Jepang temukan beragam unsur tanah jarang di perairan Pasifik
Penemuan Mineral Kritis di Laut Dalam Pasifik Membuka Peluang Baru bagi Jepang
Atapkitadonasi.com – Tokyo — Jepang temukan beragam unsur tanah jarang dalam proyek eksplorasi laut dalam yang berlangsung di perairan sekitar Pulau Minamitori. Temuan ini mencakup unsur tanah jarang kategori menengah dan berat yang menjadi komponen vital bagi industri teknologi modern. Lembaga penelitian nasional mengumumkan hasil survei awal pada hari Jumat, menandai langkah signifikan dalam upaya mengamankan sumber daya mineral strategis dari kedalaman Samudra Pasifik.
Menurut data yang dihimpun oleh tim peneliti, unsur tanah jarang kategori menengah dan berat seperti yttrium, gadolinium, serta dysprosium mendominasi komposisi dengan persentase mencapai lima puluh empat persen dari keseluruhan sampel lumpur yang diekstraksi. Sementara itu, unsur kategori ringan termasuk neodymium menyumbang sisanya sebesar empat puluh enam persen. Meskipun demikian, pihak Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology atau JAMSTEC belum merilis angka pasti mengenai total volume unsur yang berhasil dikumpulkan dari dasar laut.
“Sangat berharga bagi kami, terutama dapat menemukan yttrium, karena nilainya meningkat sangat pesat di pasar global,” ujar Shoichi Ishii, pemimpin proyek dari Kantor Kabinet Jepang, saat memberikan keterangan pers kepada media.
Tantangan Diversifikasi Pemasok dan Konteks Geopolitik
Jepang saat ini menghadapi kendala dalam mendiversifikasi sumber pasokan unsur tanah jarang mengingat ketergantungan besar terhadap China. Situasi ini semakin kompleks seiring memburuknya hubungan diplomatik antara kedua negara. Hal ini dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menyebutkan kemungkinan respons Jepang terhadap krisis Taiwan. Sebagai respons, China mulai memperketat regulasi ekspor barang-barang dwiguna yang memiliki kegunaan ganda, baik untuk sektor sipil maupun militer, termasuk unsur tanah jarang tersebut.
Kepentingan nasional Jepang mendorong upaya produksi dalam negeri karena mineral ini memegang peranan vital dalam manufaktur berbagai produk strategis. Mulai dari kendaraan listrik, komponen semikonduktor, hingga peralatan pertahanan, semuanya membutuhkan pasokan yang stabil. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menegaskan bahwa keberadaan unsur tanah jarang berkualitas tinggi di zona ekonomi eksklusif Jepang akan membantu mengurangi ketergantungan berlebihan terhadap satu negara pemasok sekaligus memperkuat kemandirian pasokan nasional.
Proses Pengumpulan dan Rencana Ekspansi
Dalam proyek yang dikoordinasikan oleh Kantor Kabinet sejak tahun fiskal 2018, kapal riset Chikyu milik JAMSTEC berhasil mengumpulkan sekitar lima puluh ton lumpur. Pengambilan sampel ini dilakukan pada kedalaman mencapai lima ribu enam ratus meter di sekitar Pulau Minamitori, yang berlokasi kira-kira seribu sembilan ratus kilometer di tenggara Tokyo. Proses pengumpulan berlangsung selama bulan Januari dan Februari dengan menggunakan teknologi canggih untuk memastikan kualitas sampel tetap terjaga.
Berdasarkan hasil awal tersebut, tim peneliti merencanakan uji coba penambangan skala penuh di lokasi yang sama. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama sekitar satu bulan dimulai dari Februari tahun 2027. Target yang ditetapkan adalah pengumpulan sekitar tiga ratus lima puluh ton lumpur setiap harinya. Setelah diangkat, material tersebut akan dibawa ke Pulau Minamitori untuk proses pengurangan kadar air sebelum akhirnya dimurnikan menjadi unsur tanah jarang di pulau utama Jepang.
“Pemerintah akan segera melanjutkan pengujian lebih lanjut untuk pengembangan pada skala industri,” kata juru bicara utama pemerintah Jepang dalam konferensi pers.
Evaluasi Ekonomi dan Tantangan Logistik
Pemerintah Jepang menetapkan batas waktu evaluasi pada bulan Maret 2028 untuk menilai kelayakan ekonomi pengembangan industri ini. Aspek biaya ekstraksi masih menjadi pertimbangan utama mengingat kebutuhan transportasi personel ke pulau terpencil. Pengiriman dilakukan menggunakan pesawat atau sarana transportasi lainnya yang sesuai dengan kondisi geografis lokasi.
Temuan ini tidak hanya membuka peluang ekonomi baru tetapi juga memperkuat posisi Jepang dalam rantai pasok global. Dengan sumber daya yang tersedia di perairannya sendiri, Jepang dapat mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi pasar internasional dan ketegangan geopolitik yang mempengaruhi stabilitas pasokan mineral kritis. Langkah ini diharapkan dapat menjadi model bagi negara-negara lain yang juga bergantung pada impor unsur tanah jarang.