Gubernur Dedi bidik Jabar jadi provinsi penghasil listrik terbesar
Jawa Barat Bertekad Jadi Pusat Energi Listrik Terbesar Melalui PSEL Legok Nangka
Atapkitadonasi.com – Kabupaten Bandung menjadi saksi sejarah penting bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara resmi menargetkan wilayahnya untuk menjadi provinsi penghasil listrik nomor satu di nusantara. Target ambisius ini diupayakan melalui percepatan pembangunan berbagai fasilitas pembangkit energi terbarukan, dengan fokus khusus pada teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau yang lebih dikenal dengan singkatan PSEL.
Upaya konkret ini ditandai dengan kegiatan groundbreaking untuk proyek PSEL Legok Nangka, yang juga diringi dengan penandatanganan kerja sama pengembangan Waste to Energy di Jawa Barat. Acara yang berlangsung pada hari Rabu tersebut menjadi momentum penting bagi transformasi pengelolaan sampah sekaligus produksi energi bersih di provinsi paling padat penduduknya.
Visi Modernisasi Pengelolaan Sampah dan Energi
Dedi Mulyadi menyampaikan pandangannya bahwa keberadaan fasilitas PSEL Legok Nangka bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Menurutnya, proyek ini akan menjadi katalisator utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan terintegrasi.
“Nah, ini (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik Legok Nangka) akan menjadi salah satu alat pemicu untuk membangun sebuah sistem pengolahan sampah yang modern,” kata Dedi Mulyadi dalam sambutannya.
Gubernur menjelaskan bahwa dampak positif dari proyek ini akan terasa dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pertama, sistem ini mampu menyelesaikan persoalan lingkungan yang selama ini menjadi tantangan besar di daerah perkotaan. Kedua, produksi energi bersih yang dihasilkan bersifat berkelanjutan dan ramah lingkungan. Ketiga, masyarakat akan teredukasi untuk hidup lebih tertib dan bersih.
“Kemudian juga mendidik masyarakat tertib dan hidup bersih. Yang kemudian juga meningkatkan kualitas udara serta meningkatkan kualitas lingkungan. Dan yang berikutnya adalah Jawa Barat itu akan menjadi provinsi penghasil energi listrik terbesar di Indonesia,” ujar Dedi dengan penuh keyakinan.
Realisasi Proyek Setelah Berjalan Panjang
Menurut informasi yang dihimpun, pembangunan PSEL Legok Nangka merupakan kelanjutan dari gagasan yang telah dirintis sejak masa kepemimpinan gubernur sebelumnya. Proyek yang sempat tertunda ini akhirnya berhasil memasuki tahap pelaksanaan setelah seluruh persyaratan administratif dan teknis terpenuhi secara lengkap.
Dedi mengungkapkan bahwa realisasi proyek ini dimungkinkan berkat adanya kepastian investasi, keberadaan investor yang berkomitmen, serta persetujuan pelaksanaan pembangunan setelah memperoleh rekomendasi resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Faktor krusial lainnya adalah kesepakatan harga jual listrik yang memberikan jaminan kepastian investasi bagi semua pihak involved.
Ekspansi PSEL ke Berbagai Wilayah
Jawa Barat telah memiliki fondasi yang kuat dalam diversifikasi sumber pembangkit energi. Provinsi ini telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan pembangkit panas bumi yang akan semakin diperkuat melalui pembangunan PSEL di sejumlah wilayah strategis.
“Pembangkitan ada berapa coba? Pembangkit Listrik Tenaga Surya ada berapa? Geothermal ada berapa, ditambah lagi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang paling banyak nanti di Jabar,” tuturnya.
Menurut Dedi, pengembangan PSEL akan difokuskan di Bandung Raya yang mencakup Garut, kemudian Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Bekasi, dan Kabupaten Bekasi. Tujuannya adalah memperkuat pengelolaan sampah secara regional dan terintegrasi. Selain itu, pemerintah juga akan mendorong pembangunan PSEL di kawasan Cirebon dan sekitarnya untuk mengatasi tingginya timbulan sampah sekaligus memperluas kapasitas energi terbarukan.
“Ke depan tinggal satu lagi yang harus kita dorong adalah di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Itu juga problem, jumlah sampahnya sangat banyak,” ucap Dedi.
Detail Teknis dan Dampak Lingkungan
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, memberikan penjelasan teknis mengenai proyek ini. PSEL Legok Nangka dirancang dengan kapasitas pembangkit sebesar 40,79 megawatt dengan total nilai investasi mencapai 400 juta dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp7,2 triliun.
Masa konstruksi diperkirakan berlangsung selama kurang lebih 41 bulan, dengan Commercial Operation Date yang ditargetkan pada tahun 2029. Selama periode konstruksi tersebut, proyek ini diproyeksikan mampu menyerap sekitar 1.565 tenaga kerja lokal, memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.
Selain berfungsi sebagai solusi atas persoalan sampah perkotaan dan menghasilkan energi bersih, proyek ini juga diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 311.874 ton CO₂ ekuivalen. Angka ini menunjukkan kontribusi signifikan terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.
Regulasi Pendukung Pengembangan
Pemerintah telah memperkuat kerangka regulasi untuk mengakselerasi pengembangan pengolahan sampah menjadi energi. Hal ini ditunjukkan dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Peraturan baru ini menggantikan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Kementerian ESDM juga menindaklanjuti Perpres tersebut dengan memberikan kemudahan perizinan berusaha untuk PSEL, pengolahan sampah menjadi Bioenergi, dan Bahan Bakar Minyak Terbarukan dalam satu klasifikasi lapangan usaha.
Selain itu, penetapan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) memuat rencana pengembangan PSEL dengan total kapasitas sebesar 452,7 MW serta memberikan fleksibilitas kapasitas pengembangan PSEL di luar kuota RUPTL yang telah ditetapkan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Gubernur Dedi bidik Jabar jadi provinsi?
Gubernur Dedi bidik Jabar jadi provinsi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Gubernur Dedi bidik Jabar jadi provinsi matter?
Gubernur Dedi bidik Jabar jadi provinsi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.