Kebijakan Baru: Karir Militer Try Sutrisno, Sempat Gagal di Tes Fisik hingga Menarik Perhatian Mayjen GPH Djatikusumo & Ajudan Soeharto
Karir Militer Try Sutrisno yang Penuh Kiprah
Wakil Presiden keenam Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia pada usia 90 tahun. Ia sempat menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, selama sekitar dua minggu akibat dehidrasi sebelum akhirnya wafat di usia yang terbilang cukup lanjut. Karier militer sang jenderal purnawirawan ini dipandang sebagai perjalanan yang membanggakan.
Masa Awal yang Tidak Mudah
Try Sutrisno lahir pada 15 November 1935. Sebelum meraih kejayaan, ia sempat mengalami kegagalan di ujian fisik saat mendaftar ke Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) beberapa tahun silam. Meski demikian, nasibnya berubah setelah Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, Kasad pertama periode 1948–1949, tertarik dengan potensi pria muda itu. Djatikusumo memanggil Try untuk mengikuti uji psikologis di Bandung, Jawa Barat, yang berujung pada penerimaan masuk ATEKAD.
Bersamaan dengan masa belajar di ATEKAD, Try juga menjalin persahabatan erat dengan Benny Moerdani. Karier militer perdananya dimulai tahun 1957, ketika ia terlibat dalam perang melawan gerakan PRRI, kelompok separatis di Sumatra. Setelah lulus ATEKAD pada 1959, ia menjalani tugas di beberapa wilayah seperti Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur. Tahun 1972 menjadi titik balik, ketika Try dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) yang mempercepat perjalanan karier militer.
Kemunculan di Tataran Tinggi
Try Sutrisno memasuki posisi strategis pada 1974, saat diangkat sebagai ajudan Presiden Soeharto. Sosoknya disukai oleh Soeharto, dan dalam empat tahun bertugas, ia menunjukkan kinerja yang memperkuat prestasinya. Setelah itu, ia menjabat Kepala Staf Kodam XVI/Udayana pada 1978, kemudian naik menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya di tahun yang sama. Tahun 1982 membawa perannya ke Jakarta, menjabat Panglima Kodam V/Jaya.
Dalam masa jabatannya, Try juga terlibat dalam operasi penting seperti pengamanan peristiwa Tanjung Priok. Setelah menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, ia menduduki posisi Kasad pada 1986. Di periode ini, ia membentuk Ban Tabungan Wajib Perumahan TNI AD untuk membantu prajurit membeli rumah. Karirnya mencapai puncak pada 1988–1993, ketika menjabat Panglima ABRI.
“Siapa sangka bocah penyemir sepatu itu menjadi Panglima.”
Sebelum pensiun, Try mengaku tidak pernah berniat menjadi wapres. Ia menginginkan fokus pada keluarga, tetapi rencana itu berubah setelah kesehatannya memburuk. Setelah pensiun, ia terus aktif dalam berbagai kegiatan hingga akhir hayatnya. Meski menjabat Panglima ABRI, ia pernah mencicil rumah dinas selama 15 tahun karena keterbatasan dana.
Jejak Pengabdian yang Tak Terlupakan
Kematian Try Sutrisno meninggalkan jejak kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Dalam upacara kepergiannya, jenazah akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Sebagai salah satu putra terbaik Indonesia, ia membuktikan bahwa jalan ke puncak karier bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menyemir sepatu.
Dua anak Try Sutrisno, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo, turut merasakan dampak dari perjuangan ayahnya. Pada waktu kematian, almarhum berdiri tersenyum di samping Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI AD, Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak, dan memberi hormat kepada Prabowo dalam pidato yang diberikan.
