Humaniora

BPOM: Status WLA tingkatkan peluang ekspor kosmetik lokal

BPOM: Sertifikasi WLA Membuka Gerbang Ekspor Kosmetik Nusantara

BPOM – Jakarta – Pengakuan internasional atas kinerja Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia semakin menguat dengan perolehan status Otoritas Terdaftar WHO atau yang dikenal sebagai WHO-Listed Authority (WLA). Pencapaian ini diyakini akan membuka peluang besar bagi industri kosmetik dalam negeri untuk menembus pasar global. Kepercayaan dunia terhadap regulator nasional Indonesia pun meningkat signifikan sejak status tersebut diraih.

Berdasarkan informasi yang tercantum dalam situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia, Indonesia tercatat sebagai negara berpenghasilan menengah pertama yang berhasil menyandang predikat prestisius ini. Pengakuan tersebut tidak terlepas dari komitmen kuat pemerintah Indonesia untuk terus memperkuat sistem pengawasan, khususnya dalam sektor vaksin dan produk kesehatan lainnya.

Mekanisme Product Reliance dan 39 Negara Mitra

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa reputasi internasional ini membawa dampak positif yang nyata bagi pelaku industri dalam negeri. Menurutnya, sebagian besar produk kosmetik yang beredar di berbagai penjuru dunia sebenarnya masuk dalam proses evaluasi obat atau medis. Hal ini menciptakan sinergi yang menguntungkan bagi eksportir Indonesia.

“Nah tentu reputasi ini berdampak. Pada umumnya kosmetik di berbagai belahan dunia itu masuk sebagian menjadi evaluasi obat atau medis,” ujar Taruna Ikrar saat memberikan wawancara bersama ANTARA di Jakarta pada hari Senin.

Salah satu keunggulan utama dari status WLA adalah mekanisme product reliance. Konsep ini memungkinkan produk yang telah melalui proses penilaian ketat oleh BPOM untuk lebih mudah diterima oleh regulator di 39 negara yang juga memiliki otoritas berstatus WHO-Listed Authority. Proses ini tentu mempercepat waktu masuk produk ke pasar internasional tanpa harus melalui evaluasi ulang yang panjang.

Proyeksi Pasar Global dan Potensi Demografi

Dalam konteks peluang ekspor, Taruna Ikrar menilai bahwa pertumbuhan populasi dunia menjadi faktor krusial yang dapat dimanfaatkan oleh industri kosmetik Indonesia. Proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk global akan mencapai 9,3 miliar orang pada tahun 2045. Angka ini merepresentasikan peningkatan lebih dari satu miliar jiwa dibandingkan dengan jumlah penduduk saat ini yang mencapai 8 miliar orang.

Untuk menguasai potensi pasar baru sekaligus mempertahankan pangsa pasar lama yang terdiri dari 8 miliar konsumen tersebut, diperlukan daya saing yang kuat. Selain itu, diperlukan juga bukti konkret bahwa Indonesia mampu menawarkan produk berkhasiat sesuai dengan klaim yang disampaikan kepada konsumen.

“Dan saya optimis produk-produk Indonesia bisa bersaing di dunia internasional karena sebetulnya bahan baku kita. Kita bisa mandiri di bidang kosmetik,” tegasnya dengan penuh keyakinan.

Kekayaan Alam sebagai Modal Kompetitif

Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa dalam hal ketersediaan bahan baku kosmetik. Data menunjukkan bahwa negara ini memiliki lebih dari 31 ribu jenis tumbuhan yang berpotensi untuk diekstrak menjadi berbagai bahan kosmetik berkualitas. Selain kekayaan flora, Indonesia juga memiliki kekayaan mineral dan protein dari fauna yang dapat dimanfaatkan untuk industri kecantikan.

Kosmetik saat ini telah menjadi produk yang sangat populer di kalangan masyarakat global. Mengutip data dari Lembaga Konsumen Indonesia, nilai keekonomian industri kosmetik nasional mencapai sekitar 10 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan lebih dari Rp180 triliun. Angka ini menunjukkan besaran pasar yang sangat signifikan.

“Jadi sangat besar, itu per tahun. Karena besarnya maka tentu kita berharap masyarakat pelaku usaha atau industri yang kosmetik ini bisa dibantu oleh BPOM untuk semakin berkembang, semakin tumbuh,” jelas Taruna.

Sebagai penutup, pertumbuhan ekonomi di sektor kosmetika Indonesia menunjukkan tren positif dengan kenaikan sekitar 6,7 persen setiap tahunnya. Angka ini menjadi indikator bahwa industri kecantikan dalam negeri memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Rina Kurniawan

Rina Kurniawan menulis artikel yang menekankan pentingnya empati, kepedulian, dan keberlanjutan dalam kegiatan amal. Melalui atapkitadonasi.com, Rina menghadirkan panduan dan wawasan seputar donasi yang berorientasi pada manfaat jangka panjang. Ia percaya bahwa kebaikan yang direncanakan dengan baik akan memberi dampak lebih luas.