Politik

New Policy: Kemhan jelaskan materi latsarmil bagi pengelola KDMP dan KNMP

Kemhan Jelaskan Materi Latsarmil Bagi Pengelola KDMP dan KNMP

New Policy – Jakarta, ANTARA – Kementerian Pertahanan (Kemhan) memberikan penjelasan mengenai materi pelatihan dasar militer (latsarmil) yang akan diterima calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) serta Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Pelatihan ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan peserta menjadi pengelola yang kompeten, disiplin, dan memiliki semangat pengabdian yang tinggi. Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa materi latsarmil tersebut dirancang secara khusus untuk memperkuat kemampuan kepemimpinan, kedisiplinan, dan wawasan kebangsaan para peserta.

Latsarmil Komponen Cadangan (Komcad) merupakan program yang wajib diikuti oleh seluruh calon pengelola KDMP dan KNMP. “Selama mengikuti latsarmil Komcad, peserta akan mendapatkan berbagai materi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan disiplin, kerja sama tim, serta nilai-nilai integritas,” ujar Rico saat dikonfirmasi oleh ANTARA di Jakarta, Kamis. Ia menambahkan bahwa materi yang disampaikan tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga melibatkan pembelajaran tentang semangat pengabdian dan etos kerja yang kuat.

“Melalui latsarmil Komcad, peserta dibekali ilmu dan nilai-nilai disiplin, kepemimpinan, kerja sama tim, integritas, semangat pengabdian, serta etos kerja yang kuat,” kata Rico. Ia menjelaskan bahwa materi tersebut penting untuk memastikan para peserta mampu menjalankan tugas secara optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pelatihan ini juga mencakup pembekalan manajerial dan kompetensi bidang yang disusun bersama kementerian teknis terkait. Rico menegaskan bahwa seluruh rangkaian pelatihan menjadi salah satu syarat wajib sebelum peserta dapat menjalankan tugasnya di KDMP maupun KNMP. “Materi pelatihan dirancang agar peserta dapat memahami tugas-tugas pokok serta tanggung jawab yang diberikan,” tambahnya.

Dalam pelatihan dasar kemiliteran, peserta akan mengikuti serangkaian program yang mencakup latihan kedisiplinan selama 30 hari, diikuti dengan pelatihan manajerial selama 15 hari. Rico menjelaskan bahwa durasi pelatihan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan KDMP dan KNMP. “Latihan kedisiplinan bertujuan untuk membentuk mental dan sikap bertanggung jawab para peserta, sementara pelatihan manajerial fokus pada penguasaan keterampilan kepemimpinan dan pengelolaan,” ujarnya.

Pelatihan ini dilaksanakan di 67 satuan TNI yang tersebar di seluruh Indonesia. Rico menyebutkan bahwa selama 45 hari, peserta akan memperoleh pengalaman langsung dalam berbagai aspek kemiliteran, termasuk tata cara pelaksanaan tugas kecabangan dan keterampilan operasional. “Seluruh rangkaian pelatihan ini dirancang agar peserta mampu menghadapi tantangan di lapangan secara lebih siap,” lanjutnya.

Jumlah peserta yang mengikuti program ini mencapai 35.476 orang, terdiri dari 30.000 calon pengelola KDMP dan 5.476 calon pengelola KNMP. Rico menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualifikasi dan kapasitas para pengelola agar dapat memberikan kontribusi maksimal dalam pengembangan koperasi desa dan kampung nelayan. “Dengan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup, peserta diharapkan mampu mendorong partisipasi masyarakat serta memperkuat kebangsaan melalui aktivitas yang mereka jalani,” katanya.

Kemhan juga menjelaskan bahwa pelatihan latsarmil ini selain memberikan kemampuan teknis, juga melibatkan aspek spiritual dan nilai-nilai kebangsaan. “Para peserta diberikan wawasan tentang peran Koperasi Desa dan Kampung Nelayan dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara,” kata Rico. Ia menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Kemhan untuk memperkuat sistem kecabangan dan memastikan adanya komponen cadangan yang siap berkontribusi dalam berbagai situasi.

Program latsarmil Komcad untuk KDMP dan KNMP ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi para pengelola dalam menjalankan tugas sehari-hari. Rico menyebutkan bahwa melalui pelatihan tersebut, peserta akan mampu memahami mekanisme pengelolaan koperasi serta cara menerapkan prinsip-prinsip disiplin dan kerja sama yang diperlukan. “Kemampuan ini sangat penting karena pengelola KDMP dan KNMP harus mampu menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya,” ujarnya.

Menurut Rico, pelatihan ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk membangun jaringan kerja dengan anggota Komcad lainnya. “Para peserta akan belajar bagaimana bekerja dalam tim, berkomunikasi efektif, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat,” tambahnya. Ia menekankan bahwa pelatihan ini bukan hanya sekadar pengenalan, tetapi merupakan bagian integral dari pengembangan kapasitas manusia dalam rangka memperkuat kebangsaan.

Pelatihan latsarmil Komcad akan dilaksanakan secara bertahap di seluruh Indonesia. Rico menjelaskan bahwa setiap satuan TNI akan memastikan bahwa peserta mendapatkan pengalaman yang seimbang antara teori dan praktik. “Materi yang diberikan dirancang agar praktis dan relevan dengan tugas yang diemban para pengelola,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa selama pelatihan, peserta akan memperoleh pengalaman langsung dalam berbagai situasi yang mungkin dihadapi saat menjalankan tugas di lapangan.

Dengan total peserta sebanyak 35.476 orang, program ini menjadi salah satu upaya Kemhan untuk mencetak calon pengelola yang berkualitas. Rico menyatakan bahwa keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada partisipasi peserta dan konsistensi dalam menerapkan materi yang telah dipelajari. “Kemhan yakin bahwa pelatihan ini akan memberikan dampak positif dalam meningkatkan kinerja para pengelola serta kebanggaan masyarakat terhadap program Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih,” ujarnya.

Rafi Firmansyah

Rafi Firmansyah merupakan penulis yang tertarik pada topik donasi digital, teknologi, dan perubahan perilaku sosial. Di atapkitadonasi.com, Rafi mengulas bagaimana perkembangan platform online memengaruhi cara masyarakat berbagi. Ia berupaya menyajikan konten yang relevan dengan era digital tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.