Dunia

Feature: Petani Gaza berjuang garap sisa-sisa lahan pertanian

CjkinzN000008_20260919_CBMFN0A001
Foto : Fitri Putri - atapkitadonasi.com
Daftar Isi
  1. Petani Gaza Bertahan di Tengah Menyusutnya Lahan dan Sarana Produksi
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Petani Gaza Bertahan di Tengah Menyusutnya Lahan dan Sarana Produksi

Atapkitadonasi.com – Di Jalur Gaza, pekerjaan di ladang kini berlangsung di tengah risiko yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ruang tanam semakin terbatas, infrastruktur pertanian rusak, dan biaya untuk memperoleh kebutuhan dasar terus meningkat. Namun bagi banyak keluarga, bercocok tanam tetap menjadi satu-satunya cara untuk mempertahankan penghasilan dan pasokan pangan.

Mohammed Al-Dahdouh, 55 tahun, menggarap ladang kentang seluas tujuh dunam atau sekitar 0,7 hektare di dekat “Garis Kuning”. Area demarkasi militer yang terbentuk dalam kesepakatan gencatan senjata itu memisahkan wilayah penempatan pasukan Israel dari kawasan lain di Gaza. Lahan yang masih bisa ia kelola tersebut jauh lebih kecil dibanding lebih dari 40 dunam, atau empat hektare, yang dahulu menjadi sumber penghidupannya.

Sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023, pertanian Gaza menghadapi tekanan berlapis. Air, listrik, bahan bakar, benih, pupuk, serta perlengkapan untuk mengolah tanah sulit didapat atau dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kondisi itu membuat setiap musim tanam penuh ketidakpastian, terutama bagi petani yang harus bekerja dekat kawasan rawan serangan.

“Saya akan tetap berjuang untuk bertani dan mencari penghasilan demi anak-anak saya,” ujar Al-Dahdouh.

Ayah enam anak itu memilih tidak meninggalkan tanahnya. Ketika tembakan artileri mendekat, ia mencari perlindungan. Saat situasi kembali mereda, ia kembali merawat kentang yang ditanamnya dan menyiapkan lahan untuk tomat pada musim berikutnya. Keteguhan itu memperlihatkan bagaimana lahan kecil yang tersisa menjadi tumpuan hidup bagi keluarga-keluarga petani di Gaza.

Lahan keluarga hilang, pekerjaan ladang tetap berjalan

Kisah serupa terlihat di Beit Lahia, Gaza utara. Ibrahim Abu Samhadana, 42 tahun, kini tinggal di sebuah tenda yang berdiri di dekat reruntuhan rumahnya. Petani ini menanam stroberi, zukini, dan terong, meski lahan keluarga seluas 22 dunam atau 2,2 hektare telah hilang akibat perang.

Abu Samhadana, yang juga memiliki enam anak, tetap mencoba menghidupkan kegiatan tani meski skala usaha keluarganya telah berubah drastis. Bagi dirinya, bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan keterampilan yang tumbuh bersama keluarganya sejak masa kecil.

“Perang benar-benar telah menghancurkan sektor pertanian,” kata Abu Samhadana.

“Saya bertekad untuk tetap bertani karena itulah mata pencaharian yang kami kenal sejak kecil,” ujarnya.

Dalam keadaan seperti ini, kerusakan pertanian tidak hanya berarti hasil panen berkurang. Ketika tanah, saluran irigasi, peralatan, dan tempat tinggal terdampak bersamaan, petani harus memulihkan banyak hal sebelum dapat kembali menghasilkan pangan. Pilihan tanaman pun dipengaruhi oleh ketersediaan air, bahan bakar, tenaga kerja, dan akses aman menuju ladang.

Musim jambu biji yang kian sempit

Di Gaza selatan, tekanan tersebut tampak pada produksi jambu biji di Khan Younis. Musim buah ini biasanya berlangsung dari September hingga Desember dan memiliki arti penting bagi petani serta konsumen setempat. Namun lahan Hani Al-Qudra menyusut tajam, dari sekitar 1.350 dunam atau 135 hektare sebelum perang menjadi hanya sekitar 200 dunam, setara 20 hektare.

