Dokter: Kerokan Tidak Disarankan Saat Alami Nyeri Dada
Dokter – Dalam sebuah wawancara media di Jakarta, dokter spesialis kardiovaskular Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC memberikan saran bahwa teknik tradisional kerokan tidak dianjurkan sebagai langkah pertama saat seseorang mengalami nyeri dada. Menurut Febtusia, metode ini bisa justru memicu risiko yang lebih besar, terutama jika penyebab nyeri dada belum diketahui. “Jangan, karena pada saat kita kerok sebenarnya pembuluh darah yang di permukaan kulit itu pecah, jadi merah itu adalah pembuluh darah. Ada macam-macam pembuluh darah ada yang di dalam,” kata Febtusia, pada Selasa.
Mekanisme Kerokan dan Efeknya pada Tubuh
Kerokan yang umum dilakukan dengan menggunakan balsem memang dianggap memberikan rasa sejuk atau nyaman, namun dokter Febtusia mengingatkan bahwa efek ini bersifat sementara. Teknik tersebut menciptakan tekanan pada otot yang mungkin mengganggu aliran darah ke jaringan tertentu. Namun, sensasi penyembuhan yang dirasakan justru berasal dari panas balsem yang merangsang peradangan atau rasa nyaman yang dihasilkan oleh sugesti dari orang yang melakukan pengobatan. “Kalau balsam itu kan hangat. Pada saat tubuh itu udah hangat, maka pembuluh darah itu akan melebar efeknya, tapi secara instan dan tidak panjang efek itu,” ujar dia.
“Sedangkan obat-obatan misalnya pengencer darah itu efeknya long term. Jadi kalau balsam dia hanya short expect aja,”
Febtusia menjelaskan bahwa kerokan tidak menyelesaikan akar masalah nyeri dada, terutama jika ada sumbatan pada pembuluh darah. “Kalau balsam itu hangat, maka pembuluh darah yang terkena akan melebar, tetapi efeknya hanya berlangsung singkat. Jadi, meski merasa lebih baik sejenak, rasa nyaman tersebut tidak menghilangkan penyebab utama keluhan,” tambah dokter yang berafiliasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).
Tindakan yang Dianjurkan Saat Nyeri Dada
Untuk memberikan pertolongan pertama yang lebih efektif, Febtusia menyarankan beberapa langkah. Salah satu yang paling penting adalah menenangkan orang yang mengalami nyeri dada. “Kalau orang itu cemas, gerak-gerusuk justru bisa memperparah kondisi. Yang pasti adalah membuat orang itu tenang, misalnya dia pakai dasi kita longgarkan,” imbuh dia.
Dokter tersebut juga menekankan perlunya memberikan oksigen tambahan jika tersedia. “Oksigen bisa membantu memperbaiki kondisi dengan melebarkan pembuluh darah, sekaligus memberikan dukungan pada jaringan yang sedang kekurangan pasokan darah,” ujar Febtusia. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sambil mempersiapkan untuk mengantarkan pasien ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan pengawasan lebih lanjut.
Mengenali Tanda-Tanda Nyeri Dada yang Berbahaya
Febtusia menyoroti bahwa nyeri dada yang bisa menandakan penyakit kardiovaskular, seperti angina pektoris, perlu segera diperiksa oleh tenaga medis. “Nyeri dada yang berubah intensitas atau terjadi dengan perubahan posisi biasanya bukan dari jantung, tapi kalau dia enggak bisa pointing (mengarah) ‘kok makin lama makin intensitasnya makin sering ya’, disertai dengan keluhan seperti sesak napas, mual, atau keringat dingin, itu harus kita waspadai,” kata dia.
Angina pektoris, atau yang dikenal secara istilah medis sebagai nyeri dada, adalah kondisi di mana otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup. Hal ini sering terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah koroner, yang bisa memicu kekurangan oksigen pada jaringan-jaringan penting. Febtusia menegaskan bahwa nyeri dada yang terus-menerus dan tidak menghilang, terutama jika disertai gejala lain, memerlukan perhatian serius. “Sering kali, nyeri dada yang terjadi saat aktivitas fisik bisa menjadi tanda awal penyakit jantung koroner,” ujar dia.
Dokter tersebut juga menambahkan bahwa meski kerokan bisa memberikan efek sementara, tindakan ini tidak mengatasi penyebab nyeri dada yang mungkin disebabkan oleh kondisi seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, atau bahkan serangan jantung. “Kerokan hanya mengatasi gejala permukaan, sementara penyebab utamanya masih ada di bawah kulit,” jelas Febtusia.
Peran Balsem dalam Kerokan
Balsem yang digunakan dalam proses kerokan memiliki peran penting dalam memicu efek hangat yang membuat tubuh merasa lebih rileks. Namun, Febtusia mengingatkan bahwa balsem hanya memberikan efek sementara dan tidak bisa mengubah kondisi penyakit yang mendasar. “Balsem itu hanya membantu mengatasi rasa sakit yang terasa di permukaan, tapi tidak membantu mengatasi penyumbatan atau gangguan pada pembuluh darah yang lebih dalam,” katanya.
Dokter tersebut menyarankan bahwa balsem bisa digunakan sebagai bagian dari pengobatan tradisional, tetapi tidak seharusnya dijadikan metode utama saat nyeri dada muncul. “Jika seseorang mengalami nyeri dada yang intens, lebih baik langsung menghubungi layanan kesehatan daripada mengandalkan metode yang hanya memberikan kelegaan sementara,” ujar Febtusia.
Pertolongan Awal yang Efektif
Dalam situasi darurat, Febtusia menekankan bahwa menenangkan pasien dan memberikan oksigen adalah langkah yang sangat penting. “Tindakan ini bisa mengurangi beban pada jantung, terutama jika terdapat gangguan aliran darah yang menyebabkan nyeri dada,” jelas dia. Selain itu, pertolongan pertama yang efektif juga mencakup mengamati keluhan pasien secara cermat dan menghubungi dokter atau pusat layanan darurat jika gejala memburuk.
Febtusia mengingatkan bahwa nyeri dada yang terjadi secara tiba-tiba, terutama jika disertai gejala seperti mual, keringat dingin, atau sesak napas, bisa menjadi tanda serangan jantung. “Jadi, jangan langsung menyimpulkan bahwa nyeri dada adalah hal biasa. Kita perlu waspada dan segera melakukan pemeriksaan medis jika ada indikasi risiko,” ujar dia.
Dengan memahami mekanisme kerokan dan tindakan pertolongan pertama yang lebih tepat, masyarakat bisa lebih bijak dalam merespons nyeri dada. Febtusia menegaskan bahwa kesehatan jantung harus dijaga dengan perawatan yang tepat, terutama jika gejala mengalami perubahan atau menjadi lebih sering. “Pertolongan pertama yang efektif bisa menyelamatkan nyawa, terutama jika nyeri dada adalah tanda awal penyakit kardiovaskular,” pungkas dokter tersebut.