Program Terbaru: Karir Militer Try Sutrisno, Sempat Gagal di Tes Fisik hingga Menarik Perhatian Mayjen GPH Djatikusumo & Ajudan Soeharto
Karir Militer Try Sutrisno: Dari Kesulitan Awal hingga Jabatan Tertinggi
Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno, yang meninggal dunia pada 2 Maret 2026 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, meninggalkan jejak perjuangan yang tak terlupakan dalam sejarah militer Indonesia. Ia wafat setelah menjalani perawatan selama sekitar dua minggu akibat dehidrasi. Sebelumnya, rencananya jenazah akan dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta No 6, Menteng, Jakarta Pusat, namun Istana meminta pihak RSPAD, Garnisun Jakarta, serta Kemeterian Sekretariat Negara memberikan perhatian penuh. Upacara salat akan dilakukan di Masjid Sunda Kelapa, lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Awal Karier yang Tidak Mudah
Karir Try Sutrisno di dunia militer terbilang menakjubkan, meski awalnya tidak mulus. Lelaki kelahiran 15 November 1935 ini sempat mengalami kegagalan saat ujian fisik di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) beberapa tahun silam. Namun, nasib berubah setelah Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, Kasad pertama pada periode 1948-1949, menarik perhatiannya. Djatikusumo memanggil Try untuk mengikuti tes psikologis di Bandung, Jawa Barat, yang akhirnya memungkinkannya diterima di ATEKAD.
Di ATEKAD, Try bertemu dengan Benny Moerdani, yang menjadi teman dekatnya. Karier militer pertama dimulai pada 1957, saat ia turut serta dalam operasi melawan gerakan PRRI, kelompok separatis di Sumatra. Setelah lulus pada 1959, ia menjalani tugas di beberapa daerah, termasuk Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur. Tahun 1972, Try dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), yang menjadi awal dari naiknya jabatan militer.
Puncak Perjalanan: Ajudan Soeharto dan Jabatan Tertinggi
Tahun 1974, Try Sutrisno dipilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Dalam perannya tersebut, ia dianggap memiliki kualitas yang menarik perhatian Soeharto. Setelah tiga tahun menjabat ajudan, Try naik ke posisi Panglima Kodam XVI/Udayana pada 1978. Satu tahun kemudian, ia langsung menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya. Selama masa jabatannya, ia juga aktif dalam berbagai operasi, seperti menangani penyelundupan timah serta kampanye konservasi gajah Sumatra.
Perjalanan karier terus melaju hingga ia menjabat Kepala Staf Kodam (Kasad) pada 1986. Tahun 1988, Try mencapai puncak karirnya dengan menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) hingga 1993. Meski pernah menyatakan tidak berniat menjadi wakil presiden, kariernya berubah arah setelah pensiun. Saat itu, ia berharap fokus pada keluarga, tetapi sejarah mencatatnya sebagai wakil presiden keenam RI.
“Try Sutrisno mengaku pernah mencicil rumah dinas selama 15 tahun karena tak punya uang tunai, meski saat itu menjabat Panglima ABRI.”
Jejak Pengabdian dan Keluarga
Try Sutrisno merupakan salah satu tokoh yang mengabdikan hidupnya kepada bangsa dan negara. Dalam periode menjadi Kasad, ia membentuk Ban Tabungan Wajib Perumahan TNI AD untuk membantu prajurit membeli rumah. Karirnya juga ditandai oleh keberhasilan dalam operasi militer serta peran aktif dalam pemberdayaan TNI. Dua putra Try, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo, juga turut menorehkan nama di dunia militer.
Jejak Try Sutrisno tetap akan dikenang sebagai pahlawan yang berjuang dari bawah hingga mencapai puncak karier. Ia berdiri tersenyum di samping Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD), Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak, saat berbincang dengan Prabowo Subianto. Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan kembali peran Try dalam sejarah bangsa.
