warga yang berada di wilayah terdampak. “Kami menilai kondisi jalan dan bangunan sudah stabil, sehingga distribusi bantuan bisa berjalan lancar,” kata Abdul.
Dalam beberapa hari terakhir, upaya evakuasi dan distribusi logistik dilakukan secara intensif. Sejumlah tenda darurat yang dibangun warga menjadi pusat peristirahatan sementara, sementara pemerintah terus mengevaluasi kebutuhan yang lebih besar. Meski ketersediaan bahan baku terpal terbatas, warga telah memanfaatkan sumber daya lokal untuk menjaga kelangsungan hidup mereka. Pemantauan terhadap kebutuhan makanan, air, dan perlengkapan kesehatan juga sedang dilakukan agar tidak ada kelangkaan di wilayah pengungsian.
Kesiapan untuk Menangani Perkembangan Selanjutnya
BNPB mengimbau masyarakat tetap waspada dan menjaga kesehatan mental, terutama bagi warga yang masih tinggal di wilayah rawan gempa. Kesiapan tim penanggulangan bencana dan bantuan darurat dijaga agar bisa merespons dengan cepat jika terjadi perubahan kondisi. “Kita tidak hanya fokus pada pemberian tenda, tetapi juga pada upaya pemulihan ekosistem dan stabilitas psikologis warga,” tutur Abdul. Harapan utama dari pemerintah adalah agar keadaan bisa kembali normal dalam waktu dekat, dengan pendekatan yang terpusat dan kolaboratif.
Korban dan warga terdampak gempa terus diberikan perlindungan melalui berbagai langkah penanggulangan. BNPB juga bekerja sama dengan organisasi lokal dan internasional untuk memastikan logistik yang dibutuhkan tetap terpenuhi. Dengan sikap responsif dari masyarakat dan dukungan pemerintah, upaya penanggulangan bencana di Sulawesi Tengah terus berjalan meski tantangan masih ada. Pemantauan terhadap aktivitas gempa dan kondisi wilayah menjadi bagian penting dari strategi penanganan darurat ini.