Momen Bersejarah: Orang Terkaya RI Mendadak Jadi Sopir Truk, Warga Kaget Sampai Pingsan
Orang Terkaya RI Mendadak Jadi Sopir Truk, Warga Kaget Sampai Pingsan
Sejarah Sultan Hamengkubuwana IX yang Berbagi Harta dengan Rakyat
Dalam rangka memperkenalkan cerita sejarah yang relevan dengan situasi masa kini, CNBC Insight menghadirkan kisah inspiratif tentang Sri Sultan Hamengkubuwana IX, sang Raja Yogyakarta yang dikenal dekat dengan rakyatnya. Salah satu momen paling unik dalam kehidupannya adalah ketika ia secara mendadak memilih menjadi sopir truk beras, menyelamatkan masyarakat dari ancaman kelaparan.
Sejak 1940, Sri Sultan Hamengkubuwana IX memimpin Kesultanan Yogyakarta. Dikenal sebagai tokoh berpengaruh di Indonesia pada masa pemerintahan Republik, ia memperoleh kekayaan dari warisan keluarga kerajaan serta sistem feodal. Meski memiliki dana yang melimpah, Sultan tak pernah lupa memberi. Dalam sejarah, ia pernah menyumbangkan 6,5 juta gulden kepada pemerintah dan 5 juta gulden untuk rakyat yang terpuruk, yang jika dikonversi ke nilai saat ini setara Rp20-30 miliar.
Kisah Supir Truk yang Membuat Warga Terkejut
Salah satu episode menarik dalam hidupnya terjadi di tahun 1946. Saat berkendara di jalanan Jakarta, Sultan dihentikan oleh seorang penjual beras yang ingin ikut ke pasar. Ia langsung menurunkan karung beras dari truk Land Rover miliknya dan membantu pengangkutan. Peristiwa ini tak disangka oleh penjual beras, yang akhirnya terkejut hingga pingsan setelah mengetahui bahwa sopir truk tersebut adalah Raja Jawa.
“Dalam perjalanan, sang Sultan diceritakan pernah beli es gerobakan di depan Stasiun Klender, Jakarta, pada 1946. Meski cuaca sangat panas, ia memilih minum es di pinggir jalan karena jaraknya lebih dekat,” tulis Pranoto Reksosamodra dalam bukunya Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra (2015).
Dalam kejadian itu, penjual beras merasa tersinggung karena mengira supir truk tak mau menerima uang. Ia lalu memarahi Sultan hingga akhirnya ada orang yang memberitahu bahwa si supir truk yang sedang dihina adalah Raja Yogyakarta sendiri. Mendengar kabar ini, penjual beras kaget dan langsung dibawa ke rumah sakit. Sultan kemudian segera datang untuk menjenguk korban.
Momen ini menggambarkan sikap rendah hati dan sederhana sang Sultan, yang sering membagikan kekayaan tanpa menunjukkan kesombongan. Dalam buku Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX (1982), kebiasaan ini dijelaskan sebagai bagian dari filosofi hidupnya.
Kisah yang Menjadi Simbol Kepedulian Sosial
Cerita menjadi viral karena menunjukkan bagaimana seorang pemimpin dengan status tinggi rela turun ke level sederhana untuk membantu rakyat. Peristiwa ini juga mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukan hanya tentang harta, tetapi bagaimana hartanya digunakan untuk kebaikan.
Sementara itu, sejumlah orang menganggap pilihan redaksi yang menghadirkan kisah ini sebagai hal yang ironis. Mereka mengingatkan bahwa generasi muda sering terpinggirkan dalam dunia bisnis, sementara tokoh-tokoh tua seperti Sultan masih memegang kendali.
Peristiwa ini menjadi contoh nyata bahwa kehidupan bermakna tak selalu terikat pada status atau kekayaan, tetapi juga pada kepedulian terhadap sesama.
