New Policy Jerman-RI Perkuat Kemitraan Perdagangan, Investasi, Transisi Energi
New Policy – Kunjungan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Jakarta pada Senin (15/6) menjadi momen penting dalam penerapan New Policy yang bertujuan memperkuat kerja sama antara Jerman dan Indonesia di bidang perdagangan, investasi, serta transisi energi berkelanjutan. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat meningkatkan koordinasi untuk menghadapi tantangan global seperti kenaikan harga energi dan kebutuhan beralih ke sumber daya terbarukan, sebagai bagian dari strategi New Policy yang lebih holistik.
Kemitraan Ekonomi dan Transisi Energi
Kerja Sama dalam Rangka Pertumbuhan Ekonomi
“Alasan kuat yang membuat saya kembali ke sini hari ini adalah karena dunia kini terpecah belah, dan kepercayaan, politik kekuasaan, serta ketidakstabilan sedang meningkat di berbagai wilayah,” ujar Steinmeier dalam pernyataannya yang dikutip oleh Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Selasa (16/6). Ia menekankan bahwa New Policy yang diterapkan oleh kedua negara akan menjadi faktor kunci dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Program Transisi Energi Berkeadilan
Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (Just Energy Transition Partnership/JETP) yang diinisiasi Jerman dan Indonesia menjadi fokus utama dalam New Policy ini. Program ini, yang dipimpin bersama, bertujuan memastikan transisi energi yang adil bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat lokal, serta memperkuat kerja sama di bidang kebijakan lingkungan, sains, dan ekonomi sebagai bagian dari New Policy yang lebih luas.
Komitmen Finansial untuk Proyek Strategis
Perjanjian Ekonomi Komprehensif
Dalam rangkaian perjanjian, pihak Jerman dan Indonesia menandatangani dua kesepakatan keuangan. Perjanjian pertama bernilai 400 juta euro (sekitar Rp8,2 triliun) ditujukan untuk meningkatkan daya saing dan modernisasi industri Indonesia, sebagai bagian dari New Policy yang menekankan reformasi ekonomi berkelanjutan. Program ini, yang disebut Program Daya Saing, Modernisasi Industri, dan Percepatan Perdagangan (CITA), dirancang agar mendukung visi New Policy dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang.
Investasi dalam Energi Hijau
Perjanjian kedua berjumlah 302 juta dolar AS (sekitar Rp5,35 triliun) bertujuan mendukung pengembangan pembangkit listrik terbarukan dan jaringan listrik. Kerja sama ini dilakukan antara Bank Pembangunan Jerman (KfW) dan PT PLN (Persero) dalam Program Mempercepat Transisi Energi Bersih Indonesia, yang menjadi komponen utama dari New Policy. Proyek ini menargetkan penguatan infrastruktur listrik dan ekspansi tenaga surya serta angin sebagai sumber energi alternatif.
Dalam perjanjian tahun 2026, Jerman menunjukkan komitmen finansial sebesar 1 miliar euro (sekitar Rp20,5 triliun) untuk kolaborasi bersama Indonesia, sebagai bagian dari New Policy yang mempercepat proyek energi hijau. Salah satu proyek yang mendapat dukungan adalah Green Energy Corridors Sulawesi (GECS), yang akan membangun saluran transmisi listrik 275kV di Sulawesi Selatan. Proyek ini dirancang untuk memanfaatkan potensi energi terbarukan secara optimal dalam kerangka New Policy.
Menurut Ralf Beste, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, peningkatan ekspor ke Jerman dan pendapatan investasi dari Eropa menjadi harapan besar dalam New Policy. Ia menyoroti bahwa kenaikan harga minyak dan gas global memperkuat kebutuhan untuk beralih ke energi terbarukan, baik dalam menjaga keseimbangan iklim maupun meningkatkan ketahanan energi nasional. New Policy ini juga berupaya menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi hijau.
Perjanjian lainnya, Green Bond Development Facility (GBDF), berupaya memperkuat pasar obligasi hijau Indonesia. Dengan dana dari Jerman, program ini memberikan insentif bagi investor untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek berkelanjutan, sebagai bagian dari New Policy yang menargetkan ekonomi hijau. Proyek ini, yang disetujui oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Direktur Jenderal BMZ, Christine Toetzke, menunjukkan dukungan konkret terhadap transisi energi yang adil dan berdampak positif.
Pada Februari 2026, dua perjanjian tambahan ditandatangani, mencakup total dana sebesar 308 juta euro (sekitar Rp6,33 triliun). Perjanjian tersebut berupa Green Energy Corridors Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF), yang menjadi bagian dari New Policy dalam mengembangkan infrastruktur energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Melalui New Policy, Indonesia dan Jerman berkomitmen untuk menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan dan responsif terhadap perubahan global.