Strategi Penting: RI Dikepung Kabar Buruk: Minyak & Dolar Melonjak, Ekonomi China Suram
RI Dikepung Kabar Buruk: Minyak & Dolar Melonjak, Ekonomi China Suram
Pasar keuangan dalam negeri ditutup dengan peningkatan pada perdagangan Kamis (5/3/2026), meski Wall Street terus terpuruk akibat kenaikan harga minyak. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan dinamika ekonomi global menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar. Di Jakarta, IHSG mencatatkan kenaikan 1,76% ke level 7.710,54, didukung oleh 597 saham yang naik, 125 turun, dan 96 stagnan.
Dalam sektor keuangan, rupiah menguat tipis 0,03% ke Rp16.875/US$ setelah sempat melemah 0,18% pada hari sebelumnya. Perubahan nilai tukar ini terkait dengan dinamika DXY, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama. Penguatan dolar AS didorong oleh permintaan sebagai aset aman dalam kondisi ketidakpastian global.
Kabarnya, harga minyak mentah AS melonjak ke level US$80 per barel setelah Iran menghantam kapal tanker dengan rudal. Kontrak WTI mencapai titik tertinggi sejak Juli 2024, dengan peningkatan lebih dari 8% ke US$81,01. Brent crude juga menguat hampir 5% ke US$85,41. Kenaikan harga minyak memicu volatilitas signifikan, terutama di Wall Street yang sempat anjlok 1,000 poin saat pergerakan tersebut terjadi.
Di Asia, pasar saham Korea Selatan tampil dominan dengan kenaikan hingga 9,63% pada Kamis. Indeks KOSPI melonjak setelah presiden Lee Jae Myung mengumumkan rencana paket stabilisasi senilai 100 triliun won (US$68 miliar) untuk mengurangi tekanan dari ketegangan Timur Tengah.
Bursa saham Amerika Serikat terus melambungkan kekhawatiran, dengan Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq mengalami penurunan. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,61% ke 47.954,74, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 0,56% dan 0,26%.
Dari sektor obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun ke 6,56% dari 6,64% sehari sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan peningkatan permintaan investor terhadap surat berharga negara, seiring kecemasan terhadap perlambatan ekonomi global.
Pasar keuangan dalam negeri diprediksi mengalami tekanan signifikan pada perdagangan hari ini. Perkembangan ekonomi China, kekhawatiran terhadap perang AS-Israel, dan kenaikan harga minyak menjadi faktor yang akan memengaruhi dinamika pasar. Investor asing mencatatkan aksi jual net sebesar Rp210 miliar pada perdagangan kemarin, sementara transaksi total mencapai Rp17,9 triliun.
