Internasional

Sekjen PBB soroti corak batik beri pelajaran bagi multilateralisme

Daftar Isi
  1. Batik Indonesia Jadi Cermin Pembaruan Multilateralisme
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Batik Indonesia Jadi Cermin Pembaruan Multilateralisme

Atapkitadonasi.com – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menggunakan batik Indonesia sebagai gambaran tentang pentingnya kerja sama antarnegara yang terbuka terhadap perubahan. Dalam agenda Foreign Policy Circle Talks di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Senin, ia menilai proses terbentuknya batik menunjukkan bahwa keberagaman pengaruh dapat tetap menyatu dengan identitas yang kuat.

Bagi Guterres, batik bukan sekadar busana atau karya tradisi. Corak dan proses perkembangannya menawarkan cara pandang tentang dunia yang kini menghadapi perubahan kekuatan global serta tantangan yang terus bertambah.

“Melalui perjumpaan-perjumpaan itu batik tetap terjalin erat dengan identitas budaya Indonesia sendiri. Ada pelajaran di sini bagi multilateralisme,” kata Sekjen Guterres.

Pertemuan Budaya dalam Sehelai Batik

Guterres menyinggung jejak berbagai kebudayaan yang turut membentuk tradisi batik Indonesia. Pengaruh dari Arab, China, Eropa, Jepang, Asia Selatan, dan Persia hadir dalam perjalanan panjang perkembangan ragam hias tersebut. Namun, keterbukaan terhadap beragam perjumpaan budaya itu tidak menghilangkan karakter Indonesia pada batik.

Gambaran tersebut dinilai relevan bagi multilateralisme, yakni praktik negara-negara bekerja bersama melalui aturan, lembaga, dan tujuan yang disepakati. Dalam konteks internasional, kerja sama tidak semestinya menghapus ciri, kepentingan, atau aspirasi masing-masing negara. Sebaliknya, perbedaan perlu mendapatkan ruang agar dapat memperkuat tujuan bersama.

Ia juga menekankan bahwa motif batik tidak berhenti pada satu bentuk yang tetap. Garis dan warna baru dapat muncul, lalu berinteraksi dengan unsur yang telah ada untuk menciptakan pola yang semakin kaya.

“Hal yang sama juga berlaku bagi dunia kita. Seiring munculnya kekuatan baru dan tantangan baru, institusi kita harus memberi ruang bagi suara dan realitas baru,” ucap Sekjen PBB.

Reformasi Lembaga Dunia

Analogi itu mengarah pada kebutuhan pembaruan lembaga-lembaga multilateral. Dunia saat ini tidak sama dengan keadaan ketika banyak institusi internasional dibangun. Perubahan geopolitik, munculnya kekuatan baru, serta persoalan lintas batas menuntut sistem kerja sama global yang lebih mencerminkan kondisi masa kini.

Guterres menggambarkan komunitas internasional perlu bersama-sama membentuk “corak batik” baru: sebuah tatanan yang tidak hanya menggambarkan dunia saat ini, tetapi juga dunia yang diharapkan umat manusia. Tugas tersebut mencakup reformasi institusi multilateral dan dukungan bersama bagi kemajuan hak asasi manusia, perdamaian, serta pembangunan berkelanjutan.

Pesan itu juga menegaskan bahwa hasil kerja sama global tidak boleh hanya dibentuk oleh sebagian pihak. Setiap negara perlu memiliki kesempatan agar kepentingan dan aspirasinya didengar saat komunitas internasional merumuskan arah masa depan bersama.

“Motif ini milik kita untuk dibentuk bersama-sama,” tambahnya.

Dalam praktiknya, multilateralisme menuntut kesediaan untuk berdialog, mencari titik temu, dan menyatukan kepentingan yang tidak selalu sama. Seperti batik yang dapat memadukan unsur beragam tanpa kehilangan keteraturannya, kerja sama antarnegara membutuhkan keseimbangan antara identitas nasional dan tanggung jawab kolektif.

Pengakuan bagi Tradisi Indonesia

Selain menjadikan batik sebagai metafora diplomasi global, Guterres menyampaikan apresiasinya terhadap keunikan tradisi tersebut dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ia menyatakan pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan merupakan hal yang wajar mengingat nilai budaya yang dikandungnya.

Pengakuan internasional itu menempatkan batik bukan hanya sebagai bagian penting dari ekspresi budaya Indonesia, melainkan juga sebagai warisan yang bernilai bagi kemanusiaan. Ragam motif, teknik pembuatan, serta penggunaan batik dalam berbagai kesempatan memperlihatkan hubungan erat antara tradisi, kreativitas, dan identitas masyarakat.

Pandangan Guterres memperluas makna batik ke ruang diplomasi. Kain bercorak tersebut dapat dibaca sebagai pengingat bahwa keterhubungan dengan dunia luar tidak harus melemahkan jati diri. Justru, perjumpaan yang dikelola dengan baik dapat menghasilkan bentuk baru yang tetap berakar pada nilai lokal.

Agenda Kunjungan ke Indonesia

Pidato di Kementerian Luar Negeri RI menjadi bagian dari kunjungan Antonio Guterres ke Indonesia pada 17–19 Oktober 2026. Selama berada di Indonesia, ia melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto serta mengunjungi Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI di Kabupaten Bogor.

Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Guterres terlihat mengenakan kemeja berlengan panjang bermotif batik parang. Pilihan busana itu turut memberi konteks pada pesan yang kemudian ia sampaikan mengenai nilai batik dan relevansinya bagi kerja sama internasional.

Melalui perumpamaan sederhana dari tradisi Indonesia, Guterres mengajak komunitas global melihat pembaruan sebagai bagian dari proses yang perlu dijalani bersama. Dunia, seperti corak batik, tidak bersifat statis. Karena itu, lembaga dan kerja sama internasional perlu terus berkembang sambil memastikan keberagaman suara tetap menjadi unsur penting dalam pembentukan masa depan bersama.

Frequently Asked Questions

What is Sekjen PBB soroti corak batik beri?

Sekjen PBB soroti corak batik beri is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sekjen PBB soroti corak batik beri matter?

Sekjen PBB soroti corak batik beri matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Nadia Ramadhan - atapkitadonasi.com

Nadia Ramadhan - atapkitadonasi.com

Nadia Ramadhan menulis seputar donasi, kepedulian sosial, dan peran masyarakat dalam membantu sesama. Di atapkitadonasi.com, ia menghadirkan artikel yang bersifat edukatif dan reflektif, terutama terkait makna berbagi di bulan-bulan istimewa dan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, donasi bukan sekadar memberi, tetapi juga memahami dampaknya.