CEO Grab Indonesia: Dunia Usaha Bergerak dalam Lanskap Kian Kompleks
Kondisi Ekonomi Global yang Dinamis
New Policy – Dalam suasana yang penuh perubahan di semester II tahun 2026, Neneng Goenadi, seorang tokoh penting di Grab Indonesia, menyoroti bahwa dunia usaha menghadapi tantangan yang semakin beragam. Pergeseran ekonomi global, kompleksitas politik internasional, serta fluktuasi harga energi menciptakan lingkungan bisnis yang lebih tidak pasti. Menurut Neneng, perusahaan harus bisa beradaptasi dengan cepat dan mengambil keputusan yang lebih strategis di tengah kondisi ini.
“Tantangan saat ini datang dari berbagai arah, seperti ketidakpastian geopolitik, perubahan harga energi, tekanan pada rantai pasok, serta percepatan integrasi teknologi dan AI. Semua faktor ini mengubah cara perusahaan membangun strategi,” ujarnya saat berbicara dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa.
Dalam konteks regional, Neneng menyebutkan bahwa Bank Dunia memproyeksikan penurunan pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik. Angka ini berada di bawah angka sebelumnya, yakni 5 persen, dan turun menjadi 4,2 persen. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menghadapi perubahan internal, tetapi juga tekanan eksternal yang memengaruhi seluruh sektor bisnis.
Perilaku Konsumen dan Teknologi
Ketidakpastian ekonomi tidak hanya memengaruhi perspektif bisnis secara makro, tetapi juga mengubah pola perilaku konsumen. Neneng menegaskan bahwa masyarakat kini lebih selektif dalam memilih layanan, sehingga perusahaan harus mampu merespons dengan cepat dan efisien. “Konsumen saat ini memiliki ekspektasi yang sangat tinggi, dan mereka membutuhkan keandalan dalam setiap inisiatif yang diluncurkan,” tambahnya.
Dalam upaya menjawab dinamika ini, Neneng menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi. Integrasi AI dan otomatisasi, menurutnya, bukan hanya alat inovasi, tetapi juga jalan untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat kontrol internal. “Teknologi harus mendorong perusahaan agar bisa menjalankan operasional dengan lebih terarah, serta menawarkan pengalaman layanan yang konsisten kepada pelanggan,” jelasnya.
Strategi Pertumbuhan yang Lebih Disiplin
Neneng juga menyampaikan bahwa peluang pertumbuhan tetap ada, meski cara mencapainya harus diubah. Dalam situasi yang semakin kompetitif, bisnis perlu mengejar pertumbuhan dengan pendekatan yang lebih cermat. “Tumbuh dengan cara lama kini tidak lagi cukup, karena ruang untuk berkembang sudah terbatas,” katanya.
Menurut Neneng, konsep “scale smarter” menjadi kunci untuk memperkuat posisi perusahaan. Ini berarti menentukan prioritas secara jelas, mengalokasikan sumber daya secara presisi, serta memastikan setiap langkah strategis benar-benar memberi dampak. Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya bertumbuh, tetapi juga mengurangi risiko kompleksitas yang mungkin menghambat proses bisnis.
Untuk mendukung strategi ini, Grab berkomitmen menerapkan “execute faster”. Langkah ini melibatkan transformasi kebijakan menjadi tindakan nyata melalui teknologi. Dengan integrasi AI, data, dan otomatisasi, Grab mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan efisiensi operasional. “Kita perlu memastikan bahwa setiap inisiatif bisnis dijalankan secara real-time, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan cepat,” tambahnya.
Data dari PwC: Ketidakpastian di Segala Aspek
Dalam laporan PwC Global CEO Survey 2026, Neneng menyoroti bahwa kepercayaan CEO di Asia Pasifik terhadap prospek pertumbuhan jangka pendek turun signifikan. Hanya 21 persen dari jumlah CEO yang merasa optimis, dibandingkan 34 persen pada tahun lalu. Fenomena ini menunjukkan bahwa lingkungan bisnis tidak hanya mengalami tekanan ekonomi, tetapi juga perubahan psikologis dalam keyakinan para pemimpin perusahaan.
Ketidakpastian ini terlihat dari berbagai aspek, termasuk dinamika politik global, ketersediaan sumber daya, dan perubahan kebiasaan konsumen. “Tantangan ekonomi global mengakibatkan perusahaan harus lebih siap menghadapi risiko dan mengelola keputusan secara lebih matang,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti ini, Neneng menekankan bahwa bisnis tidak boleh terhenti. Justru, perusahaan harus memanfaatkan kesempatan dengan lebih bijak. “Meski kondisi ekonomi sedang berubah, kita tetap harus tumbuh. Kuncinya adalah berpikir tajam dan menjalankan tindakan yang disiplin,” jelasnya.
Kesiapan untuk Dinamika Global
Perusahaan-perusahaan di Indonesia, termasuk Grab, diwajibkan untuk menyesuaikan diri dengan percepatan transformasi digital. Neneng menambahkan bahwa AI tidak hanya menjadi bagian dari inovasi, tetapi juga alat untuk meningkatkan visibilitas bisnis dan memastikan keandalan layanan. “Kita harus memastikan bahwa teknologi benar-benar membantu tim kerja dan memberikan nilai tambah kepada konsumen,” ujarnya.
Selain itu, Neneng menekankan pentingnya kecepatan eksekusi dalam menghadapi perubahan pasar. Dengan menerapkan strategi yang lebih disiplin, perusahaan bisa meminimalkan dampak negatif dari ketidakstabilan ekonomi. “Menjalankan bisnis di lanskap yang kian kompleks membutuhkan kemampuan untuk bertindak secara cepat dan memperkuat komunikasi internal,” tambahnya.
Peran Teknologi dalam Pertumbuhan Berkelanjutan
Teknologi berperan penting dalam membantu bisnis mempercepat proses dan mengurangi biaya. Neneng menyebutkan bahwa AI dan otomatisasi tidak hanya mengubah cara perusahaan beroperasi, tetapi juga menambah efisiensi dalam manajemen sumber daya. “Dengan teknologi, kita bisa mempercepat keputusan, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan kualitas layanan kepada pengguna,” ujarnya.
Neneng juga memprediksi bahwa keberhasilan bisnis di masa depan bergantung pada kemampuan untuk menggabungkan inovasi teknologi dengan kebijakan yang tepat. “Dunia usaha harus bisa mengadaptasi perubahan dengan cepat, serta memastikan bahwa setiap inisiatif tidak hanya menciptakan nilai, tetapi juga memberikan hasil yang nyata,” pungkasnya.
Dalam menghadapi tantangan ekonomi global, Grab Indonesia terus berupaya membangun strategi yang tangguh. Dengan memperkuat kerja tim, mengoptimalkan teknologi, dan menjalankan kebijakan yang disiplin, perusahaan percaya bahwa pertumbuhan tetap bisa dicapai. “Kita harus belajar untuk bertumbuh dengan cara yang lebih cerdas, agar tidak tertinggal dalam era yang terus berubah,” tutup Neneng dalam pidatonya di forum tersebut.