Pengurangan area tanam itu juga diikuti berkurangnya kesempatan kerja. Sebelumnya, kebun Al-Qudra mempekerjakan sekitar 100 orang. Kini jumlahnya tinggal 15 orang. Perubahan tersebut menunjukkan dampak pertanian terhadap mata pencaharian di luar keluarga pemilik lahan, termasuk para pekerja yang mengandalkan musim panen untuk memperoleh pendapatan.

“Jambu biji merupakan salah satu tanaman terpenting di Jalur Gaza, baik penduduk maupun petani bergantung pada tanaman ini untuk kebutuhan pangan dan peluang kerja,” kata Al-Qudra.

Akibat terbatasnya produksi, buah yang dahulu mudah dijumpai pada musimnya kini menjadi lebih sulit dibeli. Ahmed Al-Najjar, 45 tahun, ayah dari tiga anak yang ditemui di pasar Khan Younis, merasakan perubahan itu secara langsung. Jambu biji yang sebelumnya termasuk buah musiman dengan harga lebih terjangkau kini berada di luar kemampuan banyak rumah tangga.

“Saya sedih ketika anak-anak saya memintanya, dan saya tidak mampu membelinya,” kata Al-Najjar.

Situasi pasar tersebut memperlihatkan hubungan langsung antara kerusakan di kebun dan tekanan pada konsumsi keluarga. Ketika hasil yang masuk ke pasar menyusut, pilihan pangan segar bagi warga ikut terbatas. Bagi keluarga dengan penghasilan yang telah terdampak konflik, kenaikan harga produk pertanian menjadi beban tambahan.

Kerusakan irigasi dan ancaman terhadap hasil panen

Mohammed Abu Shamala, spesialis pertanian, menyebut area budi daya jambu biji di Gaza telah merosot dari sekitar 1.700 dunam atau 170 hektare sebelum perang menjadi kurang dari 100 dunam, atau 10 hektare. Angka ini menggambarkan besarnya penyempitan basis produksi untuk salah satu tanaman penting di wilayah tersebut.

Kerusakan tidak berhenti pada luas lahan. Sistem irigasi yang terdampak serta meningkatnya kadar garam air telah menurunkan mutu panen dan membatasi penanaman sejumlah varietas. Air yang semakin asin dapat menyulitkan tanaman tumbuh secara optimal, sementara perbaikan jaringan irigasi membutuhkan bahan, energi, dan kondisi keamanan yang belum tentu tersedia.

Penilaian Organisasi Pangan dan Pertanian atau FAO yang dirilis pada Agustus menunjukkan hanya sekitar 448 hektare lahan pertanian Gaza yang masih dapat diakses dan tidak mengalami kerusakan. Jumlah tersebut kira-kira 3 persen dari keseluruhan lahan pertanian di wilayah itu.

Otoritas pertanian Gaza yang dikelola Hamas memperkirakan kerugian sektor pertanian mencapai sekitar 3,49 miliar dolar AS. Dengan nilai tukar yang disebutkan sebesar 1 dolar AS setara Rp17.753, kerugian itu mencerminkan dampak ekonomi yang sangat besar pada sektor yang sebelum perang menyumbang sekitar 10 persen bagi perekonomian Gaza.

Sebelum konflik, pertanian menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 560.000 orang. Kini, upaya menanam kentang, sayuran, stroberi, terong, dan jambu biji menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan pekerjaan, pangan, dan pengetahuan bertani yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi Al-Dahdouh, ladang tujuh dunam yang masih tersisa bukan sekadar bidang tanah. Di sana ada tanaman kentang yang harus dijaga, rencana menanam tomat, dan harapan untuk memenuhi kebutuhan enam anaknya. Di tengah penyusutan lahan dan ketidakpastian yang terus membayangi, para petani Gaza tetap berupaya menjaga kehidupan sektor pertanian yang belum sepenuhnya hilang.

Frequently Asked Questions

What is Feature?

Feature is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Feature matter?

Feature matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Fitri Putri - atapkitadonasi.com

Fitri Putri - atapkitadonasi.com

Fitri Putri adalah penulis yang mengangkat tema kepedulian sosial, zakat, dan inspirasi kebaikan sehari-hari. Melalui pendekatan yang humanis dan membumi, Fitri menyajikan konten yang mendorong pembaca untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Ia aktif menyuarakan pentingnya berbagi secara konsisten, tidak hanya saat momentum tertentu.