Ratusan Kader Muda NU di Batang Berdiskusi Jelang Muktamar 2026
Meeting Results – Di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ratusan anggota muda Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul dalam Musyawarah Besar Nahdliyin Muda Batang 2026, yang dianggap sebagai momen penting dalam persiapan Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para kader muda untuk menyampaikan aspirasi dan berpartisipasi aktif dalam membentuk arah kebijakan organisasi. Pertemuan tersebut menegaskan peran generasi muda dalam memastikan NU tetap relevan dan mandiri di tengah dinamika politik serta sosial Indonesia.
Penguatan Civil Society sebagai Fokus Utama
Dalam Musyawarah Besar tersebut, Candra Yudha Satria, Ketua Panitia Mubes Nahdliyin Muda Batang, menekankan pentingnya menciptakan ruang diskusi yang sehat dan terbuka. Ia menjelaskan bahwa generasi muda NU perlu diberikan kesempatan untuk menyuarakan keinginan mereka, baik dalam konteks lokal maupun nasional. “Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa aspirasi yang diberikan akan memperkuat kemaslahatan organisasi sebagai satu-satunya lembaga keagamaan yang memiliki pengaruh luas di Indonesia,” katanya dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
“Kemandirian bagi NU menjadi sesuatu yang mutlak, baik kemandirian ekonomi, kemandirian politik, maupun kemandirian dalam aspek lainnya,”
Nauval Fuad Hasyim, pengasuh Pondok Pesantren Merah Putih, menyampaikan pandangannya bahwa NU saat ini sudah membangun fondasi kuat sebagai civil society. Menurutnya, lembaga tersebut mampu menciptakan kemandirian yang berkelanjutan, baik dalam mengelola keuangan maupun dalam mengambil keputusan strategis. Namun, ia menegaskan bahwa kemandirian tersebut tetap menjadi tantangan yang harus diatasi. “Kita harus terus memperkuat posisi NU agar bisa menjadi pilar yang stabil dalam kehidupan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Roy Murtadho, pengasuh Pondok Pesantren Misykat Al Anwar, menyoroti bahwa kemandirian dan penguatan sebagai masyarakat madani adalah prioritas utama. Ia menjelaskan bahwa hal ini tidak hanya tentang kebebasan dari pihak tertentu, tetapi juga tentang kemampuan NU untuk merespons perubahan lingkungan yang terus berkembang. “Dengan kemandirian yang kuat, NU bisa menjaga integritasnya dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi, politik, dan lingkungan,” ujar dia.
“Kepemimpinan NU ke depan harus mampu menjalankan fungsi civil society secara maksimal,”
Kader muda NU juga memandang bahwa hubungan dengan penguasa perlu tetap dijaga secara kritis dan dialogis. Hal ini bertujuan untuk mencegah dominasi kepentingan tertentu dalam kebijakan nasional. “Kita harus menjadi mitra yang aktif, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk mengevaluasi kebijakan yang diterapkan pemerintah,” lanjut Roy. Ia menambahkan bahwa keberhasilan Muktamar 2026 akan menjadi penentu dalam mengarahkan NU menuju peran yang lebih strategis di masa depan.
Muktamar ke-35 NU, yang rencananya digelar pada 1–5 Agustus 2026, akan menjadi momen kunci untuk menentukan kepemimpinan organisasi selama lima tahun mendatang. Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, Sekretaris Jenderal PBNU, telah memberikan informasi bahwa agenda utama dari perhelatan tersebut adalah pemilihan Ketua Umum PBNU. “Kita berharap proses pemilihan ini bisa berjalan transparan dan diikuti oleh seluruh elemen masyarakat,” ujar Gus Ipul.
Di sisi lain, diskusi yang berlangsung di Batang menggarisbawahi pentingnya keterlibatan aktif generasi muda dalam penguatan NU. Para peserta menyebutkan bahwa keberadaan NU sebagai organisasi keagamaan yang berdimensi sosial, politik, ekonomi, dan ekologi perlu dijaga. Mereka berharap bahwa keputusan yang diambil di Muktamar 2026 akan mencerminkan kepentingan generasi muda dan masyarakat luas. “Kita tidak hanya berbicara tentang perubahan internal, tetapi juga tentang kemampuan NU untuk menghadapi tantangan eksternal,” kata Candra Yudha Satria.
Menurut Nauval Fuad Hasyim, kemandirian NU tidak hanya memperkuat struktur organisasi, tetapi juga memberikan kepercayaan kepada anggota bahwa lembaga ini bisa menjadi mitra yang andal dalam segala aspek. “Dengan kemandirian, NU bisa mengambil peran lebih besar dalam mengarahkan kebijakan nasional,” katanya. Hal ini sangat relevan mengingat peran NU sebagai organisasi besar yang berpengaruh di berbagai lapisan masyarakat. Ia menekankan bahwa pemimpin masa depan harus mampu menggabungkan antara ideologi keagamaan dengan kebutuhan politik dan sosial.
“Dengan demikian, siapa pun yang terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada masa mendatang harus mampu menjaga dan memperkuat posisi NU sebagai organisasi keagamaan yang memiliki dimensi sosial, politik, ekonomi, hingga ekologi,”
Di Batang, kader muda NU juga menyuarakan keinginan untuk melibatkan lebih banyak elemen masyarakat dalam pengambilan keputusan. Mereka menekankan bahwa partisipasi aktif dari kalangan muda bisa memperkaya kebijakan yang dihasilkan. “Kita ingin NU tidak hanya menjadi organisasi yang menjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi ruang yang bisa menyerap berbagai pandangan dari berbagai kalangan,” ujar salah satu peserta diskusi.
Dalam konteks yang lebih luas, Muktamar 2026 diharapkan bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi kinerja organisasi selama beberapa tahun terakhir. Kader muda NU memandang bahwa keberhasilan acara tersebut akan bergantung pada kesiapan organisasi untuk menerima saran dan kritik dari anggota yang lebih muda. “Kita harus memastikan bahwa keputusan yang diambil di Muktamar 2026 bisa mencerminkan keberagaman pandangan di dalam NU,” kata Roy Murtadho.
Sementara itu, Gus Ipul menegaskan bahwa PBNU siap menyelenggarakan Muktamar dengan berbagai upaya untuk memastikan keberlangsungan yang sukses. Ia menyebutkan bahwa acara tersebut akan melibatkan seluruh anggota, termasuk dari kalangan intelektual, pemimpin daerah, dan kader muda. “Kita ingin Muktamar 2026 menjadi acara yang representatif dan berdampak besar bagi perjalanan NU,” ujarnya.
Diskusi di Batang juga menyoroti peran pesantren dalam memperkuat kader muda. Dalam konteks ini, pesantren dianggap sebagai tempat pelatihan yang mampu membentuk pemikiran serta sikap politik generasi muda. “Kita harus memastikan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi pusat kemandirian dan keberagaman ide,” kata Nauval Fuad Hasyim. Hal ini menegaskan bahwa NU perlu terus mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihan agar bisa membangun kekuatan yang lebih solid.
Dengan berbagai aspirasi dan pandangan yang diberikan, diskusi di Batang menjadi pembukaan untuk mencerminkan dinamika internal NU. Kader muda berharap bahwa Muktamar 2026 bisa menjadi pintu bagi perubahan yang lebih dalam dan berkelanjutan. “Kita ingin NU tetap menjadi organis