Strategi Penting: Memasuki Musim Kemarau, Ini Kata Dosen UGM Soal Pencegahan Karhutla

Memasuki Musim Kemarau, Ini Kata Dosen UGM Soal Pencegahan Karhutla

Peringatan Dosen UGM tentang Mitigasi Karhutla di Tahun 2026

Dosen dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, S.Hut., M.Sc., mengemukakan kebutuhan untuk meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring mendekatnya musim kemarau. Ia menekankan perlunya alokasi anggaran yang lebih mengutamakan manajemen darurat berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk memperkuat peran infrastruktur yang dapat mencegah keringnya gambut, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sumur bor, dan sekat kanal.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di sejumlah daerah Indonesia akan dimulai pada April 2026. Data BMKG menunjukkan sekitar 57,2 persen wilayah bakal mengalami musim kemarau yang lebih lama, sementara 46,5 persen wilayah memasuki fase tersebut lebih dini dibandingkan biasanya. Sebanyak 114 zona musim atau 16,3 persen wilayah juga diperkirakan masuk ke musim kemarau pada bulan tersebut.

Perpindahan arah angin dari Monsun Asia (angin barat) ke Monsun Australia (angin timur) menjadi tanda dimulainya musim kemarau. Wilayah yang diprediksi lebih dulu menghadapi fase ini meliputi Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Sulawesi, serta Sumatera. BMKG juga menyebutkan bahwa kekeringan di hampir seluruh wilayah Indonesia akan lebih intensif dibandingkan masa sebelumnya.

Langkah-Langkah Mitigasi yang Direkomendasikan

Dalam upaya mengurangi risiko karhutla, Fiqri menyoroti pentingnya anggaran yang mengintegrasikan konsep manajemen darurat. Dia mengusulkan pengalokasian dana bisa disesuaikan dengan siklus pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Selain itu, Fiqri memperkuat bahwa infrastruktur pembasahan gambut memegang peran strategis dalam menjaga ekosistem tetap lembap.

Ads
RumahBerkat - Post

“OMC, sumur bor, sekat kanal termasuk langkah efektif untuk mencegah dan mengurangi kebakaran,” kata Fiqri, yang dilansir dari laman UGM, Senin (30/3). Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa sekat kanal mampu membatasi evaporation air dari gambut, sehingga membantu mencegah kembang api api yang tidak terkendali. “Gambut yang terbakar biasanya sudah mengalami degradasi, jadi sekat kanal diharapkan bisa mencegah keluarnya air dari ekosistem,” tambahnya.

Karhutla di Riau pada April 2026 diperkirakan menghancurkan sekitar 4.440,21 hektar lahan. Kondisi ini mendorong perlunya kebijakan yang lebih adaptif, termasuk kolaborasi permanen antara pemerintah dan pihak swasta. Fiqri menyarankan model kerja rutin seperti apel, patroli, pemantauan bersama BPBD dan Manggala Agni, serta pendampingan oleh MPA.

Menurut Fiqri, kesadaran masyarakat dalam penggunaan api juga perlu ditingkatkan. “Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan api yang tidak terkendali sangat penting,” ujarnya. Karhutla umumnya disebabkan oleh proses percikan api yang berasal dari aktivitas manusia, sehingga perlu kesadaran kolektif untuk mencegahnya. Ia juga menyarankan perusahaan dan masyarakat di luar Jawa menerapkan Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) sebagai alternatif pengelolaan lahan yang lebih baik.