Pemkot Tangsel bangun cerobong buang gas metana, cegah kebakaran TPA

Pemkot Tangsel Bangun Cerobong Buang Gas Metana, Cegah Kebakaran TPA

Inovasi Sistem Ventilasi untuk Keamanan TPA

Atapkitadonasi.com – Pemkot Tangsel bangun cerobong buang gas metana sebagai langkah preventif utama dalam mengatasi potensi kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pemerintah Kota Tangerang Selatan ini telah merancang pembangunan infrastruktur cerobong yang berfungsi menyalurkan gas metana dari lapisan bawah tanah ke atmosfer. Sistem ventilasi ini dirancang khusus untuk mengurangi akumulasi gas yang dapat memicu percikan api dan menyebabkan kebakaran besar di area TPA. Langkah strategis ini menunjukkan komitmen Pemkot Tangsel dalam mengelola sampah secara berkelanjutan dan aman bagi masyarakat sekitar.

Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, secara langsung menginstruksikan pembangunan cerobong yang akan menyalurkan gas metana dari lapisan bawah permukaan tanah. Menurut beliau, keberadaan cerobong ini akan sangat membantu dalam mencegah penyebaran api yang luas apabila terjadi percikan kecil. Hal ini merupakan bagian dari upaya preventif yang komprehensif untuk menjaga keamanan lingkungan sekitar TPA dan mengurangi risiko bencana kebakaran.

“Saya sudah mintakan untuk dibuatkan cerobong dari bawah untuk membuang gas metana, sehingga walaupun ada percikan, tidak menyebabkan penyebaran api yang besar,” kata Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie dalam keterangannya di Tangerang, Rabu.

Koordinasi Multisektor dan Proyek PSEL

Upaya antisipasi ini juga sejalan dengan rekomendasi yang disampaikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup terkait potensi kebakaran di TPA Cipeucang. Selain fokus pada sistem ventilasi gas, Pemkot Tangsel juga sedang memproses pengadaan lahan seluas sekitar 2,4 hektare untuk pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Tahap sosialisasi kepada masyarakat telah dimulai setelah penetapan lokasi resmi diterbitkan oleh KLH, menandai dimulainya fase baru dalam pengelolaan sampah di wilayah Tangerang Selatan.

Dalam menghadapi musim kemarau, Pemkot Tangsel mengintensifkan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Monitoring perkembangan cuaca dilakukan secara rutin untuk mengantisipasi dampak kekeringan. Koordinasi juga dilakukan bersama pengelola Bendungan Katulampa di Bogor untuk memantau debit Sungai Cisadane yang sangat berpengaruh terhadap ketersediaan sumber air di wilayah Tangerang Selatan. Dengan pendekatan proaktif ini, pemerintah kota siap menghadapi berbagai tantangan lingkungan.

Penanganan Dampak Kekeringan bagi Warga

Kekeringan yang terjadi beberapa waktu lalu telah memberikan dampak nyata bagi warga di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Sebanyak 147 Kepala Keluarga yang tersebar di enam RT mengalami kesulitan akibat penurunan ketersediaan air bersih. Sebagai respons cepat, pemerintah kota telah mendistribusikan sekitar 50.000 liter air bersih kepada warga yang terdampak. Distribusi air ini dilakukan secara merata untuk memastikan seluruh keluarga yang membutuhkan mendapatkan bantuan yang cukup.

“Kami sudah distribusikan kurang lebih 50.000 liter air bersih sampai kemarin (Selasa 21/7). Solusi jangka menengahnya, kami akan membangun sumur air dalam dengan toren yang besar seperti yang kita bangun di Perumahan Pesona Serpong,” ujar Wali Kota Benyamin.

Selain distribusi air, Pemkot Tangsel juga menyiapkan solusi jangka menengah melalui pembangunan sumur air dalam yang dilengkapi toren berkapasitas besar. Sistem ini telah berhasil diterapkan di kawasan Perumahan Pesona Serpong dan diharapkan dapat menjadi model untuk wilayah lainnya. Dengan pendekatan multidimensi ini, Pemkot Tangsel berkomitmen untuk menjaga stabilitas pasokan air dan mencegah bencana kebakaran di masa mendatang. Pembangunan cerobong buang gas metana menjadi salah satu investasi penting untuk masa depan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi seluruh warga Tangerang Selatan.