Bisnis

Key Strategy: Mentrans: Komoditas unggulan daerah perkuat swasembada pangan

Komoditas Unggulan Daerah: Kunci Penguatan Swasembada Pangan Nasional

Key Strategy – Jakarta – Kunjungan Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara ke demplot pisang Edo Farm di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjadi momentum penting dalam menyoroti peran komoditas lokal terhadap ketahanan pangan. Dalam kunjungan tersebut, sang menteri menekankan bahwa pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi sesuai potensi wilayah dapat memberikan dampak ganda, yaitu memperkuat swasembada pangan sekaligus meningkatkan taraf hidup petani. Pendekatan ini merupakan Key Strategy yang sedang diimplementasikan pemerintah untuk mencapai target ketahanan pangan nasional.

Pernyataan ini disampaikan pada hari Selasa saat Iftitah memberikan keterangan pers mengenai pentingnya diversifikasi pangan. Meskipun beras tetap menjadi komoditas strategis utama, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang belum tergarap optimal. Banyak jenis pangan lain yang berpotensi besar untuk mendukung ketahanan nasional. Key Strategy ini menekankan bahwa setiap daerah memiliki keunggulan komparatif yang dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.

Arahan Presiden sangat jelas, yaitu mewujudkan swasembada pangan. Beras tentu tetap menjadi komoditas utama, tetapi Indonesia juga memiliki banyak komoditas pangan lain yang potensinya sangat besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Iftitah, keberhasilan swasembada pangan tidak hanya diukur dari volume produksi yang meningkat. Aspek penting lainnya adalah kemampuan menciptakan nilai tambah dari hasil pertanian. Ketika nilai tambah tersebut dapat dinikmati petani, maka kesejahteraan mereka akan meningkat secara berkelanjutan. Ketahanan pangan dan kesejahteraan petani harus berjalan seiring, karena jika petani tidak sejahtera, sistem ketahanan pangan tidak akan bertahan lama. Implementasi Key Strategy ini memerlukan koordinasi antar sektor yang solid.

Pisang sebagai Komoditas Strategis

Pisang dinilai memiliki prospek cerah untuk dikembangkan lebih luas. Permintaan pasar baik domestik maupun internasional terus menunjukkan tren positif. Selain itu, potensi budidaya pisang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan transmigrasi yang selama ini menjadi fokus pengembangan pemerintah. Komoditas ini menjadi salah satu pilar Key Strategy dalam diversifikasi pangan nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi pisang nasional pada tahun 2025 mencapai sekitar 9,82 juta ton. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 6,02 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 9,26 juta ton. Dengan posisi sebagai komoditas buah dengan produksi terbesar di Indonesia, pisang memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih intensif. Peningkatan produksi ini sejalan dengan Key Strategy pemerintah untuk meningkatkan ekspor komoditas unggulan.

Iftitah menambahkan bahwa besarnya potensi produksi tersebut harus diimbangi dengan pembangunan ekosistem usaha yang komprehensif. Tujuannya adalah memberikan nilai tambah yang lebih signifikan bagi petani dan masyarakat sekitar. Pengembangan komoditas unggulan tidak cukup hanya dengan meningkatkan volume produksi, tetapi juga memerlukan penguatan kelembagaan petani melalui berbagai mekanisme. Key Strategy ini mencakup aspek hulu hingga hilir dalam rantai nilai pertanian.

Ekosistem Usaha dan Kemitraan

Penguatan kelembagaan petani mencakup berbagai aspek, mulai dari koperasi, pengolahan hasil, penyimpanan, logistik, hingga kepastian pasar melalui kemitraan dengan off-taker. Kementerian Transmigrasi ingin memastikan petani tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memiliki kepastian pasar yang jelas. Pendekatan ini merupakan bagian integral dari Key Strategy yang diterapkan untuk memberdayakan masyarakat transmigrasi.

Ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani. Kalau petaninya tidak sejahtera, ketahanan pangan tidak akan berkelanjutan.

Saat pasar terbuka lebar, harga produk pertanian menjadi lebih baik. Hal ini mendorong investasi bergerak ke sektor pertanian, pendapatan petani meningkat, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan ikut terangkat. Konsep ini menjadi fondasi penting dalam strategi pengembangan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Key Strategy ini juga melibatkan peran swasta dalam pengembangan infrastruktur pendukung.

Strategi Kawasan Transmigrasi

Kementerian Transmigrasi saat ini sedang memetakan potensi komoditas unggulan di 45 kawasan transmigrasi prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Pemetaan ini menjadi dasar penyusunan kebijakan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal yang lebih terarah. Key Strategy ini memastikan bahwa setiap kawasan memiliki fokus pengembangan yang sesuai dengan karakteristik lokalnya.

Sebagai langkah awal, kementerian tengah menjajaki pengembangan sentra pisang di Lampung. Model ini diharapkan menjadi percontohan pengembangan komoditas yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi. Selain itu, kementerian juga memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah daerah untuk memperkuat riset, inovasi, transfer teknologi, serta pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal. Implementasi Key Strategy ini akan dilakukan secara bertahap untuk memastikan keberhasilannya.

Melalui kolaborasi multidimensi tersebut, pemerintah berharap pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Key Strategy ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan ekonomi daerah yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Rizki Ananda

Rizki Ananda adalah kontributor yang menaruh perhatian pada literasi publik seputar amal dan donasi. Di atapkitadonasi.com, ia menyusun artikel yang bersifat informatif dan berbasis kehati-hatian, membantu pembaca mengenali praktik donasi yang aman. Rizki meyakini bahwa berbagi harus dilakukan dengan niat baik dan pemahaman yang benar.